Bos Kuali Bayar Makelar Pencari Buruh Per Kepala

Kompas.com - 08/05/2013, 13:47 WIB
|
EditorAna Shofiana Syatiri

JAKARTA, KOMPAS.com — Bos kuali Yuki Irawan (41) membayar per kepala setiap buruh yang didapat oleh dua makelar pencari tenaga kerja. Semakin banyak yang berhasil dibawa, semakin banyak pula pendapatan mereka.

Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto mengatakan, beberap kali Yuki memang membutuhkan jasa kedua orang tersebut untuk mendapatkan tenaga kerjanya.

"Jadi kalau ditelepon si pencari tenaga kerja, ada calon tenaga kerja kemudian YI merasa dia butuh, ya oke kirimkan ke saya saja. Yang di sana (P dan U) minta ongkos, ditransfer ongkosnya, nanti (calon tenaga kerja) diantar ke rumah (YI)," ujar Rikwanto di Mapolda Metro Jaya, Rabu (8/5/2013).

Serah terima tenaga kerja, sambung Rikwanto, bisa dilakukan baik di rumah Yuki ataupun di gang dekat rumah. Setelah itu, Yuki menghitung dengan memberikan bayaran per kepala tenaga kerja yang didapat P dan U.

Selain itu, kata Rikwanto, P dan U bukan hanya menyalurkan kepada Yuki, tapi juga beberapa pihak lain. Cara merekrutnya, tidak mesti kepada orang yang dikenal P atau U. Keduanya sudah memiliki cara tersendiri memilih siapa tenaga kerja yang mau diajak bekerja.

Setelah mendapatkan calon tenaga kerja, mereka tinggal mengontak siapa pihak yang mau menampung atau menerima tenaga kerja yang mereka dapatkan. Setelah disepakati, pihak yang mau menerima tinggal mengirimkan ongkos kepada P dan U.

Rikwanto mengatakan, teknis pencarian tenaga kerja oleh P dan U bisa dilakukan dengan bermacam-macam cara. Misalnya dengan menawarkan suatu lowongan pekerjaan di Jakarta.

"Tinggal ngomongnya, nanti kerja apa, gajinya berapa, terus tidurnya di mana, terus majikannya seperti apa. Penawaran ini kan iming-iming," kata Rikwanto.

Sementara itu, dari pengakuan buruh yang diterima bekerja di pabrik kuali milik Yuki, penghasilan yang diberikan sebesar Rp 600-700 ribu. Adapun untuk bayaran P dan U, masih didalami polisi. "Yang itu kita masih dalami. Yang jelas, ongkosnya diberikan YI," ujarnya.

Hingga kini, polisi belum mengetahui keberadaan dua orang pencari tenagan kerja yang bekerja kepada YI. Tidak menutup kemungkinan dua orang itu ada dugaan keterlibatan pelanggaran hukum dan turut menjadi tersangka dalam perbuatan yang dilakukan YI.

"Bisa saja, itukan tahap ke tiga. Tahap ketiga nanti kita mencari rekrutmen prosesnya seperti apa. Walaupun P dan U ini belum jelas siapa. Karena dari buruh ini sendiri belum tahu mereka ini siapa," ujar Rikwanto.

"Kita perlu pendalaman ya. Pertama keterangan calon korban bagaimana proses dia direkrut, bagaimana sampai yakin dan mau kemudian sampai diterima oleh YI kemudian sampai jadi pekerja, nah itu prosesnya bagaimana," tutup Rikwanto.

Baca tentang


    Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Polemik Pasar Mayestik, Pasar Jaya Diminta Tidak Tutupi Informasi Pedagang Terpapar Covid-19

    Polemik Pasar Mayestik, Pasar Jaya Diminta Tidak Tutupi Informasi Pedagang Terpapar Covid-19

    Megapolitan
    Penumpang KRL Tak Tertib hingga Rusak Pagar, PT KCI Tutup Akses Selatan Stasiun Tanah Abang

    Penumpang KRL Tak Tertib hingga Rusak Pagar, PT KCI Tutup Akses Selatan Stasiun Tanah Abang

    Megapolitan
    Ledakan di Tempat Laundry Bintaro, Diduga akibat Tabung Gas Bocor

    Ledakan di Tempat Laundry Bintaro, Diduga akibat Tabung Gas Bocor

    Megapolitan
    Jasa Marga Targetkan Tol Kunciran-Bandara Soetta Beroperasi Akhir 2020

    Jasa Marga Targetkan Tol Kunciran-Bandara Soetta Beroperasi Akhir 2020

    Megapolitan
    Bangunan Liar di Sekitar Danau Sunter Dibongkar untuk Bikin Jogging Track

    Bangunan Liar di Sekitar Danau Sunter Dibongkar untuk Bikin Jogging Track

    Megapolitan
    Kasus Covid-19 di Sunter Agung Tinggi, Lurah: Beberapa Tertular dari Lingkungan Kerja

    Kasus Covid-19 di Sunter Agung Tinggi, Lurah: Beberapa Tertular dari Lingkungan Kerja

    Megapolitan
    Masa Pandemi, Siswa SD dan SMP di Kota Tangerang Dapat Pelajaran Bercocok Tanam dan Wirausaha

    Masa Pandemi, Siswa SD dan SMP di Kota Tangerang Dapat Pelajaran Bercocok Tanam dan Wirausaha

    Megapolitan
    Struktur Bata Berbentuk Lorong yang Diduga Bangunan Kuno Ditemukan di Proyek DDT Stasiun Bekasi

    Struktur Bata Berbentuk Lorong yang Diduga Bangunan Kuno Ditemukan di Proyek DDT Stasiun Bekasi

    Megapolitan
    3 Tersangka Pelaku Penembakan yang Incar Pengendara di Tangsel Ditangkap

    3 Tersangka Pelaku Penembakan yang Incar Pengendara di Tangsel Ditangkap

    Megapolitan
    Tangerang Raya, Bekasi, dan Bogor Masuk Zona Oranye, Apa Artinya?

    Tangerang Raya, Bekasi, dan Bogor Masuk Zona Oranye, Apa Artinya?

    Megapolitan
    Polisi Tunggu Kajian Pemprov DKI soal Wacana Ganjil Genap 24 Jam

    Polisi Tunggu Kajian Pemprov DKI soal Wacana Ganjil Genap 24 Jam

    Megapolitan
    JPU Akan Hadirkan 3 Saksi Memberatkan untuk Putra Siregar

    JPU Akan Hadirkan 3 Saksi Memberatkan untuk Putra Siregar

    Megapolitan
    Polisi Akan Panggil Selegram Berinisial HB dan GD yang Bantu Promosikan Klinik Dokter Gigi Gadungan

    Polisi Akan Panggil Selegram Berinisial HB dan GD yang Bantu Promosikan Klinik Dokter Gigi Gadungan

    Megapolitan
    Pemerkosa di Bintaro Akui Batalkan Niat Mencuri karena Tak Tahan Nafsu dengan Korban

    Pemerkosa di Bintaro Akui Batalkan Niat Mencuri karena Tak Tahan Nafsu dengan Korban

    Megapolitan
    Margo City: Giant Sudah Lapor Satgas soal Pegawai Terindikasi Positif Covid-19

    Margo City: Giant Sudah Lapor Satgas soal Pegawai Terindikasi Positif Covid-19

    Megapolitan
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X