Kompas.com - 17/07/2013, 09:08 WIB
Suasana Pasar Tanah Abang yang tak pernah lengang, Jakarta (17/6/2013). Setiap kali direlokasi, PKL selalu kembali memadati badan jalan, karena di lokasi baru sepi pembeli. ESTU SURYOWATISuasana Pasar Tanah Abang yang tak pernah lengang, Jakarta (17/6/2013). Setiap kali direlokasi, PKL selalu kembali memadati badan jalan, karena di lokasi baru sepi pembeli.
|
EditorAna Shofiana Syatiri

JAKARTA, KOMPAS.com — Pedagang kaki lima (PKL) Pasar Tanah Abang, Jakarta, mengaku keberadaan mereka berkontribusi terhadap kemacetan Ibu Kota. Lokasi berjualan yang tak hanya di bahu tetapi juga badan jalan membuat arus lalu lintas tersendat.

"Iya sih, kendalanya begitu (bikin macet)," ujar Tri (38), salah seorang PKL, kepada Kompas.com, Selasa (16/7/2013).

Tri yang sehari-hari berjualan celana panjang mengaku mau dipindahkan ke Blok G asalkan ramai pengunjung. Ia optimis pengunjung akan berdatangan jika semua pedagang kompak menempati Blok G.

Ia berharap pengalaman relokasi 2005 lalu tidak terulang. Permasalahan yang terjadi kala itu adalah sebagian blok belum rampung dibangun. Oleh karenanya, mau tak mau pedagang yang tak kebagian kios kembali ke jalanan.

Namun, selain dikarenakan keberadaan PKL yang memakan lebih dari separuh badan jalan, Tri menyebut bahwa kurangnya lahan parkir juga menjadi penyebab kemacetan. Kondisi itu menyebabkan bermunculannya parkir on-street. Ia berharap, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bisa bijak terhadap usaha informal ini.

Sementara itu, pedagang lain, Akmadi (40), tidak mau hanya PKL yang dituding sebagai biang kemacetan. "Bukan dari PKL aja (yang bikin macet). Lihat tuh mikrolet ngetem sembarangan," ujar Akmadi.

Pria yang sehari-hari berjualan seragam ini mengaku pada dasarnya PKL mengganggu perda (peraturan daerah). Ia pun mengatakan, berjualan di jalan raya melanggar aturan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Cuma ada kebijakan dari pemerintahlah. Orang mau berdikari. Jangan diusir, terus didiemin aja," imbuh dia.



Video Rekomendasi

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pemkot Bogor Siapkan Tempat Isolasi Pasien Covid-19 di Tiap Kelurahan

Pemkot Bogor Siapkan Tempat Isolasi Pasien Covid-19 di Tiap Kelurahan

Megapolitan
Persoalan RSUD Bekasi, Nyaris Gulung Tikar hingga Terpaksa Rawat Pasien di Tikar dan Pikap

Persoalan RSUD Bekasi, Nyaris Gulung Tikar hingga Terpaksa Rawat Pasien di Tikar dan Pikap

Megapolitan
UPDATE 25 Juni: 761 Pasien Covid-19 Dirawat di Tangsel, RS Rujukan Hampir Penuh

UPDATE 25 Juni: 761 Pasien Covid-19 Dirawat di Tangsel, RS Rujukan Hampir Penuh

Megapolitan
Cerita Tenaga Kesehatan Tangani Para Pasien Covid-19 Muda Separah Lansia

Cerita Tenaga Kesehatan Tangani Para Pasien Covid-19 Muda Separah Lansia

Megapolitan
UPDATE 25 Juni: Depok Kembali Catat Rekor, Ada 657 Kasus Baru Covid-19 Hari Ini

UPDATE 25 Juni: Depok Kembali Catat Rekor, Ada 657 Kasus Baru Covid-19 Hari Ini

Megapolitan
UPDATE 25 Juni: Tambah 6.934, Total Kasus Covid-19 di Jakarta Tembus Setengah Juta

UPDATE 25 Juni: Tambah 6.934, Total Kasus Covid-19 di Jakarta Tembus Setengah Juta

Megapolitan
Asrama Haji Pondok Gede Disiapkan Jadi Tempat Isolasi Pasien Covid-19

Asrama Haji Pondok Gede Disiapkan Jadi Tempat Isolasi Pasien Covid-19

Megapolitan
Efektif Tekan Mobilitas, Ganjil Genap di Kota Bogor Diberlakukan Lagi Akhir Pekan Ini

Efektif Tekan Mobilitas, Ganjil Genap di Kota Bogor Diberlakukan Lagi Akhir Pekan Ini

Megapolitan
Penyesuaian Operasional Transportasi Publik: MRT, LRT dan Transjakarta hingga Pukul 21.00

Penyesuaian Operasional Transportasi Publik: MRT, LRT dan Transjakarta hingga Pukul 21.00

Megapolitan
Menangis Tak Mampu Tolong Warga Kritis Covid-19, Wakapolres: Maaf Bu, Tadi Saya Janji Bawa Bapak Selamat

Menangis Tak Mampu Tolong Warga Kritis Covid-19, Wakapolres: Maaf Bu, Tadi Saya Janji Bawa Bapak Selamat

Megapolitan
Jenazah Pasien Covid-19 di Tangsel Mulai Dimakamkan Tanpa Peti Mati karena Stok Habis

Jenazah Pasien Covid-19 di Tangsel Mulai Dimakamkan Tanpa Peti Mati karena Stok Habis

Megapolitan
Pasien Kritis Terbaring di Tikar dan Pikap, Dirut RSUD Kota Bekasi: Covid-19 Itu Nyata

Pasien Kritis Terbaring di Tikar dan Pikap, Dirut RSUD Kota Bekasi: Covid-19 Itu Nyata

Megapolitan
Kasus Covid-19 Meningkat, Pemprov DKI Batasi Kunjungan ke TPU

Kasus Covid-19 Meningkat, Pemprov DKI Batasi Kunjungan ke TPU

Megapolitan
Warga Tangerang Meninggal Usai Divaksinasi Covid-19, IDI Minta Keluarganya Laporkan Kronologi Lengkap

Warga Tangerang Meninggal Usai Divaksinasi Covid-19, IDI Minta Keluarganya Laporkan Kronologi Lengkap

Megapolitan
Dirikan Tenda Darurat, RSUD Tarakan Pinjam Lahan SDN 02 Cideng

Dirikan Tenda Darurat, RSUD Tarakan Pinjam Lahan SDN 02 Cideng

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X