Kompas.com - 01/05/2013, 19:52 WIB
|
EditorLaksono Hari W

JAKARTA, KOMPAS.com — Lurah Warakas Mulyadi, yang tengah menjadi buah bibir atas keberaniannya melawan kebijakan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo untuk tidak melaksanakan seleksi jabatan terbuka, hari ini tidak tampak di tempat ia bekerja di Kelurahan Warakas, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Saat Kompas.com mencoba mendatangi kantornya sejak pagi hari, Mulyadi sudah tidak berada di tempat. Hanya ada Sekretaris Kelurahan Warakas Deny Sarifudin yang menyambut warga untuk mendapatkan pelayanan publik.

Di dalam gedung yang didominasi warna merah muda dan krem itu tampak kegiatan seperti biasanya. Warga silih berganti meminta pelayanan administrasi, seperti pembuatan surat keterangan tidak mampu (SKTM), pembuatan kartu keluarga, pengurusan kartu tanda penduduk (KTP), dan pengurusan KTP elektronik.

Deny mengatakan bahwa Mulyadi sedang tidak berada di tempat dan sedang tidak ingin diganggu. "Tadi saya telepon Pak Lurah dan beliau sedang di luar kantor, tidak tahu ke mana. Hari ini sepertinya dia tidak mau diganggu," kata Deny di Kelurahan Warakas.

Wartawan yang ingin mewawancarai Mulyadi satu per satu meninggalkan lokasi. Sementara itu, di dalam gedung, aparat kelurahan sibuk melayani warga. Di luar gedung, tampak beberapa warga yang membicarakan perseteruan antara Jokowi dan Mulyadi. Sebagian warga tampak mengobrol di bawah pohon rindang, warga lainnya tampak menyerukan berbagai dukungannya untuk pimpinan mereka.

"Wah, bagaimana mau diganti. Memangnya Pak Mulyadi itu anak kemarin sore? Dia kan sudah lama sekali mengabdi di sini," kata salah seorang warga. Warga lain tampak mengamini pernyataan tersebut.

Hingga kantor kelurahan ditutup pada pukul 16.00 WIB, Mulyadi tak tampak di tempat tersebut. Tak ada tanda-tanda ia akan bekerja di kantornya hari ini. Wartawan pun berulang kali mencoba menghubungi Mulyadi via telepon genggam dan pesan pendek, tetapi tak ada respons atas panggilan tersebut.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ketika wartawan mencoba mengonfirmasi kembali kepada Deny, ia menjawab singkat dan masih serupa dengan jawabannya pagi tadi. "Hari ini Pak Lurah tidak mau diganggu. Karena setelah kejadian itu, banyak sekali media yang datang dan beliau jadi bingung," ujarnya.

Mulyadi menolak mengikuti proses seleksi promosi terbuka jabatan lurah atau yang biasa dikenal dengan lelang jabatan. Saat proses tes online uji kompetensi bidang, Sabtu (27/4/2013), dia tak mengikuti ujian tersebut.

Mulyadi mengancam akan mengajukan uji materi atas lelang jabatan itu ke Mahkamah Konstitusi. Ia menilai pelaksanaan lelang jabatan lurah dan camat itu tidak sesuai dengan peraturan dan perundangan yang ada. Menurut Mulyadi, terdapat 80 peserta uji kompetensi, mulai dari staf lurah sampai camat, yang tidak ikut ujian tersebut pada Sabtu dan Minggu lalu. Dia pun sudah berkoordinasi untuk menolak proses uji kompetensi tersebut.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.