Proyek Terganjal Perpres

Kompas.com - 07/05/2013, 04:24 WIB
Editor

Madiun, Kompas - Proyek monorel Bekasi Timur-Cawang, Cawang-Cibubur, dan Cawang- Kuningan terganjal peraturan presiden. Aturan untuk mempercepat proses pembangunan proyek itu belum ada. Perpres itu sekaligus menjadi payung hukum yang memangkas birokrasi perizinan antarwilayah tempat beroperasinya monorel.

”Tanpa perpres, pembangunan baru bisa dimulai satu tahun lagi. Perpres ini untuk mempercepat dimulainya proyek pengerjaan monorel karena akan beroperasi di wilayah yang melewati batas provinsi,” tutur Direktur Utama PT Adhi Karya Kiswo Darmawan seusai peluncuran produk contoh monorel di Madiun, Jawa Timur, Senin (6/5).

Setelah perpres keluar, kata Kiswo, pembangunan monorel 2,5 tahun. Sejalan dengan keinginan itu, konsorsium badan usaha milik negara (BUMN) ini, dipimpin Adhi Karya, meluncurkan produk contoh monorel untuk penumpang dan barang di Madiun yang dipamerkan di bengkel PT Industri Kereta Api (Inka), Madiun.

Gerbong penumpang sesuai desain awal akan beroperasi setiap lima menit sekali di setiap stasiun sehingga butuh 98 unit kereta. Satu gerbong monorel berkapasitas 155 orang pada kondisi normal, dan 201 orang pada kondisi puncak,

36 orang di antaranya duduk. Produk monorel itu didesain, digagas, dan dibuat tenaga ahli Indonesia.

Kesepakatan bersama

Menteri BUMN Dahlan Iskan berharap pemerintah sebagai pemegang otoritas moda transportasi antarwilayah segera menerbitkan payung hukum. Legalitas pemerintah penting artinya untuk mempercepat menyelesaikan persoalan kemacetan di Ibu Kota dan sekitarnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sambil menunggu payung hukum dari pemerintah, delapan BUMN mulai melakukan hitungan bisnis dan merintis kontrak kerja sama. BUMN yang dimaksud antara lain Adhi Karya, PT Jasa Marga, PT Telekomunikasi Indonesia, PT Lembaga Elektronik Negara, PT Angkasa Pura II, PT Pelabuhan Indonesia III, PT Inka, dan Bank Mandiri. Semua BUMN itu siap kerja sama dalam hal tenaga ahli, pendanaan, ataupun material proyek.

Tidak hanya melayani penumpang umum, konsorsium BUMN ini juga berencana membangun monorel di Bandara Soekarno- Hatta, Tangerang, menggantikan shuttle bus yang sudah ada. Monorel di Tanjung Perak beroperasi otomatis menggantikan truk pengangkut peti kemas.

Dana investasi proyek ini diperkirakan Rp 12 triliun, dengan rincian Rp 7 triliun untuk monorel Bekasi Timur-Cawang, Cawang-Cibubur, dan Cawang-Kuningan; Rp 2,5 triliun monorel Bandara Soekarno-Hatta; dan Rp 2,5 triliun untuk proyek monorel Pelabuhan Tanjung Perak.

Menurut Direktur Utama PT Inka Agus Purnomo, pembangunan proyek ini merupakan momentum kebangkitan bagi BUMN untuk memproduksi monorel. (NIK/NDY)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.