Kompas.com - 05/05/2013, 09:02 WIB
|
EditorAna Shofiana Syatiri

JAKARTA, KOMPAS.com — Malang nian nasib 34 buruh yang bekerja di pabrik pengolahan limbah menjadi panci aluminium, Kampung Bayur Opak, RT 03 RW 06, Lebak Wangi, Sepatan Timur, Tangerang, Banten. Iming-iming janji manis oleh mandor dan bos untuk meningkatkan taraf ekonomi dan kehidupan, sama sekali tak terwujud. Mereka malah diperbudak.

Arifudin (21) serta lima orang rekan berangkat dari kampungnya di Lampung Utara pada pertengahan bulan Februari 2013 silam. Seorang sponsor bernama Taufik yang dikenalnya melalui mulut ke mulut para saudaranya menjanjikan kerja yang pasti dengan gaji serta fasilitas hidup yang layak.

"Pas sampai tempat kerjanya saya kaget. Apa yang dijanjikan beda sekali," ujarnya kepada Kompas.com di sela-sela pemeriksaannya di Polresta Tangerang, Sabtu (4/5/2013) siang.

Arifudin mengaku bekerja mulai pukul 06.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB. Dia dan teman-temannya mendapat istirahat hanya saat makan siang. Namun, untuk menjalankan shalat lima waktu, dia mengaku tidak diperkenankan oleh bos dan empat mandornya. Mandor selalu memberikan tugas lain begitu buruh telah selesai melakukan tugasnya.

Seusai bekerja hampir seharian, mereka tidak diperkenankan untuk bersosialisasi di luar pabrik. Mereka langsung tidur di salah satu ruangan semi permanen seluas sekitar 8x6 meter persegi, dekat ruang kerja. Ruangan itu tanpa kasur dan hanya sebagian yang terdapat tikar. Dinding tampak jebol di beberapa bagian dan udara lembab tak nyaman untuk bernafas.

"Teman-teman jarang mandi juga. Kalau pun mandi pun cuma pakai air doang, kadang-kadang malah pakai sabun colek doang. Banyak yang kena kudis, kurap, gatal-gatal, " tutur Arifudin.

Disekap, tak digaji, dan dipukul

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Irwan (17), salah satu buruh yang berada di pabrik itu sejak November 2012 mengungkapkan, ia diperlakukan layaknya budak. Tak boleh bersosialisasi dengan lingkungan selain pekerjaan. Gaji yang menjadi haknya pun tidak kunjung dibayarkan sejak pertama menginjakkan kaki di pabrik, serta mendapat tindak kekerasan.

Tak hanya Irwan dan Arifudin, puluhan buruh lain yang bekerja di pabrik tersebut pun mendapat hal serupa dari sang pemilik, yakni Yuki Irawan (41) dan empat orang mandor, yakni Sudirman (34), Nurdin (34), Jaya alias Mandor (41), dan tangan kanan Yuki, Tedi Sukarno (34).

"Kami takut mau protes. Soalnya si bos nyewa anggota Brimob. Katanya kalau melawan atau kabur, kaki kita ditembak," ujar remaja malang itu sambil memegangi telinga kirinya yang memar akibat dipukul oleh salah seorang mandornya.

Halaman:
Baca tentang


    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.