Kompas.com - 30/04/2013, 09:22 WIB
|
EditorHertanto Soebijoto

JAKARTA, KOMPAS.com — Banyak pihak yang menyayangkan atas tertangkapnya Komandan Pangkalan Angkatan Laut (Danlanal) Kolonel TNI ASB dalam kasus penyalahgunaan sabu di sebuah kamar hotel di Semarang, Jawa Tengah. Pasalnya, perwira menengah tersebut dikenal sebagai pribadi yang cerdas dan karier gemilang.

"ASB ini hebatnya dua kali menjabat sebagai Danlanal, di Yogyakarta dan Semarang. Kalau bukan orang berprestasi tidak mungkin," ujar Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut Laksamana Pertama Untung Suropati kepada wartawan di Badan Narkotika Nasional (BNN), Senin (29/4/2013) malam.

Di kesatuan TNI AL, kata Untung, ASB yang memiliki dua orang anak tersebut tergolong cerdas dalam mengungkapkan pemikirannya. Tak jarang, pria yang juga salah satu staf pribadi Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) tersebut kerap dimintai pertimbangan demi menentukan suatu kebijakan.

"Termasuk orang yang think-tank di angkatan laut. Dia pemikir yang mengonsep bagaimana ke depan. Itu salah satunya dia," kata Untung.

Informasi yang dihimpun Kompas.com, ASB mengenal narkotika jenis sabu sekitar tahun 1994. Saat itu, ASB masih berpangkat kapten. Namun, penyalahgunaan sabu oleh ASB kala itu hanya bersifat rekreasional atau sekali-sekali. Sempat berhenti mengonsumsi sabu sekitar satu tahun, ASB pun kembali terjerat barang haram tersebut sekitar tahun 2010. Namun, frekuensi penyalahgunaan mulai tinggi. Tugasnya yang padat setiap harinya menjadi alasan ASB menyalahgunakan sabu itu.

Untung mengatakan, proses penyidikan ASB selanjutnya akan dilakukan secara terpadu dari Polisi Militer TNI Angkatan Laut (Pom TNI AL) dengan BNN. Proses rehabilitasi akan dilakukan dengan BNN, sementara proses penyidikan selanjutnya akan dilakukan oleh Pom TNI AL.

Pantauan Kompas.com, ASB dibawa ke Pom TNI AL, Senin sekitar pukul 21.30 WIB. Dengan dijemput mobil Pom TNI AL berwarna putih dan dikawal tiga orang Provost TNI, ASB yang mengenakan kemeja putih, jas hitam, celana biru tua, serta sebuah tas itu tampak santai masuk ke mobil.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

ASB sempat kesal dengan para wartawan yang memburu fotonya. Dia membanting pintu mobil keras-keras dan langsung menutup setengah wajahnya dengan tas kerjanya, lalu mobil Pom TNI AL pun melaju meninggalkan BNN.

Sebelumnya diberitakan, BNN meringkus tiga orang pria aparat negara dan satu orang wanita warga sipil di Semarang, Jawa Tengah, dalam kurun 25 Februari 2013 hingga 29 April 2013. Pertama, BNN menangkap pengedar narkotika jenis sabu berinisial H yang merupakan anggota Detasemen Markas Polda Jawa Tengah dengan pangkat inspektur satu. Kedua, BNN menciduk pengedar lainnya, yakni RS alias MM, yang merupakan anggota Direktorat Intelkam Polda Jawa Tengah dengan pangkat brigadir.

Berdasarkan pengembangan keduanya, BNN lalu menciduk seorang pria berinisial ASB yang tengah mengonsumsi sabu di kamar 1003 Hotel Ciputra, Semarang, Jawa Tengah. Tak disangka, ASB ternyata adalah perwira TNI Angkatan Laut, yakni Komandan Pangkalan Angkatan Laut (Danlanal) berpangkat kolonel. Di kediaman RS, BNN pun turut menciduk wanita kekasih RS yang diduga terlibat sindikat narkoba.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.