Kompas.com - 02/07/2013, 09:48 WIB
EditorLaksono Hari Wiwoho

Hal sama juga terjadi saat penumpang hendak keluar dari peron. Di Stasiun Palmerah, penumpang yang turun bertemu dengan penumpang yang masuk peron sehingga membuat antrean panjang karena gerbang elektronik tak dipisah untuk masuk ke peron dan keluar dari peron.

Lamanya mengantre di stasiun menyebabkan penumpang terlambat sampai ke tempat tujuan. Abdul Wahab (59), warga Bogor Barat yang bekerja di Juanda, Jakarta Pusat, misalnya, sudah tiba di Stasiun Besar Bogor pukul 06.15. Ia semula berencana menggunakan KRL commuter line pukul 06.30. Namun, hingga pukul 07.15, ia masih berada 10 meter dari loket. Ia akhirnya terlambat masuk kantor pukul 08.00. Biasanya, ia hanya perlu antre 10-15 menit.

Dia meminta PT Kereta Api Indonesia membenahi sistem pelayanan penjualan tiket agar lebih efisien dan cepat sehingga tak merugikan penumpang.

Meski demikian, ia menyambut baik penerapan tarif progresif karena biaya perjalanan menjadi lebih murah. Ia bisa menghemat separuh pengeluaran dengan menggunakan commuter line.

Perubahan perilaku

Antrean itu membuat beberapa penumpang sempat cekcok. Penumpang yang berusaha menyerobot antrean dihardik penumpang yang antre. Beberapa pedagang yang ”menyusup” ke area stasiun juga terlihat menawarkan tiket ke penumpang dengan meminta lebihan uang Rp 2.000 dari tarif.

Beberapa penumpang yang enggan antre juga keluar dari pintu elektronik yang terlihat berdesakan. Beberapa orang yang tak sabar juga memilih menerobos palang pintu.

”Jumlahnya di luar perkiraan. Banyak wajah baru yang sebelumnya tidak menggunakan KRL commuter line,” ujar Wakil Kepala Stasiun Besar Bogor Darmin.

Hingga Senin siang, sebanyak 20.345 tiket terjual di Stasiun Besar Bogor. Darmin tidak punya data perbandingan KRL commuter line dan KRL ekonomi. Namun, kasatmata, jumlah pengguna KRL commuter line melonjak dibandingkan sebelum penerapan tarif progresif.

Hal itu yang menjadi penyebab antrean panjang. Di sisi lain, petugas membutuhkan waktu lebih lama karena untuk memberikan tiket perjalanan tunggal harus memerinci stasiun tujuan akhir. Belum lagi mengembalikan uang penumpang.

Untuk mengurangi antrean di loket, Kepala Stasiun Sudimara Suardi menyarankan agar penumpang memanfaatkan tiket multitrip. Hingga kemarin, pihaknya sudah menjual 2.600 tiket multitrip. ”Dengan tiket multitrip, penumpang tak perlu antre di loket, tetapi langsung masuk ke peron,” ujarnya.

Tentu, demi perubahan yang lebih baik, PT KAI tak bisa berjalan sendiri. Penumpang harus menyesuaikan perilaku dengan sistem. (Gal/ray/PIN/K10)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Luncurkan Program Wirausaha Baru, DKUM Depok Ingin Bangkitkan 2.000 UMKM Terdampak Pandemi

Luncurkan Program Wirausaha Baru, DKUM Depok Ingin Bangkitkan 2.000 UMKM Terdampak Pandemi

Megapolitan
Kasus Pencurian Cokelat di Alfamart Tangerang Berujung Damai

Kasus Pencurian Cokelat di Alfamart Tangerang Berujung Damai

Megapolitan
100.135 Butir Ekstasi Gagal Diselundupkan ke Jakarta, di Pasar Gelap Nilainya Rp 50 Miliar

100.135 Butir Ekstasi Gagal Diselundupkan ke Jakarta, di Pasar Gelap Nilainya Rp 50 Miliar

Megapolitan
Mayat Pria Ditemukan di Toko Ponsel di Serpong, Diduga Meninggal karena Sakit

Mayat Pria Ditemukan di Toko Ponsel di Serpong, Diduga Meninggal karena Sakit

Megapolitan
Narkoba Jaringan Internasional Diselundupkan Lewat Sungai di Sumatera, lalu Diangkut Jalur Darat ke Jakarta

Narkoba Jaringan Internasional Diselundupkan Lewat Sungai di Sumatera, lalu Diangkut Jalur Darat ke Jakarta

Megapolitan
Sedang Cari Barang Rongsokan, Warga Bogor Temukan Mayat Bayi di dalam Kantong Plastik

Sedang Cari Barang Rongsokan, Warga Bogor Temukan Mayat Bayi di dalam Kantong Plastik

Megapolitan
Ridwan Kamil Dorong Tokoh Cibarusah Bekasi jadi Pahlawan Nasional

Ridwan Kamil Dorong Tokoh Cibarusah Bekasi jadi Pahlawan Nasional

Megapolitan
2 Kelompok Tawuran dan Keroyok Pemuda hingga Tewas, Bermula dari Saling Tantang di Medsos

2 Kelompok Tawuran dan Keroyok Pemuda hingga Tewas, Bermula dari Saling Tantang di Medsos

Megapolitan
DPRD DKI Bentuk Pansus Jakarta Pasca-perpindahan IKN, Wagub Riza: Silakan Saja

DPRD DKI Bentuk Pansus Jakarta Pasca-perpindahan IKN, Wagub Riza: Silakan Saja

Megapolitan
2 Kurir Narkoba Jaringan Malaysia Ditangkap, Diupah Rp 66 Juta

2 Kurir Narkoba Jaringan Malaysia Ditangkap, Diupah Rp 66 Juta

Megapolitan
Tebet Eco Park Kembali Beroperasi, Wagub DKI: PKL Dilarang Berjualan di Sekitarnya

Tebet Eco Park Kembali Beroperasi, Wagub DKI: PKL Dilarang Berjualan di Sekitarnya

Megapolitan
Mobil Boks Hilang Kendali dan Tabrak Separator Busway di Kebon Jeruk

Mobil Boks Hilang Kendali dan Tabrak Separator Busway di Kebon Jeruk

Megapolitan
Remaja 17 Tahun Tewas Dikeroyok di Bekasi, Polisi Tetapkan 5 Tersangka

Remaja 17 Tahun Tewas Dikeroyok di Bekasi, Polisi Tetapkan 5 Tersangka

Megapolitan
Cerita Orangtua Korban Pengeroyokan Siswa SMAN 70, Berani Melapor untuk Beri Efek Jera

Cerita Orangtua Korban Pengeroyokan Siswa SMAN 70, Berani Melapor untuk Beri Efek Jera

Megapolitan
Sedang Mancing Ikan, Pria di Bogor Temukan Mayat dengan Tubuh Tergantung di Bawah Jembatan

Sedang Mancing Ikan, Pria di Bogor Temukan Mayat dengan Tubuh Tergantung di Bawah Jembatan

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.