Kompas.com - 16/05/2013, 09:19 WIB
|
EditorAna Shofiana Syatiri

JAKARTA, KOMPAS.com — Warga Kapuk Teko atau yang lebih sering disebut Kampung Apung merasa kecewa dengan kepemimpinan Joko Widodo sebagai Gubernur DKI Jakarta. Pada November 2012 lalu, Jokowi sempat mendatangi Kampung Apung. Namun sampai saat ini, belum ada perubahan yang ditunjukkan dari saat dia menjabat.

Nuraini (55), warga RW 01, mengatakan, Jokowi hanya mondar-mandir dan jalan-jalan saja saat datang ke Kampung Apung. Dia juga sempat menjanjikan akan melakukan pengeringan di Kampung Apung supaya tidak banjir lagi secara permanen.

"Dulu dia ngomong, ah masalah kayak gini sih gampang, tinggal disedot aja airnya. Tapi sampai sekarang berubah sedikit pun enggak," kata Nuraini di Kampung Apung, Rabu (15/5/2013).

Nuraini mengungkapkan, sebenarnya dia sangat berharap pelantikan Wali Kota Jakarta Barat bisa dilaksanakan di Kampung Apung. Dengan demikian, warga bisa langsung menyampaikan keluh kesahnya tinggal di atas air bertahun-tahun padahal tempat tersebut bukan bantaran sungai atau lautan.

"Pak Jokowi enggak pernah tinggal di atas air, sih, jadi dia enggak tahu gimana rasanya," kata Nuraini.

Janda yang sehari-harinya bekerja sebagai pemulung ini merasa waswas karena usianya semakin renta dan tinggal hanya berdua dengan cucunya yang masih kecil. Jika musim hujan tiba, rumahnya bisa terendam selama seminggu dan harus mengungsi ke sekolah apung.

Nuraini mengatakan, rumah tanpa barang-barang elektronik ini merupakan harta benda satu-satunya. Nuraini tidak bisa pindah dari tempat tersebut karena tidak memiliki cukup uang untuk membeli rumah. Terlebih lagi, pendapatannya sebagai pemulung hanya Rp 15.000 per hari.

Hal senada diungkapkan Pudjo (65). Rumah dia sudah pernah diuruk setinggi satu rumah sebelumnya. Walaupun begitu, kalau musim hujan tiba, rumahnya tetap saja terendam air selama berhari-hari. Pudjo sudah pernah mendengar janji-janji mantan Wali Kota Jakarta Barat, Burhanuddin, ataupun gubernur DKI Jakarta. Namun, air di bawah rumahnya belum juga disedot ke luar.

Pudjo mengatakan, wilayah Kampung Apung memang rawan banjir. Saluran di depan jalan pun belum juga diperbaiki. Kalau banjir datang, saluran air dan jalan tidak terlihat perbedaannya. Kadang pengguna jalan yang tidak tahu wilayah Kampung Apung terjeblos ke dalam saluran yang cukup dalam.

"Itu kan bahaya banget kalau lagi banjir. Yang naik motor suka kecebur ke saluran air karena enggak ada pembatas ataupun plang pemberitahuan," kata Pudjo.

Pudjo berharap masalah di kampungnya segera mendapat perhatian dari pemerintah. Kedatangan Jokowi tidak memberikan arti menjadi prioritas utama dalam membenahi saluran air di Kampung Apung.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang
     
    Pilihan Untukmu


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.