Kompas.com - 27/06/2013, 07:03 WIB
Pengguna kendaraan bermotor tersendat di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Senin (27/5/2013). Pembenahan sarana angkutan umum mendesak dilakukan untuk mengurai kemacetan lalu lintas yang tiap hari mendera Jakarta.
KOMPAS/AGUS SUSANTOPengguna kendaraan bermotor tersendat di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Senin (27/5/2013). Pembenahan sarana angkutan umum mendesak dilakukan untuk mengurai kemacetan lalu lintas yang tiap hari mendera Jakarta.
|
EditorPalupi Annisa Auliani
JAKARTA, KOMPAS.com — Setelah pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), tarif angkutan umum di Jakarta segera ikut naik. Pelajar pun akan terkena imbas kenaikan tarif angkutan ini. Perlukah ada subsidi khusus pelajar?

"Nah, itu yang masih kami mau hitung lagi dari Bank DKI," kata Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama di Balaikota DKI Jakarta, Rabu (26/6/2013) malam. Apa yang dihitung?

Basuki mengatakan, saat ini Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama Bank DKI tengah menghitung ulang apakah subsidi bisa "diselipkan" dalam program Kartu Jakarta Pintar (KJP). Sedang dihitung-hitung, misalnya, apakah bisa pelajar cukup menggunakan KJP untuk menumpang transjakarta.

Jika memang memungkinkan, lanjut Basuki, maka pelajar cukup menjadikan KJP sebagai semacam tiket untuk bisa masuk dan menumpang transjakarta. Tentu saja saldo KJP akan terkurangi ongkos bus tersebut.

Pemikiran itu, kata Basuki, tetap butuh perencanaan dan pengawasan ketat bila memang akan dilakukan. Salah satunya untuk memastikan bahwa bila ada subsidi transportasi pelajar melalui KJP, maka kartu itu benar-benar hanya dipakai para pelajar.

"Jadi masalah, kalau anaknya pinjamin ke orangtuanya gimana? Pinjemin ke omnya gimana? Kan jadi masalah sekarang. Kalau dia jujur-jujur sih enggak apa-apa kan. Kalau dia pakai seragam? Nah, kita juga bisa pakai seragam," ujar Basuki.

Basuki mencontohkan pada zaman dia bersekolah, ada juga semacam karcis bus khusus pelajar. Namun, saat itu banyak orang yang bukan pelajar yang justru menggunakan karcis itu. Akhirnya, kebijakan karcis pelajar pun dihapus.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Banyak sekali itu (dulu) titip beli karcis bus. Makanya kondektur bisa marah, pelajar apaan sudah tua begini! Ha-ha-ha, atau mahasiswa apaan, akhirnya dihilangkan karcis bus itu. Dulu saya sekolah pake karcis bus lho, dari Lapangan Banteng," papar dia dengan diselipi nostalgia.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

ODHA di Depok Masih Dapat Stigma Negatif

ODHA di Depok Masih Dapat Stigma Negatif

Megapolitan
Pemprov Jakarta Bentuk Tim Khusus Awasi Alat Makan Bahan Melamin Tak Ber-SNI

Pemprov Jakarta Bentuk Tim Khusus Awasi Alat Makan Bahan Melamin Tak Ber-SNI

Megapolitan
Pada Akhir Pekan, Penumpang di Bandara Soekarno-Hatta Capai 90.000 Orang

Pada Akhir Pekan, Penumpang di Bandara Soekarno-Hatta Capai 90.000 Orang

Megapolitan
PPKM Level 2, Regulasi PTM di Jakarta Barat Tidak Berubah

PPKM Level 2, Regulasi PTM di Jakarta Barat Tidak Berubah

Megapolitan
Massa Reuni 212 Bakal Kumpul di Patung Kuda, Ini Respons Wagub DKI

Massa Reuni 212 Bakal Kumpul di Patung Kuda, Ini Respons Wagub DKI

Megapolitan
Selidiki Tewasnya Anggota FBR Joglo, Polisi: Pemeriksaan Saksi Tanpa Bawa Nama Ormas

Selidiki Tewasnya Anggota FBR Joglo, Polisi: Pemeriksaan Saksi Tanpa Bawa Nama Ormas

Megapolitan
Warga Akan Patungan jika Pemkot Tak Segera Ganti Tutup Gorong-gorong di Margonda yang Hilang

Warga Akan Patungan jika Pemkot Tak Segera Ganti Tutup Gorong-gorong di Margonda yang Hilang

Megapolitan
Harga Minyak Goreng di Jakut Tembus Rp 22.000 per Liter, Pedagang: Naik Terus Tiap Minggu

Harga Minyak Goreng di Jakut Tembus Rp 22.000 per Liter, Pedagang: Naik Terus Tiap Minggu

Megapolitan
UPDATE: Tambah 70 Kasus di Jakarta, 462 Pasien Covid-19 Masih Dirawat

UPDATE: Tambah 70 Kasus di Jakarta, 462 Pasien Covid-19 Masih Dirawat

Megapolitan
Respons Sahroni Diminta Mundur sebagai Ketua Pelaksana Formula E Jakarta

Respons Sahroni Diminta Mundur sebagai Ketua Pelaksana Formula E Jakarta

Megapolitan
Besi Penutup Gorong-gorong di Margonda Dicuri, 2 Minggu Belum Diperbaiki

Besi Penutup Gorong-gorong di Margonda Dicuri, 2 Minggu Belum Diperbaiki

Megapolitan
2,5 Juta Warga Jakarta Belum Divaksin Covid-19 Dosis Kedua

2,5 Juta Warga Jakarta Belum Divaksin Covid-19 Dosis Kedua

Megapolitan
BEM UI Pecat Seorang Pengurusnya Terkait Kekerasan Seksual

BEM UI Pecat Seorang Pengurusnya Terkait Kekerasan Seksual

Megapolitan
Kota Bogor Turun ke PPKM Level 2, Kemungkinan karena Klaster PTM Terbatas

Kota Bogor Turun ke PPKM Level 2, Kemungkinan karena Klaster PTM Terbatas

Megapolitan
RSUD Kota Depok Siapkan Tangki Oksigen Kapasitas 10 Ton untuk Antisipasi Gelombang Ketiga Covid-19

RSUD Kota Depok Siapkan Tangki Oksigen Kapasitas 10 Ton untuk Antisipasi Gelombang Ketiga Covid-19

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.