Blok "Mati" Itu Membuat PKL Tanah Abang Trauma

Kompas.com - 16/07/2013, 19:04 WIB
Sejumlah kios di salah satu deret di lantai tiga bangunan pasar Blok G, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (11/7/2013). Diduga karena tak ditempati, banyak kios di tempat tersebut yang pada akhirnya rusak dan tak layak untuk ditempati Alsadad RudiSejumlah kios di salah satu deret di lantai tiga bangunan pasar Blok G, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (11/7/2013). Diduga karena tak ditempati, banyak kios di tempat tersebut yang pada akhirnya rusak dan tak layak untuk ditempati
|
EditorAna Shofiana Syatiri

JAKARTA, KOMPAS.com — Bagi pedagang kaki lima (PKL) Pasar Tanah Abang, Blok G adalah blok "mati". Mereka mengaku trauma ditempatkan di blok yang nyaris tak tersentuh pengunjung pasar tersebut.

Hermansyah (43), salah seorang PKL Tanah Abang, mengaku merasakan bagaimana lapaknya sama sekali tidak mendapat pengunjung selama seharian setelah PKL direlokasi ke Blok G pada 2005. Ketika Pemprov DKI meminta mereka masuk ke blok tersebut lagi, yang terbayang langsung turunnya omzet.

"Penurunannya (omzet) jauh banget. Kadang sehari bisa enggak laku sama sekali," kenang Hermansyah ditemui Kompas.com, Selasa (16/7/2013). 

Tahun 2005, Blok G dibagi menjadi dua bagian. Ada yang siap pakai dan ada yang masih digarap. Hermansyah termasuk yang beruntung mendapatkan kios yang sudah siap pakai. Sementara Akmadi (40), dia mendapat kios di Blok G yang belum rampung digarap.

"Kan (pedagang) terbengkalai jadinya. (Pedagang) yang dapat kios belum jadi, otomatis mau nempat di mana?" ungkap Akmadi.

Berdasarkan pengalaman tersebut, para pedagang meminta Pemprov DKI serius melakukan persiapan matang untuk merelokasi PKL ke Blok G. Tak hanya soal fasilitas di bangunannya, tapi juga akses ke sana, program pembinaan, sampai pembagian kios harus adil dan merata.

Sementara itu, terkait rencana Pemprov yang akan memprioritaskan PKL ber-KTP DKI Jakarta, pedagang lain yang tak mau disebut namanya mengaku kasihan dengan pedagang yang tidak memiliki KTP DKI. Pria paruh baya yang sejak 1982 hijrah ke Ibu Kota ini mengaku membuat KTP Jakarta dengan harga masih murah, hanya Rp 200.000.

"Apa perlu bikin KTP dua? Entar disangka teroris," kata dia.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Muncul Rencana PSI Interpelasi Anies soal Banjir, Apa Maknanya?

Muncul Rencana PSI Interpelasi Anies soal Banjir, Apa Maknanya?

Megapolitan
UPDATE 25 Februari: Ada 40 Kasus Baru Covid-19 di Kota Tangerang, Totalnya 7.145

UPDATE 25 Februari: Ada 40 Kasus Baru Covid-19 di Kota Tangerang, Totalnya 7.145

Megapolitan
Musnahkan 3.140 Botol Miras, Wali Kota Tangerang: Peredaran Miras di Kota Tangerang Ilegal

Musnahkan 3.140 Botol Miras, Wali Kota Tangerang: Peredaran Miras di Kota Tangerang Ilegal

Megapolitan
Komplotan Pengedar Narkoba yang Ditangkap Hendak Edarkan Sabu Asal Malaysia di Lombok

Komplotan Pengedar Narkoba yang Ditangkap Hendak Edarkan Sabu Asal Malaysia di Lombok

Megapolitan
Mayat Perempuan Dalam Plastik Sampah di Bogor Teridentifikasi, Korban adalah Pelajar SMA

Mayat Perempuan Dalam Plastik Sampah di Bogor Teridentifikasi, Korban adalah Pelajar SMA

Megapolitan
Terdampak Banjir Kabupaten Bekasi, 2 Jalur KA antara Stasiun Kedunggedeh-Lemah Abang Selesai Diperbaiki

Terdampak Banjir Kabupaten Bekasi, 2 Jalur KA antara Stasiun Kedunggedeh-Lemah Abang Selesai Diperbaiki

Megapolitan
Berkaca dari Lokasi Penembakan di Cengkareng, Kasatpol PP DKI Minta Warga Laporkan Pelanggaran Prokes

Berkaca dari Lokasi Penembakan di Cengkareng, Kasatpol PP DKI Minta Warga Laporkan Pelanggaran Prokes

Megapolitan
Iming-imingi Uang Rp 500.000, WNA Cabuli Remaja hingga 4 Kali

Iming-imingi Uang Rp 500.000, WNA Cabuli Remaja hingga 4 Kali

Megapolitan
12.000 Lansia di Mampang Prapatan Akan Divaksinasi, Puskesmas Tunggu Vaksin Covid-19 dari Kemenkes

12.000 Lansia di Mampang Prapatan Akan Divaksinasi, Puskesmas Tunggu Vaksin Covid-19 dari Kemenkes

Megapolitan
BPPT: Tak Ada Penumpukan Awan di Jabodetabek Setelah Modifikasi Cuaca, Curah Hujan Menurun

BPPT: Tak Ada Penumpukan Awan di Jabodetabek Setelah Modifikasi Cuaca, Curah Hujan Menurun

Megapolitan
PSI Ingin Interpelasi Anies soal Banjir, Wakil Ketua Fraksi Demokrat: Saya Pribadi Tak Setuju

PSI Ingin Interpelasi Anies soal Banjir, Wakil Ketua Fraksi Demokrat: Saya Pribadi Tak Setuju

Megapolitan
PSI Ingin Interpelasi Anies soal Banjir, Fraksi PDI-P Sebut Mending Evaluasi Teknis bersama SKPD

PSI Ingin Interpelasi Anies soal Banjir, Fraksi PDI-P Sebut Mending Evaluasi Teknis bersama SKPD

Megapolitan
Cegah Banjir di Jabodetabek, 16,4 Ton Garam Telah Ditebar dari Atas Perairan Selat Sunda

Cegah Banjir di Jabodetabek, 16,4 Ton Garam Telah Ditebar dari Atas Perairan Selat Sunda

Megapolitan
Bela Anies, Fraksi PKS Nilai Interpelasi yang Diajukan PSI Hanya Pencitraan

Bela Anies, Fraksi PKS Nilai Interpelasi yang Diajukan PSI Hanya Pencitraan

Megapolitan
Fraksi PSI Cari 'Teman' untuk Interpelasi Anies soal Banjir Jakarta

Fraksi PSI Cari "Teman" untuk Interpelasi Anies soal Banjir Jakarta

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X