Tren Penumpang KRL dari Bekasi Terus Bertambah

Kompas.com - 19/06/2013, 09:36 WIB
|
EditorPalupi Annisa Auliani

BEKASI, KOMPAS.com - Rencana pemberlakuan tarif baru progresif bersubsidi diyakini meningkatkan ketertarikan masyarakat Kota Bekasi menumpang kereta rel listrik. Salah satu indikasi adalah tren penambahan jumlah penumpang KRL dari bulan ke bulan sepanjang Januari hingga Mei 2013.

Wakil Kepala Stasiun Bekasi Teguh Budiyono yang ditemui Rabu (19/6/2013) pagi mengungkapkan jumlah penumpang pada kurun Januari-Mei 2013 ialah 2.380.176 orang. Jika dibagi 151 hari dalam lima bulan itu, rerata jumlah penumpang harian adalah 15.762 orang.

Dari total jumlah tersebut, penumpang KRL Commuter Line dengan AC dan bertarif datar atau dekat-jauh sama Rp 8.500 per orang, mencapai 1.877.674 orang atau 12.435 orang per hari. Rinciannya, Januari 337.508 orang, Februari 346.119 orang, Maret 367.862 orang, April 402.056 orang, dan Mei 423.674 orang.  

Sementara penumpang KRL Ekonomi tanpa AC dan bertarif datar yakni Rp 2.000 per orang, jumlah penumpang kurun Januari-Mei mencapai 502.502 orang atau 3.327 orang per hari. Rinciannya, Januari 99.906 orang, Februari 100.453 orang, Maret 101.683 orang, April 100.154 orang, dan Mei 100.306 orang.

Setiap hari, dari Stasiun Bekasi diberangkatkan 46 rangkaian Commuter Line dan 5 rangkaian KRL ekonomi. Setiap rangkaian terdiri atas 8 gerbong.

PT Kereta Api Indonesia (Persero) pernah berkeinginan mengajukan penghapusan pelayanan Ekonomi karena biaya pemeliharaan mahal dan unit kerap rusak sehingga mengganggu operasional KRL dan KA. Namun, penolakan keras dari masyarakat dengan demonstrasi bahkan blokade stasiun vital membuat KRL ekonomi dipertahankan.

Sebelumnya diberitakan, pemberian subsidi berupa public service obligation (PSO) untuk KRL Commuter Line, membuat tarifnya tak berbeda banyak dengan KRL ekonomi. Tarif progresif akan mulai diberlakukan pada 1 Juli 2013, setelah tertunda dari jadwal semula 1 Juni 2013.

 

Pengamat perkeretaapian Djoko Setijowarno berpendapat tarif progresif bersubsidi berpotensi mengalihkan penumpang Ekonomi ke Commuter Line. Subsidi mau tidak mau harus dipertahankan jika pemerintah ingin menjadikan Commuter Line sebagai tulang punggung pelayanan transportasi massal di Jabodetabek.

Tapi Djoko mengingatkan bahwa ada aspek psikologi yang tak bisa diabaikan soal dua moda transportasi yang sama-sama berbasis kereta ini. Meskipun KRL ekonomi kumuh dan KRL Commuter Line jauh lebih nyaman, penambahan tarif Rp 1.500 untuk jarak jauh tetap membuat enggan sebagian orang, dengan stigma Commuter Line memang lebih mahal. "Aspek psikologis yang seperti itu jangan diabaikan," katanya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

UPDATE: Total 298 Kantong Berisi Bagian Tubuh Korban Sriwijaya Air Diserahkan ke DVI Polri

UPDATE: Total 298 Kantong Berisi Bagian Tubuh Korban Sriwijaya Air Diserahkan ke DVI Polri

Megapolitan
UPDATE 16 Januari: Ada 4.275 Kasus Covid-19 di Tangsel, Tambah 37

UPDATE 16 Januari: Ada 4.275 Kasus Covid-19 di Tangsel, Tambah 37

Megapolitan
UPDATE: Tim SAR Pencarian Sriwijaya Air SJ 182 Terima 9 Kantong Temuan dari Bakamla dan KRI Kurau

UPDATE: Tim SAR Pencarian Sriwijaya Air SJ 182 Terima 9 Kantong Temuan dari Bakamla dan KRI Kurau

Megapolitan
Diduga Korsleting, Mobil Terbakar di Jalan Tol Layang Wiyoto Wiyono

Diduga Korsleting, Mobil Terbakar di Jalan Tol Layang Wiyoto Wiyono

Megapolitan
UPDATE Sabtu Sore: Basarnas Terima 17 Kantong Jenazah Potongan Tubuh dan Sekantong Barang Pribadi Korban Sriwijaya Air

UPDATE Sabtu Sore: Basarnas Terima 17 Kantong Jenazah Potongan Tubuh dan Sekantong Barang Pribadi Korban Sriwijaya Air

Megapolitan
3.536 Kasus Baru Covid-19 di Jakarta, Tertinggi Selama Pandemi

3.536 Kasus Baru Covid-19 di Jakarta, Tertinggi Selama Pandemi

Megapolitan
KPAI Minta Pelaku Pencabulan Anak Tiri di Jakarta Barat Dihukum Berat

KPAI Minta Pelaku Pencabulan Anak Tiri di Jakarta Barat Dihukum Berat

Megapolitan
Pramugari Korban Sriwijaya Air Dikenang Rekannya sebagai Sosok yang Mengayomi dan Humoris

Pramugari Korban Sriwijaya Air Dikenang Rekannya sebagai Sosok yang Mengayomi dan Humoris

Megapolitan
Positif Covid-19, 79 Penghuni Panti Yayasan Tri Asih di Kebon Jeruk Jalani Isolasi Mandiri

Positif Covid-19, 79 Penghuni Panti Yayasan Tri Asih di Kebon Jeruk Jalani Isolasi Mandiri

Megapolitan
Ajakan Terbang Bareng yang Tak Pernah Terwujud...

Ajakan Terbang Bareng yang Tak Pernah Terwujud...

Megapolitan
Tangis Haru dan Kumandang Salawat Sambut Jenazah Pramugari Korban Sriwijaya Air

Tangis Haru dan Kumandang Salawat Sambut Jenazah Pramugari Korban Sriwijaya Air

Megapolitan
Kisah Perjuangan Pedagang Tanaman Hias di Depok hingga Dapat Barter Rumah Rp 500 Juta

Kisah Perjuangan Pedagang Tanaman Hias di Depok hingga Dapat Barter Rumah Rp 500 Juta

Megapolitan
Masuk Hari Ke-8, Tim SAR Fokus Cari 3 Obyek Pencarian Sriwijaya Air 182

Masuk Hari Ke-8, Tim SAR Fokus Cari 3 Obyek Pencarian Sriwijaya Air 182

Megapolitan
Tangis Keluarga Pramugari Korban Sriwijaya Air, Sang Ayah Terus Pandangi Peti Jenazah Putrinya

Tangis Keluarga Pramugari Korban Sriwijaya Air, Sang Ayah Terus Pandangi Peti Jenazah Putrinya

Megapolitan
5.563 KK di Kepulauan Seribu Akan Terima BST Rp 300.000 Mulai 25 Januari

5.563 KK di Kepulauan Seribu Akan Terima BST Rp 300.000 Mulai 25 Januari

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X