Kompas.com - 16/07/2013, 17:34 WIB
Pasar Tanah Abang yang selalu sibuk, Jakarta (17/6/2013). Terlihat mikolet yang kesulitan dan dengan sangat hati-hati berbelok di antara deretan lapak PKL yang tumpah memakan hampir separuh badan jalan. ESTU SURYOWATIPasar Tanah Abang yang selalu sibuk, Jakarta (17/6/2013). Terlihat mikolet yang kesulitan dan dengan sangat hati-hati berbelok di antara deretan lapak PKL yang tumpah memakan hampir separuh badan jalan.
|
EditorAna Shofiana Syatiri

JAKARTA, KOMPAS.com
 — Pedagang kaki lima (PKL) Pasar Tanah Abang menawar kebijakan Pemprov DKI yang meminta mereka masuk ke Blok G sebelum Lebaran. Mereka meminta diberi waktu hingga habis Lebaran.

Menurut Tri, seorang pedagang celana panjang, saat Ramadhan merupakan musim panen PKL. Jika dipaksa masuk ke Blok G, PKL akan mengalami penurunan omzet yang berdampak pada kerugian.

"Enggak mau (dipindahkan ke Blok G), soalnya deket Lebaran. Sayanglah," ujar Tri (38) saat dijumpai Kompas.com di Pasar Tanah Abang, Jakarta, Selasa (16/7/2013).

Jika PKL ditata sehabis Lebaran, Tri mengaku siap direlokasi masuk ke Blok G. Bahkan, jika harus membayar saat mengambil kunci, dia pun bersedia.

"Ya, Rp 3 juta-Rp 4 jutalah. Itu maksimal (harga) yang bisa dibayar pedagang," ucap Tri. Menurutnya, pada 2005, pedagang yang direlokasi ke Blok G harus membayar uang ambil kunci Rp 1,5 juta.

Hermansyah (43), pedagang pakaian anak, juga mengaku siap mendukung program penertiban PKL oleh Pemprov DKI. Hanya, sama dengan Tri, dia meminta penataan PKL dilakukan sehabis Lebaran.

"Kalau inisiatif ditata sama Jokowi, ya habis Lebaran. Mungkin ini bisa jadi solusinya (mengatasi kemacetan). Cuma, bagaimana pendekatan ke pedagangnya," imbuh Hermansyah.

Menurutnya, memindahkan PKL ke Blok G di tengah meningkatnya pembelian masyarakat jelang Lebaran adalah keputusan yang tergesa-gesa. Pemprov DKI Jakarta diminta bersabar setidaknya sampai Lebaran usai sembari membenahi Blok G yang di mata pedagang terkenal dengan sebutan "blok mati".

"Kalau saat ini terlalu cepat ambil keputusan," kata Hermansyah.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kesal Diputus Cinta dan Ingin Peras Korban, Pria di Tangsel Ancam Sebar Foto Vulgar

Kesal Diputus Cinta dan Ingin Peras Korban, Pria di Tangsel Ancam Sebar Foto Vulgar

Megapolitan
Pesimis Sirkuit Formula E Rampung 3 Bulan, Ketua DPRD: Ini Bukan Lintasan Tamiya

Pesimis Sirkuit Formula E Rampung 3 Bulan, Ketua DPRD: Ini Bukan Lintasan Tamiya

Megapolitan
Sumur Resapan Diusulkan jadi Kolam Lele, Ini Respons Wagub DKI

Sumur Resapan Diusulkan jadi Kolam Lele, Ini Respons Wagub DKI

Megapolitan
13 Orang Terpapar Covid-19, PN Jakarta Barat Ditutup Sementara, Hanya Layani Urusan Mendesak

13 Orang Terpapar Covid-19, PN Jakarta Barat Ditutup Sementara, Hanya Layani Urusan Mendesak

Megapolitan
Prakiraan Cuaca BMKG: Sebagian Jabodetabek Hujan Ringan hingga Sore

Prakiraan Cuaca BMKG: Sebagian Jabodetabek Hujan Ringan hingga Sore

Megapolitan
[POPULER JABODETABEK] Tender Formula E Dicurigai | Wakil Ketua DPRD Kompak Laporkan Ketua Dewan

[POPULER JABODETABEK] Tender Formula E Dicurigai | Wakil Ketua DPRD Kompak Laporkan Ketua Dewan

Megapolitan
Keluarga Kakek 89 Tahun Korban Pengeroyokan Berharap Pelaku Lain Segera Ditangkap

Keluarga Kakek 89 Tahun Korban Pengeroyokan Berharap Pelaku Lain Segera Ditangkap

Megapolitan
Bertambah 11 Kasus, Total 91 Orang Terpapar Omicron di Jakarta Selatan

Bertambah 11 Kasus, Total 91 Orang Terpapar Omicron di Jakarta Selatan

Megapolitan
Digerebek Polisi, Pegawai Pinjol Ilegal Hanya Bisa Tertunduk dan Tutupi Wajah

Digerebek Polisi, Pegawai Pinjol Ilegal Hanya Bisa Tertunduk dan Tutupi Wajah

Megapolitan
Ketua DPRD DKI Ingin Jakarta Tetap Jadi Daerah Khusus meski Ibu Kota Dipindah

Ketua DPRD DKI Ingin Jakarta Tetap Jadi Daerah Khusus meski Ibu Kota Dipindah

Megapolitan
Ketua DPRD DKI Usul Sumur Resapan Jadi Tempat Beternak Lele

Ketua DPRD DKI Usul Sumur Resapan Jadi Tempat Beternak Lele

Megapolitan
Pinjol Ilegal di PIK yang Digerebek Polisi Pekerjakan Anak di Bawah Umur

Pinjol Ilegal di PIK yang Digerebek Polisi Pekerjakan Anak di Bawah Umur

Megapolitan
Wali Kota Tangerang Selatan Sebut Dua Penyebab Kasus Covid-19 Melonjak

Wali Kota Tangerang Selatan Sebut Dua Penyebab Kasus Covid-19 Melonjak

Megapolitan
Kuasa Hukum Keluarga Kakek 89 Tahun Sebut Pengeroyokan Tak Terkait Kasus Sengketa Tanah

Kuasa Hukum Keluarga Kakek 89 Tahun Sebut Pengeroyokan Tak Terkait Kasus Sengketa Tanah

Megapolitan
Datangi Polres Jakarta Timur, Keluarga Kakek Korban Pengeroyokan Minta Semua Pelaku Ditangkap

Datangi Polres Jakarta Timur, Keluarga Kakek Korban Pengeroyokan Minta Semua Pelaku Ditangkap

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.