Kompas.com - 21/05/2013, 15:10 WIB
Penulis Alsadad Rudi
|
EditorAna Shofiana Syatiri

JAKARTA, KOMPAS.com — Pengusaha di bantaran Waduk Pluit, Teddy Budiman Wong (50), membantah bahwa usahanya tidak memiliki izin. Kontraktor ini juga menegaskan bahwa dia menyewa tanah yang merupakan tanah negara tersebut.

"Mestinya cek dulu bukan sembarang ngomong. Masa usaha tidak ada SIUP, mana bisa usaha tanpa SIUP. Saya ada bukti," kata pengusaha yang menyewakan alat berat tersebut, saat dijumpai Selasa (21/5/2013), di sekitar Waduk Pluit, Jakarta Utara.

Teddy mengatakan, dia menyewa secara sah dari para penggarap lahan. Dia juga mengklaim memiliki kuitansi yang membuktikan dia menyewa lahan tersebut dari penggarap lahan. Namun, mengenai siapa pihak penggarap lahan tersebut, Teddy enggan untuk menyebutkan namanya.

"Saya sewa dari penggarap, ada kuitansinya. Belinya bertahap dari tahun 2000-2003. Sewa dari beberapa penggarap," jelas pengusaha di bidang penyewaan alat berat ini.

Untuk diketahui, Basuki sempat melontarkan pernyataan bahwa Teddy adalah salah satu pengusaha di bantaran Waduk Pluit yang selain menduduki tanah negara, juga tidak memiliki izin usaha. Selain itu, Teddy disebut sebagai orang yang memprovokasi warga agar melakukan perlawanan terhadap Pemprov DKI.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, di bawah kepemimpinan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama, membenahi kawasan ini dimulai setelah banjir besar, Januari lalu. Ketika itu, banyak orang sadar, betapa pentingnya peranan Waduk Pluit. Seluruh aliran banjir di pusat kota mengarah ke sana. Waduk tidak dapat menampung lagi limpahan air tersebut. Banjir akibat ketidakmampuan waduk menampung air berdampak serius terhadap aktivitas ekonomi, sosial, dan kesehatan warga.

Kondisi itulah yang mendorong Pemprov DKI Jakarta segera merealisasikan normalisasi waduk. Pascabanjir Januari lalu, proyek normalisasi mulai dilakukan. Pintu masuk air diperlebar, sampah dibersihkan, dan pengerahan alat berat berlangsung hampir setiap hari. Namun, perjuangan Jokowi-Basuki itu tidak mudah karena masyarakat justru menuntut ganti rugi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.