Kompas.com - 13/06/2013, 10:21 WIB
EditorAna Shofiana Syatiri

TANGERANG, KOMPAS.com - Festival Cisadane kembali digelar Pemerintah Kota Tangerang mulai 12 sampai 16 Juni mendatang. Festival yang berkaitan dengan perayaan Peh Cun ini diharapkan membangkitkan tradisi budaya dan kesenian masyarakat Tangerang yang lama hilang sekaligus menjadi pemikat bagi pengembangan dunia pariwisata Tangerang.

Ratusan warga, mulai dari anak-anak hingga dewasa, anak sekolah, mahasiswa, sampai pekerja dan ibu rumah tangga, tumpah ruah di Jalan Kalipasir, Kota Tangerang, Banten, tepatnya di bantaran kali belakang Wihara Boen Tek Bio, Rabu (12/6). Sejak pagi, mereka sudah berkumpul dan memenuhi sepanjang jalan itu. Sebagian dari mereka, terutama warga keturunan Tionghoa, melakukan persembahyangan di kelenteng sekitar pinggir Sungai Cisadane.

Setelah melakukan sembahyang, sebagian dari mereka melanjutkan ritual dengan naik ke kapal menuju Sungai Cisadane. Di atas kapal yang di sekelilingnya dikawal sejumlah perahu naga, warga keturunan Tionghoa melempar bacang dan tabur bunga ke sungai yang membelah sebagian Kota Tangerang tersebut. Tak hanya itu, warga juga melakukan ritual membakar replika naga merah dan hijau, lalu abunya dibuang di tengah sungai.

Seusai ritual tersebut, bersama warga lain yang sudah menunggu di sepanjang jalan itu, mereka langsung mendirikan telur. Waktu itu, jarum jam menunjukkan angka 11.30. Ajaib! Warga bisa mendirikan telur ayam tegak di salah satu sisinya yang meruncing. Sejumlah wisatawan mancanegara juga terlihat ikut mendirikan telur ayam dan mengabadikan momen yang jarang terjadi ini.

Sebagian besar dari ratusan telur yang telah disediakan tersebut bisa dibuat berdiri di atas jalan, trotoar, bahkan di turap kali. Atraksi ini hanya berlangsung maksimal 30 menit.

Telur bisa berdiri bukanlah akibat kekuatan gaib. Akan tetapi, saat itu, fenomena alam unik terjadi karena posisi Matahari berada di titik kulminasi terdekat dengan Bumi sehingga pengaruh gravitasi Matahari terhadap Bumi lebih kuat.

Tradisi menegakkan telur ini dilakukan hanya pada hari tertentu, yakni saat Toan Ngo. Pada pukul 11.00 sampai 13.00 diyakini telur bisa berdiri. Saat itulah umat Tionghoa di Tangerang dan sekitarnya merayakan Peh Cun. Tradisi ini bertepatan dengan tanggal 5 bulan 5 dalam kalender Imlek. Ini salah satu tradisi masyarakat Tionghoa.

Selanjutnya, pada puncak perayaan dilakukan persembahyangan Twan Yang di mana warga keturunan Tionghoa akan melepaskan bebek ke Sungai Cisadane untuk diperebutkan. Pelepasan bebek dari sangkar ini bertujuan membuat hidup orang terbebas dari kesialan serta dapat melanjutkan kehidupan dengan damai dan tenteram.

Malam sebelum puncak perayaan Peh Cun, warga keturunan Tionghoa akan memandikan perahu keramat berupa perahu naga (liong) dan perahu pak-pak. Pemandian perahu keramat ini dilakukan di Kongco atau kelenteng kecil di Jalan Iman Bonjol, Karawaci, Tangerang. Ritual ini sangat dinanti-nanti warga. Mereka akan berdesak-desakan untuk mendapatkan air bekas pemandian perahu itu karena dipercaya membawa berkah.

Perahu keramat yang dimandikan ada empat, yaitu dua perahu naga dan dua perahu pak-pak berwarna merah dan hijau. Perahu keramat ini terbuat dari sepotong kayu keramat yang ditemukan seorang warga Tionghoa di Tangerang pada akhir abad ke-19. Selanjutnya, replika perahu keramat itu dibuat tahun 1912 yang kemudian digunakan untuk perlombaan Peh Cun.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.