Kompas.com - 04/06/2013, 13:27 WIB
|
EditorAna Shofiana Syatiri

JAKARTA, KOMPAS.com — Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama bertemu dengan Bank Dunia untuk membahas kelanjutan program Jakarta Emergency Dredging Initiative (JEDI). Basuki bersikukuh agar Bank Dunia dapat menyelesaikan program tersebut selama maksimal dua tahun, tidak lagi sesuai perjanjian lama, yaitu lima tahun.

"Mereka mau bertemu saya saja. Tetap saja kalau mereka tidak mau menyelesaikan selama dua tahun, pulang kampung saja, kan," kata Basuki di Balaikota Jakarta, Selasa (4/6/2013).

Kementerian Pekerjaan Umum, kata Basuki, yang memerintahkan Bank Dunia untuk bertemu secara intensif dengan Pemprov DKI. Klausul perjanjian yang telah ditetapkan Bank Dunia dinilai telah memberatkan Pemprov DKI.

Basuki mengatakan, DKI telah mengajukan surat penghentian pinjaman Bank Dunia untuk pembiayaan proyek JEDI. Menurut dia, Pemprov DKI akan meminta Bank Dunia untuk meringankan syarat yang diajukan oleh Bank Dunia. Pemprov DKI akan mengerjakan proyek tersebut dengan menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) DKI.

"Mungkin Kementerian PU yang menyuruh Bank Dunia untuk bertemu dengan saya. Tapi, ya saya tetap pada pendirian agar proyek itu selesai dua tahun," kata mantan Bupati Belitung Timur itu.

Sebelumnya, Pemprov DKI menilai dua klausul yang ditetapkan Bank Dunia memberatkan pelaksanaan proyek JEDI. Klausul pertama menyangkut waktu penyelesaian pengerukan 13 sungai yang ditetapkan selama lima tahun. Klausul kedua menyebutkan bahwa Pemprov DKI menjamin hak-hak warga di bantaran kali yang bakal digusur dengan pemberian ganti rugi berupa uang.

Proyek JEDI yang dirintis oleh gubernur sebelumnya, Fauzi Bowo atau Foke, diperkirakan menelan anggaran 190 juta dollar AS. Bank Dunia memberikan pinjaman lunak kepada Pemerintah Indonesia sebesar 139 juta dollar AS. Sisanya sebesar 51 juta dollar AS akan dibebankan dari APBN dan APBD DKI.

Kementerian PU juga telah memastikan bahwa pengerjaan fisik pengerukan 11 sungai dan empat waduk di Jakarta dimulai dengan pengadaan tender fisik internasional. Tender fisik akan dimulai dengan tahap prakualifikasi dan tahap tender untuk tujuh paket kegiatan pengerukan.

Proses tender berlangsung terbuka bagi semua kontraktor. Adapun kontraktor asing yang berkeinginan mengikuti proses tender diwajibkan membentuk joint venture bersama kontraktor asal Indonesia.

Baca tentang


    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X