Kompas.com - 07/06/2013, 13:31 WIB
Penulis Alsadad Rudi
|
EditorAna Shofiana Syatiri

JAKARTA, KOMPAS.com — Menumpuknya ratusan PKL yang memenuhi badan jalan di ruas Jalan Kebon Jati, Tanah Abang, Jakarta Pusat, berbanding terbalik dengan kondisi di dalam bangunan pasar. Berdasarkan pengamatan Kompas.com di dalam Pasar JTTC, di salah satu blok, yaitu Blok G, terdapat ratusan kios yang kosong tanpa ada yang menempati.

Menurut Ajun (41), salah satu pedagang di bangunan pasar yang persis terdapat di samping Jalan Kebon Jati tersebut, kios-kios sepi karena pedagang banyak yang lebih memilih berjualan di jalan. "Biaya sewa sebulan saya bayar Rp 800.000, dibayar ke pengelola pasar. Kalau di sini laris-laris aja, sih," ujar Ajun yang merupakan pedagang pakaian, Jumat (7/6/2013), di depan kiosnya.

Kondisi di dalam pasar sebenarnya cukup nyaman. Selain lantai porselen yang bersih, pasar juga dilengkapi pendingin udara. Karena itu, cukup mengherankan jika lebih banyak pedagang yang memilih berjualan di luar pasar, tepatnya di tepi jalan.

Anton (29), salah satu pedagang baju yang berjualan di tepi Jalan Kebon Jati, mengatakan, dirinya tak berkeberatan dengan harga sewa kios sekitar Rp 800.000. Namun, jika berdagang di dalam pasar, menurutnya, jumlah pembeli dikhawatirkan akan menurun.

"Penghasilan sebulan seputar Rp 3-4 juta, kalau di dalam paling enggak nyampe segitu. Kalau di sini kan banyak orang lewat," ujarnya.

Sementara mengenai uang sewa, Anton mengatakan, pada setiap bulannya membayar ke salah seorang koordinator pedagang bernama Hayat. "Bayar ke Pak Hayat, Pak Hayat bayar ke anak-anak sini yang biasa bantu beres-beres, jaga-jaga, atau bersih-bersih," jelas Anton.

Sebelumnya, Kepala Suku Dinas Perhubungan Jakarta Pusat Sunardi Sinaga mengungkapkan kesulitan melakukan penertiban PKL di Tanah Abang. Hal itu merujuk pada menjamurnya kembali PKL di Jalan Kebon Jati, Tanah Abang, Jakarta Pusat, seusai penertiban pada Rabu (5/6/2013).

Jalan di kawasan Tanah Abang yang telah bersih dari PKL pasca-penertiban hanya di ruas Jalan KH Mas Mansyur. Menurut Sunardi, pihak pengelola pasar harus lebih aktif ikut mengajak pedagang agar mau masuk dan berjualan di gedung. Hal itu didasarkan atas kekhawatiran banyak pedagang yang merasa omzet mereka akan menurun jika berjualan di dalam pasar.

Baca tentang


    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X