Kontras Tolak Tudingan Pro-Separatis di Papua

Kompas.com - 11/06/2013, 13:31 WIB
|
EditorAna Shofiana Syatiri

JAKARTA, KOMPAS.com — Pihak Komisi Untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras) menampik tuduhan Front Pemuda Merah Putih yang mengatakan bahwa Kontras mendukung kelompok separatis yang ada di Papua. Mereka mengatakan justru menentang adanya tindak kekerasan yang terjadi di Bumi Cendrawasih itu.

Setelah empat perwakilan pendemo diterima masuk oleh pihak Kontras, mereka langsung berdiskusi tentang tuntutan para pendemo. Mereka duduk melingkar di bawah pohon rindang teras Kantor Kontras di Jalan Borobudur, Menteng, Jakarta Pusat.

Para pendemo mengeluarkan pendapat mereka tentang kekerasan yang dilakukan oleh gerakan separatis yang ada di Papua yang disampaikan oleh keempat pendemo itu.

"Kita dianggap dukung separatis. Jadi begini, organisasi (Kontras) sama sekali tidak mendukung separatis. Kami justru menentang tindak kekerasan oleh separatis dengan menggunakan senjata. Itu sama sekali tidak kita dukung," ungkap Koordinator Kontras, Hariz Azhar, Selasa (11/6/2013).

Hal ini terkait tudingan pihak Front Pemuda Merah Putih yang mengatakan bahwa Kontras menuding pihak TNI dalang di balik insiden penembakan dan kekerasan terhadap warga sipil di Papua. Mereka menilai bahwa pihak separatis-lah yang seharusnya bertanggung jawab di balik serangan itu.

Untuk itu, Hariz mengatakan bahwa pihaknya selalu melakukan koordinasi dengan pihak TNI. Ia menegaskan menolak keras tindak kekerasan yang dilakukan oleh pihak mana pun. Selain itu, Hariz menambahkan bahwa jalur diskusi sudah sering ia canangkan. Akan tetapi, diskusi ini belum dapat tanggapan serius dari pemerintah.

"Kita tidak bela ini tentara, ini separatis. Kita jelas menolak tindak kekerasan terhadap warga sipil. Kita sudah sering membuka jalur komunikasi, tapi selalu mentok di Jakarta," ujarnya.

Front Pemuda Merah Putih menilai, dengan adanya keberpihakan Kontras terhadap kelompok separatis, hal tersebut dapat menghancurkan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Untuk itu, Front Pemuda Merah Putih berharap agar Kontras tetap menjaga agar tanah Papua tak lepas dari genggaman Indonesia.

"Pemisahan negara itu bukan wilayah Kontras. Tapi kita sering dialamatkan dukung kemerdekaan Papua. Yang kita peduli itu jika ada yang dibunuh, disiksa, siapa pun dia," kata pria berkacamata ini.

Setelah mendengarkan penjelasan dari pihak Kontras selama lebih kurang 15 menit ini, akhirnya pendemo pun membubarkan diri sekitar pukul 12.30. Akan tetapi, mereka berharap agar Kontras bisa membuktikan penjelasannya tersebut.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jam Operasional Diperpanjang, Pengusaha Mal Tetap Minta Dikecualikan dari Pembatasan

Jam Operasional Diperpanjang, Pengusaha Mal Tetap Minta Dikecualikan dari Pembatasan

Megapolitan
Mulai 5 Februari, Pengecekan Covid-19 dengan GeNose Tersedia di Stasiun Gambir dan Yogyakarta

Mulai 5 Februari, Pengecekan Covid-19 dengan GeNose Tersedia di Stasiun Gambir dan Yogyakarta

Megapolitan
Olah TKP Kasus Begal Pesepeda di Jalan Latumenten, Polisi Sisir Kamera CCTV

Olah TKP Kasus Begal Pesepeda di Jalan Latumenten, Polisi Sisir Kamera CCTV

Megapolitan
Dishub DKI Keluarkan SK Juknis Transportasi Selama PSBB Ketat, Pengemudi Ojek Dilarang Berkerumun

Dishub DKI Keluarkan SK Juknis Transportasi Selama PSBB Ketat, Pengemudi Ojek Dilarang Berkerumun

Megapolitan
Jam Operasional Mal Diperpanjang, Pengusaha Harap Bisa Kembalikan Peak Hour

Jam Operasional Mal Diperpanjang, Pengusaha Harap Bisa Kembalikan Peak Hour

Megapolitan
Pesepeda Dibegal di Jalan Latumenten Jakbar, 1 Unit Ponsel Raib

Pesepeda Dibegal di Jalan Latumenten Jakbar, 1 Unit Ponsel Raib

Megapolitan
Dua Pekan Pelaksanaan PSBB Ketat, 237 Tempat Usaha Dijatuhi Sanksi

Dua Pekan Pelaksanaan PSBB Ketat, 237 Tempat Usaha Dijatuhi Sanksi

Megapolitan
33.340 WNA Masuk Indonesia Lewat Bandara Soekarno-Hatta di Masa Pembatasan Kedatangan Warga Asing

33.340 WNA Masuk Indonesia Lewat Bandara Soekarno-Hatta di Masa Pembatasan Kedatangan Warga Asing

Megapolitan
Wagub DKI: Tanpa Warga Luar Jakarta, Okupansi RS di Jakarta Hanya 60 Persen

Wagub DKI: Tanpa Warga Luar Jakarta, Okupansi RS di Jakarta Hanya 60 Persen

Megapolitan
Pemprov DKI Diminta Libatkan Tokoh Agama Cegah Penyebaran Covid-19

Pemprov DKI Diminta Libatkan Tokoh Agama Cegah Penyebaran Covid-19

Megapolitan
Kasus Covid-19 di Jakarta Bertambah 2.314, Angka Kematian Kembali Tertinggi

Kasus Covid-19 di Jakarta Bertambah 2.314, Angka Kematian Kembali Tertinggi

Megapolitan
UPDATE 26 Januari: Ada 46 Kasus Baru Covid-19 di Kota Tangerang, 69 Orang Sembuh

UPDATE 26 Januari: Ada 46 Kasus Baru Covid-19 di Kota Tangerang, 69 Orang Sembuh

Megapolitan
UPDATE 26 Januari: Bertambah 39 Kasus Covid-19 di Tangsel, 3 Pasien Meninggal

UPDATE 26 Januari: Bertambah 39 Kasus Covid-19 di Tangsel, 3 Pasien Meninggal

Megapolitan
Polisi Masih Lengkapi Berkas Perkara Kasus Video Syur Gisel dan Michael Yukinobu

Polisi Masih Lengkapi Berkas Perkara Kasus Video Syur Gisel dan Michael Yukinobu

Megapolitan
Ditanya Alasan Beraksi Mesum di Halte Senen, MA: Emang Kenapa?

Ditanya Alasan Beraksi Mesum di Halte Senen, MA: Emang Kenapa?

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X