Tak Dapat Asuransi, Tangan Kiri Penjaga Pintu Air Ini Tak Pernah Sempurna Lagi

Kompas.com - 17/05/2013, 05:25 WIB
Penulis Norma Gesita
|
EditorPalupi Annisa Auliani

JAKARTA, KOMPAS.com — Kehidupan Cepi tak pernah sama lagi, sejak tangan kirinya tergilas conveyor mesin saringan sampah otomatis, tahun lalu. Tangan kirinya tak lagi bisa digerakkan normal. Lelaki 20 tahun ini adalah satu dari empat operator saringan sampah otomatis di Pintu Air Cawang, Jakarta Timur.

Bersama ketiga temannya, Cepi biasa bekerja 24 jam penuh, berselang-seling satu hari masuk dan satu hari libur. Namun, saat musim penghujan, Cepi dan teman-temannya harus menginap di rumah jaga, untuk membersihkan sampah di pintu air tersebut yang jumlahnya meningkat tiga kali lipat. Begitu juga musim penghujan setahun lalu, yang kemudian mengubah kehidupannya.

"Waktu itu banjir. Conveyor tiba-tiba mati. Pas dicek ternyata ada kayu nyangkut. Kayunya saya lepas. (Tapi) malah tangan saya masuk conveyor," tutur Cepi menuturkan kejadian saat itu pada Kompas.com. Ditemui di Pintu Air Cawang, Kamis (16/5/2013), dia mengatakan teman-temannya langsung membawanya pulang dan melarikannya ke rumah sakit.

Namun, tak banyak yang dilakukan di rumah sakit untuk tangan Cepi. Ketiadaan biaya operasi, menjadi penyebab. Terlebih, meski bekerja untuk Pemerintah DKI Jakarta, Cepi juga tak punya asuransi kesehatan ataupun jaminan kesehatan lainnya.


Sekalipun teman-temannya dan beberapa kenalan di Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta sudah berupaya "patungan", uang yang terkumpul tak cukup untuk membiayai operasi tangannnya. Uang yang terkumpul cuma cukup dipakai membawanya ke tukang urut. "Tangan saya digips di tukang urut, gak bisa sembuh total," ujar Cepi seraya menunjukkan luka yang cukup besar di pangkal lengan kirinya.

Kini tangan kirinya tak bisa ditekuk sempurna. Cepi pun lebih sering menggunakan tangan kanannya saja untuk segala aktivitas, termasuk pekerjaannya yang masih sama, menjadi operator mesin sampah itu.

Cepi mengaku tak bisa meninggalkan pekerjaan yang ditekuninya itu meski terbukti berisiko. "Susah cari kerja," ujar dia lugas tentang alasannya tetap bekerja di situ. Itu pun tak mulus-mulus saja.

Sepeda motor Cepi nyaris ditarik pemberi kredit (leasing), lantaran cicilan bulanannya nunggak. Ternyata, empat bulan terakhir bayarannya pun seret. Untuk membiayai keluarganya, Cepi dan teman-temannya berinisiatif menjual sampah botol dan plastik yang dipilah dari sampah-sampah yang tersangkut di conveyor yang jadi tanggung jawab mereka. 

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X