Berawal dari "Nongkrong", Geng Motor Bisa Bertindak Nekat

Kompas.com - 13/05/2013, 21:41 WIB
|
EditorLaksono Hari W

JAKARTA, KOMPAS.com — Aksi kejahatan yang dilakukan oleh anggota geng motor masih belum hilang. Tindakan seperti itu kadang kala dilakukan secara spontan dan diawali dengan nongkrong atau berkeliling bersama.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto mengatakan, aksi spontan yang dilakukan oleh anggota geng motor ini sering kali melenceng dari tujuan semula, yakni berkumpul bersama anggota lain. Mereka umumnya berkumpul di lokasi yang kerap menjadi arena balap liar, misalnya dekat Taman Mini Indonesia Indah dan Kemayoran. Kelompok pengguna motor yang melakukan balap liar ini bisa jadi berubah perilaku menjadi negatif sehingga secara spontan memunculkan ide untuk melakukan aksi kejahatan.

"Karena efeknya kadang berubah dari tujuannya, seperti berkumpul, show-nya menjadi menganiaya orang, menjambret atau mencuri roda dua. Beberapa kasus tadinya remaja-remaja sudah melakukan perampokan terhadap kendaraan roda dua. Hal itu diilhami rasa ingin memiliki," kata Rikwanto, Senin (13/5/2013) di Mapolda Metro Jaya.

Untuk mengatasi hal ini, kata Rikwanto, polisi melakukan tiga upaya dan langkah-langkah antisipasi terhadap keberadaan geng motor atau balap liar yang dianggap meresahkan dan mengganggu ketertiban umum. Upaya tersebut dilakukan dengan menggelar patroli dan razia, seperti operasi Cipta Kondisi dan operasi Simpati.

Ia mengatakan, polisi akan menempuh cara preemtive untuk masuk dan mengetahui aktivitas dari komunitas atau geng motor itu. Langkah selanjutnya, polisi menggunakan preventif dengan menjaga daerah-daerah yang menjadi sasaran aksi balapan liar dan perbuatan melanggar hukum.

"Kita menjaga daerah-daerah yang menjadi sasaran mereka untuk kebut-kebutan liar dan menjadi daerah black area tengah malam," ujar Rikwanto.

Upaya ketiga adalah tindakan represif. Hal ini terjadi apabila sudah ada suatu pelanggaran hukum yang dilakukan. Namun, dalam penindakannya, polisi tidak bisa berperan sendiri dan perlu peran serta pula dari masyarakat.

Rikwanto mengatakan, potensi pelanggaran hukum dimungkinkan muncul, misalnya, karena rasa ingin memiliki sepeda motor dari anggota geng motor terhadap korban sehingga melakukan aksi pembegalan. "Jadi, satu ingin memiliki, dua ingin dipreteli suku cadangnya," kata Rikwanto.

Rikwanto menyebutkan, tidak semua kelompok perkumpulan motor berlaku negatif. Menurutnya, banyak komunitas perkumpulan motor yang punya nilai positif. Bahkan, ada juga anggota kepolisian yang ikut pada komunitas motor untuk berkegiatan positif.

Ia mengatakan, geng motor atau aksi balap liar adalah kelompok yang cenderung melakukan aksi negatif dan melanggar hukum. Awalnya mereka bertemu janjian pada suatu lokasi dan menghabiskan waktu dengan nongkrong hingga malam atau berputar-putar mengelilingi jalan di Jakarta.

Halaman:
Baca tentang


    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Fakta Prostitusi Online Artis, Pemain Film dan Selebgram Dibayar Rp 110 Juta untuk Threesome

    Fakta Prostitusi Online Artis, Pemain Film dan Selebgram Dibayar Rp 110 Juta untuk Threesome

    Megapolitan
    Ini Beberapa Isu yang Jadi Sorotan Fraksi di Rapat Paripurna DPRD DKI Jakarta

    Ini Beberapa Isu yang Jadi Sorotan Fraksi di Rapat Paripurna DPRD DKI Jakarta

    Megapolitan
    Saat Dandim Jakpus Dilarang Masuk Gang Rumah Rizieq...

    Saat Dandim Jakpus Dilarang Masuk Gang Rumah Rizieq...

    Megapolitan
    Cabuli Bocah 10 Tahun di Pondok Aren, Pelaku Mengaku Kru Televisi

    Cabuli Bocah 10 Tahun di Pondok Aren, Pelaku Mengaku Kru Televisi

    Megapolitan
    Akses Smart E-budgeting Butuh NIK dan KK, Ini Jawaban Pemprov DKI

    Akses Smart E-budgeting Butuh NIK dan KK, Ini Jawaban Pemprov DKI

    Megapolitan
    Bayi Dua Tahun Meninggal Saat Diajak Mengemis, Polisi Gandeng KPAI Usut Dugaan Eksploitasi Anak

    Bayi Dua Tahun Meninggal Saat Diajak Mengemis, Polisi Gandeng KPAI Usut Dugaan Eksploitasi Anak

    Megapolitan
    Pemprov DKI Akan Ganti Bantuan Sembako Jadi BLT di Tahun 2021

    Pemprov DKI Akan Ganti Bantuan Sembako Jadi BLT di Tahun 2021

    Megapolitan
    Pemprov DKI Akan Pasang Wi-fi Gratis di Seluruh RW Padat Penduduk

    Pemprov DKI Akan Pasang Wi-fi Gratis di Seluruh RW Padat Penduduk

    Megapolitan
    Bayi Dua Tahun Meningal saat Diajak Sang Ibu Mengemis

    Bayi Dua Tahun Meningal saat Diajak Sang Ibu Mengemis

    Megapolitan
    Terlambat Serahkan KUA-PPAS 2021, Pemprov DKI: Ini Baru Terjadi

    Terlambat Serahkan KUA-PPAS 2021, Pemprov DKI: Ini Baru Terjadi

    Megapolitan
    Golkar: Normalisasi Sungai Terhenti sejak 2018 karena Tak Ada Pembebasan Lahan

    Golkar: Normalisasi Sungai Terhenti sejak 2018 karena Tak Ada Pembebasan Lahan

    Megapolitan
    Fraksi PAN Usul Hibah Tahunan Pemprov DKI Untuk NU dan Muhammadiyah

    Fraksi PAN Usul Hibah Tahunan Pemprov DKI Untuk NU dan Muhammadiyah

    Megapolitan
    Fraksi PSI Tolak Pelibatan Swasta dalam Proyek LRT Jakarta

    Fraksi PSI Tolak Pelibatan Swasta dalam Proyek LRT Jakarta

    Megapolitan
     Nasdem Minta Pemprov DKI Beri Perhatian Lebih ke Warga di Kepulauan Seribu

    Nasdem Minta Pemprov DKI Beri Perhatian Lebih ke Warga di Kepulauan Seribu

    Megapolitan
    Fraksi Demokat Minta Hasil Tes PCR Bisa Ditingkatkan Jadi Maksimal 2x24 Jam

    Fraksi Demokat Minta Hasil Tes PCR Bisa Ditingkatkan Jadi Maksimal 2x24 Jam

    Megapolitan
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X