Kompas.com - 10/05/2013, 15:30 WIB
EditorTri Wahono

JAKARTA, KOMPAS.com — Rumah milik tersangka dugaan suap impor daging sapi, Ahmad Fathanah, di Perumahan Pesona Khayangan, Depok, yang disita petugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jumat (10/5/2013), ternyata belum lunas.

Hal tersebut dijelaskan Kenang PH, pihak penjual dan arsitek perumahan mewah tersebut, saat petugas KPK datang ke lokasi untuk melakukan penyitaan.

Kenang mengatakan bahwa Ahmad Fathanah membayar pertama kali Rp 10 juta dan angsuran beberapa kali. Dari harga Rp 5,8 miliar yang disepakati, Ahmad Fathanah baru membayar Rp 3,8 miliar.

"Sisa angsuran masih sekitar Rp 2 miliar," ujar Kenang.

Karena itu, pihaknya sempat meminta kepada KPK untuk tidak melakukan penyitaan terhadap rumah tersebut. Ia meminta hak kekurangan pembayaran atas rumah tersebut.

"Kita sudah ajukan permohonan tidak pasang plang (sita) karena rumah ini akan kami jual lagi," ujar Kenang PH. Nantinya, lanjut Kenang, jika rumah tersebut terjual, pihaknya hanya akan mengambil hak milik mereka, sedangkan sisanya akan diberikan kepada KPK.

Namun, petugas KPK tetap memasang plang penyitaan dibantu petugas keamanan perumahan. (Bahri Kurniawan)

Baca juga:
Kisah KPK Memburu Mobil-mobil Mewah Terkait Luthfi Hasan
Soal Mobil yang Akan Disita KPK, Luthfi Bilang Enggak 'Nonton' TV
Ada 'Daging' untuk Pak Luthfi...
Ditanya Mobil-mobil Mewahnya, Luthfi Cuma Senyum
Sederet Mobil Mewah Terkait Luthfi Hasan Ishaaq

Ikuti berita terkait kasus ini dalam topik:
Skandal Suap Impor Daging Sapi

Baca tentang


    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X