Kompas.com - 01/07/2013, 14:51 WIB
Tiket perjalanan KRL Ekonomi Palmerah-Serpong di hari terakhir beroperasi, Senin (6/52013). Mulai hari ini, Selasa (7/5/2013), Seluruh perjalanan KRL Ekonomi di lintas Tanah abang-Serpong dihapus dan digantikan rangkaian Commuter Line.
KOMPAS/WISNU WIDIANTOROTiket perjalanan KRL Ekonomi Palmerah-Serpong di hari terakhir beroperasi, Senin (6/52013). Mulai hari ini, Selasa (7/5/2013), Seluruh perjalanan KRL Ekonomi di lintas Tanah abang-Serpong dihapus dan digantikan rangkaian Commuter Line.
EditorAna Shofiana Syatiri

JAKARTA, KOMPAS.com — Turunnya biaya perjalanan secara drastis sejak berlakunya Tarif Progresif KRL Commuter Line Jabodetabek disambut gembira banyak orang, khususnya kalangan penumpang kelas ekonomi. Namun, murahnya tarif baru komuter ini juga menimbulkan masalah baru.

Murahnya tarif komuter dari semula Rp 8.000 (jauh dekat sama saja) menjadi cukup Rp 2.000 untuk lima stasiun pertama membuat semua orang ingin menumpang kereta. Dampaknya, antrean mengular panjang karena lamanya proses pembelian tiket elektronik Commuter Line di loket.

Ini terjadi setidaknya di Stasiun Sudimara, Tangerang Selatan, ataupun di Stasiun Palmerah, Jakarta Pusat, Senin (1/7/2013) pagi. Proses pembelian tiket elektronik memerlukan proses pendataan.

Saat membeli tiket, penumpang akan ditanya stasiun tujuan. Setelah mengetahui stasiun tujuan, petugas loket melakukan input data ke komputer. Beberapa detik kemudian, keluar tiket elektronik secara otomatis.

Proses ini butuh waktu lebih lama dibanding karcis tiket yang tinggal sobek kemudian penumpang mendapat uang kembali. Proses bisa tambah lama kalau komputerisasi error kemudian petugas mengalihkan ke loket sebelahnya.

Akibat proses lebih lama di loket, antrean karcis mengular sampai menutupi pintu masuk parkir Stasiun Sudimara. "Tin, tiiiin... tiiinnn," bunyi klakson mobil pun bersahutan meminta antrean penumpang sedikit minggir untuk memberi jalan mobil yang masuk area parkir.
 
Akibat murahnya tarif baru, jumlah penumpang pun membeludak, sedangkan frekuensi perjalanan tidak ditambah. Apalagi terjadi migrasi penumpang dari kereta kelas ekonomi (jurusan Rangkas Bitung-Jakarta) ke KRL Commuter Line.

"Ya, murahnya pasti kita senang. Tapi kalau ini dibayar dengan makin berjubelnya penumpang, ini mengancam keselamatan," keluh Dian, seorang penumpang yang bekerja sebagai pegawai bank swasta.

Dian berharap frekuensi komuter ditambah. Apalagi, di depan mata Dian, seorang wanita hamil jatuh pingsan ketika berdesakan di dalam komuter.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jadwal Imsak dan Buka Puasa di Kota Bogor Hari Ini, 19 April 2021

Jadwal Imsak dan Buka Puasa di Kota Bogor Hari Ini, 19 April 2021

Megapolitan
Pencuri di Jatinegara Buron, Mengaku Polisi dan Tembak Korban Pakai Airsoft Gun

Pencuri di Jatinegara Buron, Mengaku Polisi dan Tembak Korban Pakai Airsoft Gun

Megapolitan
Pembobol Indekos Sekaligus Pembegal di Pulogadung Diamankan Polisi

Pembobol Indekos Sekaligus Pembegal di Pulogadung Diamankan Polisi

Megapolitan
Akhir Pekan Ini, Tidak Ada Lonjakan Penumpang di Stasiun Gambir dan Pasar Senen

Akhir Pekan Ini, Tidak Ada Lonjakan Penumpang di Stasiun Gambir dan Pasar Senen

Megapolitan
Viral Video Pengeroyokan Anggota TNI dan Polri di Jaksel, Satu Tewas

Viral Video Pengeroyokan Anggota TNI dan Polri di Jaksel, Satu Tewas

Megapolitan
UPDATE 18 April: 950 Kasus Baru Covid-19 di DKI

UPDATE 18 April: 950 Kasus Baru Covid-19 di DKI

Megapolitan
UPDATE 18 April: 10.628 Kasus Covid-19 di Tangsel, 554 Pasien Masih Dirawat

UPDATE 18 April: 10.628 Kasus Covid-19 di Tangsel, 554 Pasien Masih Dirawat

Megapolitan
Kasus Tembok Rumah Roboh di Benhil yang Tewaskan 2 Pekerja Berakhir Damai

Kasus Tembok Rumah Roboh di Benhil yang Tewaskan 2 Pekerja Berakhir Damai

Megapolitan
Mulai Senin Besok, MRT Jakarta Ubah Jam Operasional Kereta

Mulai Senin Besok, MRT Jakarta Ubah Jam Operasional Kereta

Megapolitan
Jadwal Buka Puasa dan Maghrib Wilayah Depok Hari Ini, 18 April 2021

Jadwal Buka Puasa dan Maghrib Wilayah Depok Hari Ini, 18 April 2021

Megapolitan
Jadwal Buka Puasa dan Shalat Maghrib di Tangerang Raya Hari Ini, 18 April 2021

Jadwal Buka Puasa dan Shalat Maghrib di Tangerang Raya Hari Ini, 18 April 2021

Megapolitan
Mayat Laki-laki Ditemukan di Saluran Air di Pasar Rebo Jaktim

Mayat Laki-laki Ditemukan di Saluran Air di Pasar Rebo Jaktim

Megapolitan
Bayi Laki-Laki Terbungkus Kain Ditemukan di Pinggir Jalan Ciputat Timur

Bayi Laki-Laki Terbungkus Kain Ditemukan di Pinggir Jalan Ciputat Timur

Megapolitan
Jadwal Buka Puasa dan Shalat Magrib di Bekasi Hari Ini, 18 April 2021

Jadwal Buka Puasa dan Shalat Magrib di Bekasi Hari Ini, 18 April 2021

Megapolitan
Jadwal Buka Puasa dan Shalat Maghrib di Bogor Hari Ini, 18 April 2021

Jadwal Buka Puasa dan Shalat Maghrib di Bogor Hari Ini, 18 April 2021

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X