Warga Waduk Pluit: Gusur Tanah "Aja" Dibilang Komunis

Kompas.com - 13/05/2013, 19:46 WIB
|
EditorLaksono Hari W

JAKARTA, KOMPAS.com — Warga Waduk Pluit, Jakarta Utara, merasa geram dengan ucapan Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama yang menyebut mereka seperti penganut paham komunis. Mereka juga tidak menerima jika dikatakan sebagai rakyat miskin yang banyak maunya.

"Masa masalah penggusuran aja sampai dikaitkan dengan ideologi, pakai dibilang komunis segala. Kita bingung Ahok itu memberi komentar paham komunis ini dasarnya gimana," kata Konedy selaku Sekretaris I RW 17, Muara Baru, Pluit, Jakarta Utara, di kantornya, Senin (13/5/2013).

Konedy mengatakan, Basuki ataupun Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo belum pernah secara langsung melakukan dialog dengan warga. Ia mengatakan, jika Jokowi mengatakan sempat bertemu dengan warga Pluit, kemungkinan orang tersebut merupakan oknum yang memanfaatkan situasi tersebut untuk kepentingan pribadi.

Menurut Konedy, kalaupun Basuki mengatakan ada beberapa lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang memanfaatkan situasi ini, warga meminta kejelasan LSM mana yang dimaksud oleh Basuki. Ia menegaskan bahwa selama ini warga di Waduk Pluit memang tidak menyetujui adanya penggusuran secara sewenang-wenang tanpa ada dialog terlebih dahulu.

"Makanya, kita minta supaya bisa duduk bareng dan dapat win-win solution. Konsep dia waktu mau jadi gubernur dan wakil kan enggak akan sengsarakan masyarakat," ujarnya.

Alasan lain yang membuat warga tidak mau pindah adalah tidak adanya transparansi dari Pemprov DKI. Waduk Pluit terdiri dari empat bagian, yakni barat, utara, timur, dan selatan. Bagian barat waduk sudah ditertibkan, bangunan liar sudah dibongkar. Konedy mengatakan, berdasarkan kabar yang beredar di kalangan warga, sebagian warga di bagian barat waduk itu ada yang mendapatkan uang ganti rugi bangunan dengan beragam nominal. Angkanya bisa satu sampai sepuluh juta rupiah.

"Nah, di bagian utara ini kendalanya. Katanya uang kerahimannya aja enggak ada, makanya warga nolak untuk pindah," katanya.

Ia berpendapat, sebaiknya Pemprov DKI menggelar diskusi dengan warga. Menurutnya, diskusi ini dapat meluruskan hal-hal yang masih simpang siur di kalangan warga bantaran Waduk Pluit.

Baca tentang


    Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Kontroversi Pernyataan Sekda DKI soal Banjir Dinikmati, Dinilai Tak Punya Empati hingga Tutupi Kesalahan Anies

    Kontroversi Pernyataan Sekda DKI soal Banjir Dinikmati, Dinilai Tak Punya Empati hingga Tutupi Kesalahan Anies

    Megapolitan
    Demo Ojek Online di DPR, Menolak Pembatasan Jalan hingga Sweeping Pengemudi

    Demo Ojek Online di DPR, Menolak Pembatasan Jalan hingga Sweeping Pengemudi

    Megapolitan
    Kronologi Perampokan Toko Emas di Pasar Pecah Kulit, Mengasak 4 Kg Emas hingga Tembak Petugas Sampah

    Kronologi Perampokan Toko Emas di Pasar Pecah Kulit, Mengasak 4 Kg Emas hingga Tembak Petugas Sampah

    Megapolitan
    BMKG: Sabtu Pagi, Jakarta Hujan Lokal

    BMKG: Sabtu Pagi, Jakarta Hujan Lokal

    Megapolitan
    Kerugian Toko Emas Tamansari akibat Disatroni Maling Belum Dapat Pastikan

    Kerugian Toko Emas Tamansari akibat Disatroni Maling Belum Dapat Pastikan

    Megapolitan
    Soal Banjir Dinikmati, PSI DKI Nilai Pernyataan Sekda Menyakiti Hati Masyarakat

    Soal Banjir Dinikmati, PSI DKI Nilai Pernyataan Sekda Menyakiti Hati Masyarakat

    Megapolitan
    Lurah Pastikan Suplai Logistik Pengungsi Banjir Cipinang Melayu Memadai

    Lurah Pastikan Suplai Logistik Pengungsi Banjir Cipinang Melayu Memadai

    Megapolitan
    Polisi Kejar Perampok Bersenjata yang Satroni Toko Emas di Pasar Pecak Kulit

    Polisi Kejar Perampok Bersenjata yang Satroni Toko Emas di Pasar Pecak Kulit

    Megapolitan
    Revitalisasi Monas dan Formula E, Ombudsman: Pejabat yang Rusak Cagar Budaya Bisa Dipidana

    Revitalisasi Monas dan Formula E, Ombudsman: Pejabat yang Rusak Cagar Budaya Bisa Dipidana

    Megapolitan
    Banjir Makin Tinggi, Warga Cipinang Melayu Kembali Penuhi Posko Pengungsian

    Banjir Makin Tinggi, Warga Cipinang Melayu Kembali Penuhi Posko Pengungsian

    Megapolitan
    Masker Ilegal di Cakung Didistribusikan ke Rumah Sakit

    Masker Ilegal di Cakung Didistribusikan ke Rumah Sakit

    Megapolitan
    Ombudsman Minta Revitalisasi Monas dan Sirkuit Formula E Dimoratorium

    Ombudsman Minta Revitalisasi Monas dan Sirkuit Formula E Dimoratorium

    Megapolitan
    Banjir Lagi di Cipinang Melayu, Warga Mulai Mengungsi

    Banjir Lagi di Cipinang Melayu, Warga Mulai Mengungsi

    Megapolitan
    Saudi Larang Umrah Sementara, 48 Jemaah Asal Bekasi Batal Berangkat

    Saudi Larang Umrah Sementara, 48 Jemaah Asal Bekasi Batal Berangkat

    Megapolitan
    Drainase Buruk hingga Persoalan Mandeknya Normalisasi Bakal Jadi Prioritas Pansus Banjir Jakarta

    Drainase Buruk hingga Persoalan Mandeknya Normalisasi Bakal Jadi Prioritas Pansus Banjir Jakarta

    Megapolitan
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X