Kompas.com - 03/05/2013, 21:43 WIB
|
EditorLaksono Hari W

JAKARTA, KOMPAS.com — Pengawas Rumah Susun (Rusun) Marunda, Nathanael, mengaku telah mengetahui keterlibatan Lurah Warakas Mulyadi dalam kepemilikan unit Rusun Marunda sejak dua bulan lalu. Mulyadi memiliki unit rusun itu sejak tahun 2009 dengan sistem kontrak per sembilan bulan dengan sewa Rp 1,25 juta per bulan.

"Per sembilan bulan, penyewa membayar Rp 1,25 juta. Coba saja dikalikan sembilan kali jadi berapa. Penjahat enggak kalau kayak begini namanya?" kata Nathanael di Balaikota Jakarta, Jumat (3/5/2013).

Nathanael mengatakan, sebenarnya Mulyadi juga memiliki dua unit hunian di blok lainnya, tepatnya di Blok Bandeng. Namun, hunian tersebut tidak menggunakan nama Mulyadi, tetapi menggunakan nama keluarganya. Ia mengatakan, unit rusun milik Mulyadi sudah akan "diputihkan" sejak dua sampai tiga bulan lalu. Namun, upaya itu mendapat respons kurang menyenangkan dari Mulyadi dan lingkungan yang sengaja menutupi hal tersebut.

Kini, kepemilikan unit Rusun Marunda atas nama Mulyadi telah dicabut oleh Dinas Perumahan DKI Jakarta. Kepemilikan rusun itu kini telah "diputihkan" dan diserahkan untuk warga DKI yang sesuai dengan kriteria. Dinas Perumahan DKI menyerahkan unit rusun milik Mulyadi kepada Suhardianto dengan alasan telah memenuhi syarat, seperti ber-KTP DKI, berpenghasilan rendah, dan belum memiliki rumah.

"Kami sudah lakukan riset, penyewa rusun Pak Mulyadi ini orang yang memenuhi syarat, kami putuskan ia (Suhardianto) berhak memiliki rusun tersebut," ujar Kepala Dinas Perumahan dan Gedung Pemprov DKI Yonathan Pasodung.

Kepala Unit Pengelola Teknis (UPT) Rumah Susun Wilayah I Dinas Perumahan DKI Jakarta Jati Waluyo membenarkan bahwa Mulyadi memiliki satu unit kamar di Rusun Marunda atas namanya dan disewakan kepada orang lain. Satu unit rusun yang disewa Mulyadi disewakan kembali kepada orang lain bernama Tio. Harga sewa yang dia kenakan juga lebih tinggi daripada harga sewa asli rusun itu.

Unit rusun atas nama Mulyadi berada di lantai satu, tepatnya di lantai 1.20 Blok Pari, Klaster A Marunda. Harga sewa per unit Rusun Marunda di lantai satu yang paling mahal seharusnya Rp 371.000 per bulan. Namun, rusun itu "dikemas" ulang oleh Mulyadi sehingga menjadi kamar sewaan dengan harga Rp 1,2 juta per bulan. Dalam perjanjian sewa dengan UPT Rumah Susun, Mulyadi menggunakan alamat Jalan Semper Plumpang, Rawa Badak Selatan, Koja, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Alamat itu sama persis dengan alamat rumah yang ditempatinya sekarang.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Mulyadi diketahui menyewakan kembali unit rusun itu sejak 2009. Penyewa unit itu rata-rata adalah mahasiswa yang kuliah di kampus swasta di dekat Kelurahan Warakas. Menanggapi informasi ini, Mulyadi membenarkan bahwa dia memang menyewa satu unit rusun itu, tetapi ia membantah telah menyewakannya kembali.

Baca tentang


    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X