Kompas.com - 27/06/2013, 16:13 WIB
Kompleks perumahan TNI AD di Kelurahan Kesambi, Kota Cirebon, Jawa Barat, terbakar, Selasa (16/4/2013) sore, sekitar pukul 16.15. Sebanyak 28 rumah di Blok C kompleks tersebut hangus terbakar. Tidak ada korban jiwa dalam musibah ini. Api yang diduga dari rumah salah satu warga dengan cepat merambat lantaran konstruksi bangunan yang sebagian besar terbuat dari kayu dan bambu. Polis masih menyelidiki penyebab kebakaran tersebut. Akibat peristiwa itu, sekitar 150 warga kompleks diungsikan ke masjid dan Balai Pertemuan Kampung (Baperkam) setempat.

KOMPAS/RINI KUSTIASIHKompleks perumahan TNI AD di Kelurahan Kesambi, Kota Cirebon, Jawa Barat, terbakar, Selasa (16/4/2013) sore, sekitar pukul 16.15. Sebanyak 28 rumah di Blok C kompleks tersebut hangus terbakar. Tidak ada korban jiwa dalam musibah ini. Api yang diduga dari rumah salah satu warga dengan cepat merambat lantaran konstruksi bangunan yang sebagian besar terbuat dari kayu dan bambu. Polis masih menyelidiki penyebab kebakaran tersebut. Akibat peristiwa itu, sekitar 150 warga kompleks diungsikan ke masjid dan Balai Pertemuan Kampung (Baperkam) setempat.
|
EditorAna Shofiana Syatiri

JAKARTA, KOMPAS.com — Gubernur DKI Joko Widodo memastikan di setiap permukiman padat di Jakarta akan disediakan peralatan pemadam kebakaran mulai September 2013 mendatang. Saat ini, peralatan itu masih melalui tahap lelang.

"Semua yang berkaitan dengan kebakaran yang bisa kita beri ke masyarakat. Ada pawang geni, ada stok air yang bisa buat memadamkan api," ujar Jokowi di Jakarta, Kamis (27/6/2013).

Jokowi mengakui, saat ini pihaknya belum memiliki manajemen penanganan kebakaran yang terpadu. Seluruh peralatan milik Dinas Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran sudah baik, tetapi pemberdayaan masyarakat, kata Joko Widodo, masih perlu pembinaan lebih lanjut.

"Pemberdayaan masyarakat di wilayah rawan kebakaran itu yang masih kurang. Peralatan di dinas sudah baik, tinggal masyarakatnya saja digenjot. Nah, melalui peralatan inilah," lanjutnya.

Seperti diketahui, DKI Jakarta memiliki beberapa titik permukiman padat penduduk yang rawan kebakaran. Di antaranya adalah daerah Tambora, Jakarta Barat; Rawa Bebek, Jakarta Timur; Tanah Tinggi, Jakarta Pusat; Pademangan, Jakarta Utara; dan beberapa wilayah lainnya.

Penyebab amukan api rata-rata adalah kelalaian manusia. Mulai dari kondisi rumah semipermanen saling berimpitan, lingkungan yang kumuh, ketidakteraturan tata kelola kabel listrik, hingga kebiasaan warga yang kerap mengabaikan hal sepele pada peralatan rumah tangga.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca tentang


    Video Rekomendasi

    Rekomendasi untuk anda
    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Pasien Covid-19 Kabupaten Bekasi Kini 1.609 Orang

    Pasien Covid-19 Kabupaten Bekasi Kini 1.609 Orang

    Megapolitan
    Langgar Ganjil Genap, Petugas Putar Balik 2.000 Kendaraan di Kota Bogor

    Langgar Ganjil Genap, Petugas Putar Balik 2.000 Kendaraan di Kota Bogor

    Megapolitan
    Ada Nobar Euro 2020 di Pamulang, Wali Kota Tangsel Kerahkan Anggota untuk Razia

    Ada Nobar Euro 2020 di Pamulang, Wali Kota Tangsel Kerahkan Anggota untuk Razia

    Megapolitan
    Depok Buka Vaksinasi Covid-19 untuk Warga Usia 18 Tahun ke Atas

    Depok Buka Vaksinasi Covid-19 untuk Warga Usia 18 Tahun ke Atas

    Megapolitan
    37 Balita Positif Covid-19 di Depok Hari Ini, Sama dengan Lansia

    37 Balita Positif Covid-19 di Depok Hari Ini, Sama dengan Lansia

    Megapolitan
    Depok Catat 543 Kasus Baru Covid-19, Terbanyak Kedua Sepanjang Sejarah

    Depok Catat 543 Kasus Baru Covid-19, Terbanyak Kedua Sepanjang Sejarah

    Megapolitan
    Rekor Lagi, 4.895 Kasus Baru Covid-19 di Jakarta Hari Ini

    Rekor Lagi, 4.895 Kasus Baru Covid-19 di Jakarta Hari Ini

    Megapolitan
    Covid-19 di Bekasi Naik Hampir 90 Persen, Wali Kota: Bukan Meningkat, tapi Melonjak Vertikal!

    Covid-19 di Bekasi Naik Hampir 90 Persen, Wali Kota: Bukan Meningkat, tapi Melonjak Vertikal!

    Megapolitan
    Palak Pedagang Dimsum, 2 Pria yang Mengaku Jawara di Serpong Ditangkap

    Palak Pedagang Dimsum, 2 Pria yang Mengaku Jawara di Serpong Ditangkap

    Megapolitan
    Masih Banyak Warga yang Enggan Disuntik Vaksin Covid-19, Apa Alasan Mereka?

    Masih Banyak Warga yang Enggan Disuntik Vaksin Covid-19, Apa Alasan Mereka?

    Megapolitan
    138 Pasien Covid-19 Jalani Isolasi di Graha Wisata Ragunan, Kapasitas Ruangan Tersedia Tinggal 6 Kamar

    138 Pasien Covid-19 Jalani Isolasi di Graha Wisata Ragunan, Kapasitas Ruangan Tersedia Tinggal 6 Kamar

    Megapolitan
    Warga Ber-KTP Non DKI Terpapar Covid-19 di Jakarta, Ini Cara untuk Mendapatkan Perawatan

    Warga Ber-KTP Non DKI Terpapar Covid-19 di Jakarta, Ini Cara untuk Mendapatkan Perawatan

    Megapolitan
    13 Tahun MRT Jakarta: Transformasi dan Kolaborasi

    13 Tahun MRT Jakarta: Transformasi dan Kolaborasi

    Megapolitan
    Para Pesepeda Tolak Wacana Pembongkaran Jalur Sepeda Sudirman-Thamrin

    Para Pesepeda Tolak Wacana Pembongkaran Jalur Sepeda Sudirman-Thamrin

    Megapolitan
    RS Mulai Penuh, Anies: Hindari Bepergian yang Tidak Perlu, Nanti Menyesal

    RS Mulai Penuh, Anies: Hindari Bepergian yang Tidak Perlu, Nanti Menyesal

    Megapolitan
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X