Pengelola Ragunan: Hewan Mati karena Usia, Bukan Kurang Gizi

Kompas.com - 20/06/2013, 10:42 WIB
Pengunjung berinteraksi memberi pakan sayuran pada jerapah koleksi Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta, Minggu (8/5/2011). Berlibur di kebun binatang selain untuk berekreasi juga dapat mengajarkan anak-anak berinteraksi dan belajar dunia satwa.  KOMPAS/IWAN SETIYAWANPengunjung berinteraksi memberi pakan sayuran pada jerapah koleksi Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta, Minggu (8/5/2011). Berlibur di kebun binatang selain untuk berekreasi juga dapat mengajarkan anak-anak berinteraksi dan belajar dunia satwa.
EditorAna Shofiana Syatiri
JAKARTA, KOMPAS.com - Adanya informasi bahwa pengelola Taman Margasatwa Ragunan sengaja menutup-nutupi kematian sejumlah satwa langka dianggap sebagai fitnah. Hewan yang mati disebut karena usia yang sudah uzur.

"Maaf informasi itu tidak benar, itu cenderung fitnah. Masa hanya menulis berita yang sensasional saja? Kan bisa beritakan binatang yang hidup misalnya Capibara," kata Humas Taman Margasatwa Ragunan (TMR), Wahyudi Bambang, Kamis (20/6/2013).

Sebelumnya, salah seorang pedagang bernama Budi, yang berjualan di kawasan TMR, mengungkapkan kematian sejumlah hewan karena kekurangan gizi. Mereka dikubur di dalam areal kandangnya masing-masing. Jika hewan yang berukuran kecil, disebut Budi, dibakar di tempat pembakaran sampah.

Budi mengaku pernah melihat penguburan jerapah dan kuda nil pada tengah malam. Hal itu terjadi pada akhir Mei 2013.

Budi mengungkapkan, pihak pengelola sempat memberikan peringatan kepada pedagang untuk tutup mulut. Hal itu dilakukan agar kematian satwa di Ragunan tidak tersebar.

"Kami dilarang bercerita banyak dengan para pengunjung. Bisa jadi mereka malu kalau hewan-hewan itu mati karena kelaparan dan kurang gizi, mungkin ya," ujar Budi.

Terkait pengelolaan Taman Margasartwa Ragunan ini memang pernah disorot oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Basuki menyebut ada yang tidak beres di tempat wisata tersebut. Padahal, subsidi yang diberikan setiap tahun untuk TMR mencapai Rp 40 miliar.

Basuki menilai, TMR yang berdiri di atas lahan seluas 120 hektar itu seharusnya dapat menampung dan merawat hewan-hewan lebih banyak. Namun faktanya, kata Basuki, justru hewan tak terawat dan popularitas TMR kalah dibanding Taman Safari dan kebun binatang yang berada di Singapura.

Baca tentang
    Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


    Sumber
    Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Berbagai Festival Meriahkan Jakarta Akhir Pekan Ini

    Berbagai Festival Meriahkan Jakarta Akhir Pekan Ini

    Megapolitan
    Keamanan di Stasiun MRT Jakarta Ditingkatkan atas Permintaan Polisi

    Keamanan di Stasiun MRT Jakarta Ditingkatkan atas Permintaan Polisi

    Megapolitan
    PT Transjakarta Klarifikasi, Bus Transjakarta Zongtong Belum Beroperasi Setelah Ada Kasus Video Tak Senonoh

    PT Transjakarta Klarifikasi, Bus Transjakarta Zongtong Belum Beroperasi Setelah Ada Kasus Video Tak Senonoh

    Megapolitan
    RS Polri Kesulitan Identifikasi Jenazah yang Diduga Warga China yang Tewas Selat Sunda

    RS Polri Kesulitan Identifikasi Jenazah yang Diduga Warga China yang Tewas Selat Sunda

    Megapolitan
    Pipi, Pelipis, dan Kaki Pelajar SMP di Kembangan Luka Akibat Disiram Air Keras

    Pipi, Pelipis, dan Kaki Pelajar SMP di Kembangan Luka Akibat Disiram Air Keras

    Megapolitan
    PKL yang Jualan di Bahu Jalan Senen Khawatir Pendapatan Berkurang Jika Direlokasi

    PKL yang Jualan di Bahu Jalan Senen Khawatir Pendapatan Berkurang Jika Direlokasi

    Megapolitan
    DPRD DKI Pesimistis APBD 2020 Rampung Sesuai Aturan Kemendagri

    DPRD DKI Pesimistis APBD 2020 Rampung Sesuai Aturan Kemendagri

    Megapolitan
    Minim Penerangan, Warga Sulit Seberangi JPO Stasiun Pasar Minggu Baru di Malam Hari

    Minim Penerangan, Warga Sulit Seberangi JPO Stasiun Pasar Minggu Baru di Malam Hari

    Megapolitan
    Bima Arya Pertimbangkan Maju sebagai Calon Ketua Umum PAN

    Bima Arya Pertimbangkan Maju sebagai Calon Ketua Umum PAN

    Megapolitan
    Pelaku Pelecehan Seksual Dikejar dan Ditangkap Korbanya di Kalideres

    Pelaku Pelecehan Seksual Dikejar dan Ditangkap Korbanya di Kalideres

    Megapolitan
    WNA Pemilik Salon Operasi Lipatan Kelopak Mata Ilegal di PIK Belajar dari Dokter di China.

    WNA Pemilik Salon Operasi Lipatan Kelopak Mata Ilegal di PIK Belajar dari Dokter di China.

    Megapolitan
    Dukung Ahok Jadi Bos BUMN, Ketua DPRD DKI: Selama Pimpin Jakarta Kinerjanya Baik

    Dukung Ahok Jadi Bos BUMN, Ketua DPRD DKI: Selama Pimpin Jakarta Kinerjanya Baik

    Megapolitan
    Pabrik Sepatu Hengkang, Pengangguran di Banten Berpotensi Naik Ratusan Ribu Orang

    Pabrik Sepatu Hengkang, Pengangguran di Banten Berpotensi Naik Ratusan Ribu Orang

    Megapolitan
    Mengenal GrabWheels, Satu Wujud dari Tranportasi Pintar di Indonesia

    Mengenal GrabWheels, Satu Wujud dari Tranportasi Pintar di Indonesia

    Megapolitan
    Ini Sketsa Wajah Pelaku Penyiraman Air Keras terhadap 2 Siswi di Kebon Jeruk

    Ini Sketsa Wajah Pelaku Penyiraman Air Keras terhadap 2 Siswi di Kebon Jeruk

    Megapolitan
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X