Kompas.com - 06/08/2013, 15:30 WIB
Salah satu ruangan di rumah pemotongan hewan (RPH) Pasar Blok G Tanah Abang, Jakarta, Jumat (19/7/2013). Untuk satu ekor kambing yang dipotong, pengguna jasa membayar sebesar Rp 8.000. KOMPAS.com/ESTU SURYOWATISalah satu ruangan di rumah pemotongan hewan (RPH) Pasar Blok G Tanah Abang, Jakarta, Jumat (19/7/2013). Untuk satu ekor kambing yang dipotong, pengguna jasa membayar sebesar Rp 8.000.
|
EditorLaksono Hari Wiwoho

JAKARTA, KOMPAS.com — Permasalahan tentang keberadaan rumah potong hewan di Tanah Abang, Jakarta Pusat, masih belum menemui titik temu. Para tukang potong hewan di tempat tersebut mengklaim bahwa rumah jagal sebagai ikon di kawasan tersebut. Benarkah demikian?

Aliansi Orang-orang Tenabang untuk RPH Tanah Abang menyebutkan, rumah potong hewan (jagal) kambing adalah salah satu ikon Tanah Abang. Keberadaannya sudah ada sejak awal abad ke-19.

"Sejarah Betawi (Jakarta) menunjukkan para pedagang kambing daerah sekitar Betawi membawa kambing untuk dijual di Pasar Tanah Abang. Si Pitung dari Rawa Belong pun disebutkan pernah menjual kambingnya di situ," sebut aliansi tersebut dalam petisi yang dialamatkan kepada Gubernur DKI Jakarta tersebut. Petisi itu dibuat pada 5 Agustus 2013.

Menanggapi hal itu, Wali Kota Jakarta Pusat Saefullah menilai tak tepat jika kambing dan jagal dijadikan sebagai ikon Tanah Abang. "Ikon? (Kalau) kotor bagaimana?" kata Saefullah ketika dikonfirmasi soal ikon Tanah Abang oleh wartawan, Jakarta, Senin malam (5/8/2013).

Saefullah mengatakan, pasar kambing akan tetap ada di Tanah Abang, salah satunya ada di Jalan Sabeni. Namun, rumah potong hewan atau rumah jagal dipastikan tidak boleh lagi beroperasi di tengah kota.

Selain itu, petisi tadi menyebutkan, sejarawan Betawi, Ridwan Saidi, menyebutkan bahwa Tanah Abang merupakan salah satu situs sejarah perkembangan Kota Batavia (Jakarta). Oleh karena itu, keberadaannya harus dipertahankan.

Dikonfirmasi secara terpisah, Selasa (6/8/2013), Ridwan mengatakan bahwa pasar di mana pun umumnya menjadi tempat perdagangan hewan. Hal ini tak lantas menahbiskan jagal atau kambing menjadi ikon Tanah Abang.

"Kagak ada (disebut ikon), semua pasar juga berdagang hewan. Malah Pasar Jumat (dulu) spesial berdagang kambing benggala. Bedanya kalau di Pasar Tanah Abang, kambing kacang, yang kecil-kecil, bakal disembelih," kata Ridwan di kediamannya di bilangan Bintaro, Jakarta Selatan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ridwan mengatakan, pasar itu ada karena ada konsumen. Ia mencontohkan Pasar Baru yang terkenal dengan Gang Kelinci karena dulu memang menjadi pusat perdagangan kelinci. Waktu itu, kata Ridwan, anak-anak kecil suka memelihara kelinci.

"Dulu itu pasar kelinci. Sekarang enggak ada karena kebutuhan kelinci enggak ada," ujar Ridwan.

Ia mengatakan, Tanah Abang mulai ramai dengan perdagangan kambing dan pemotongan hewan setelah tahun 1930. Sementara itu, keberadaan pasarnya sudah dimulai pada awal abad-19, di mana warga keturunan China berdagang chita atau tekstil. Adapun kaum pribumi berdagang kopi, tuak, nira, dan minum-minuman lain.



Video Rekomendasi

Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Bendera Putih di Pasar Tanah Abang, Pengelola: Sangat Kecil Kemungkinan Oknumnya Pedagang

Bendera Putih di Pasar Tanah Abang, Pengelola: Sangat Kecil Kemungkinan Oknumnya Pedagang

Megapolitan
UPDATE 25 Juli: Kota Bekasi Catat 1.664 Kasus Baru Covid-19

UPDATE 25 Juli: Kota Bekasi Catat 1.664 Kasus Baru Covid-19

Megapolitan
UPDATE 25 Juli: Kota Tangerang Catat 399 Kasus Baru Covid-19

UPDATE 25 Juli: Kota Tangerang Catat 399 Kasus Baru Covid-19

Megapolitan
UPDATE 25 Juli: Kasus Covid-19 di Jakarta Bertambah 5.393, Jumlah Tes Berkurang Dibanding Kemarin

UPDATE 25 Juli: Kasus Covid-19 di Jakarta Bertambah 5.393, Jumlah Tes Berkurang Dibanding Kemarin

Megapolitan
UPDATE 25 Juli: Kasus Positif Covid di Tangsel Bertambah 142, Pasien Meninggal 10 Orang

UPDATE 25 Juli: Kasus Positif Covid di Tangsel Bertambah 142, Pasien Meninggal 10 Orang

Megapolitan
Wali Kota Jakarta Utara Maksimalkan Fungsi Kader Pulih untuk Bantuk Pasien Isoman

Wali Kota Jakarta Utara Maksimalkan Fungsi Kader Pulih untuk Bantuk Pasien Isoman

Megapolitan
Wali Kota Jakarta Utara Ajak Pasien Isoman Lakukan Isolasi Terkendali di Rusun Nagrak

Wali Kota Jakarta Utara Ajak Pasien Isoman Lakukan Isolasi Terkendali di Rusun Nagrak

Megapolitan
Kronologi Penangkapan Dua Pencuri Motor Bersenpi yang Babak Belur Dihajar Massa di Pagedangan

Kronologi Penangkapan Dua Pencuri Motor Bersenpi yang Babak Belur Dihajar Massa di Pagedangan

Megapolitan
Kadin Minta jika PPKM Diperpanjang Mal Dibuka, tetapi Pekerja dan Pengunjung Harus Telah Divaksin

Kadin Minta jika PPKM Diperpanjang Mal Dibuka, tetapi Pekerja dan Pengunjung Harus Telah Divaksin

Megapolitan
Kebakaran Hanguskan Rumah Ketua RT di Tanah Abang

Kebakaran Hanguskan Rumah Ketua RT di Tanah Abang

Megapolitan
Dua Pencuri Motor Bersenjata Api di Pagedangan Keluarkan Tembakan ke Arah Warga

Dua Pencuri Motor Bersenjata Api di Pagedangan Keluarkan Tembakan ke Arah Warga

Megapolitan
Koalisi Masyarakat Tolak Penambahan Sanksi Pidana dan Kewenangan Satpol PP dalam Draf Revisi Perda Covid-19

Koalisi Masyarakat Tolak Penambahan Sanksi Pidana dan Kewenangan Satpol PP dalam Draf Revisi Perda Covid-19

Megapolitan
APLI Gelar Vaksinasi Covid-19 dan Beri Penghargaan untuk Nakes

APLI Gelar Vaksinasi Covid-19 dan Beri Penghargaan untuk Nakes

Megapolitan
5 Persen dari Kasus Aktif Covid-19 di Jakarta Bergejala Berat dan Kritis

5 Persen dari Kasus Aktif Covid-19 di Jakarta Bergejala Berat dan Kritis

Megapolitan
Anies Klaim Pengendalian Wabah Covid-19 di Jakarta Sudah Membaik

Anies Klaim Pengendalian Wabah Covid-19 di Jakarta Sudah Membaik

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X