Stok Air Minum Kemasan di Jakarta Terancam Langka

Kompas.com - 06/08/2013, 19:01 WIB
Ilustrasi: Pekerja membawa galon minuman air minum dengan saling diikat di atas sepeda motor di Jalan Raden Inten, Jakarta Timur, Senin (16/1/2012). KOMPAS/AGUS SUSANTOIlustrasi: Pekerja membawa galon minuman air minum dengan saling diikat di atas sepeda motor di Jalan Raden Inten, Jakarta Timur, Senin (16/1/2012).
EditorLaksono Hari Wiwoho

JAKARTA, KOMPAS.com — Pasokan air minum dalam kemasan di Jakarta dikhawatirkan bakal kembali terganggu hingga setelah Lebaran. Hal ini terjadi akibat pembatasan transportasi distribusi air.

Demikian yang dikatakan Hendro Boreno, Ketua Asosiasi Perusahaan Air Minum dalam Kemasan Indonesia (Aspadin), Selasa (6/8/2013). Ia mengatakan, tahun lalu terjadi kekurangan stok, khususnya pada kemasan galon, karena kebutuhan kantor dan rumah tangga yang cukup tinggi untuk sehari-hari. "Ini yang berakibat pada kenaikan harga tidak terkendali di tingkat pengecer. Biasanya baru normal dua bulan kemudian," katanya.

Menurut Hendro, adanya peraturan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) yang melarang operasional angkutan barang, kecuali kendaraan bersumbu dua dan angkutan barang pokok di Lampung, Jawa, dan Bali, mulai H-4 hingga H+1 Lebaran, membuat distribusi air minum dalam kemasan mengalami gangguan. Ia meminta adanya dispensasi untuk distribusi air minum, paling tidak pada H-3 dan H+1 Lebaran.

"Apalagi, jalur yang dilalui transportasi, yaitu Bogor, Cianjur, Sukabumi menuju Jakarta, tidak mengganggu arus mudik Lebaran," ujarnya.

Menurut Hendro, transportasi air minum dalam kemasan (AMDK) sebenarnya sudah mendapat rekomendasi dari Kementerian Perdagangan untuk disetarakan dengan transportasi kebutuhan pokok di luar sembako. Surat edaran Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Nomor 313/PDN/SD/7/2012 merekomendasikan agar transportasi AMDK disetarakan dengan transportasi kebutuhan bahan pokok yang wajib dijamin kelancaran distribusinya oleh aparat dan instansi terkait.

Namun, rekomendasi air minum kemasan sebagai bahan kebutuhan pokok tersebut terhambat dengan munculnya surat Dirjen Perhubungan Darat Nomor SK: 3820/AJ.201/DRJD/2013. Surat itu berisi pelarangan penggunaan angkutan barang lebih dari dua sumbu.

"Inilah yang menjadi dilema bagi kami, yang membuat transportasi air minum dalam kemasan terganggu pasca-Lebaran," kata Hendro.

Menurut Hendro, air minum dalam kemasan sudah sama dengan kebutuhan bahan pokok makanan lainnya. Ia menilai masyarakat lebih suka menggunakan air minum dalam kemasan dibanding memasak air sendiri karena lebih praktis. Ia berharap agar transportasi AMDK disetarakan dengan transportasi bahan pokok.

Saat ini, sebagian besar industri AMDK berasal dari Jawa Barat karena sumber air banyak berasal dari wilayah tersebut. Perusahaan air minum itu lebih banyak menyuplai ke wilayah Jabodetabek. Kontribusinya mencapai 40 persen dari total permintaan air kemasan di seluruh Indonesia yang mencapai 1,8 miliar liter per bulan atau sekitar 20 miliar liter per tahun.

Baca tentang


Sumber
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Bioskop di Bekasi Dibuka Lagi, Ini Protokol Kesehatannya

Bioskop di Bekasi Dibuka Lagi, Ini Protokol Kesehatannya

Megapolitan
Kronologi Ulah Rasial Guru SMA di Jaktim, Tiba-tiba Ajak Murid Tak Pilih Ketua OSIS Non-Muslim

Kronologi Ulah Rasial Guru SMA di Jaktim, Tiba-tiba Ajak Murid Tak Pilih Ketua OSIS Non-Muslim

Megapolitan
Oknum Guru SMA di Jaktim yang Lakukan Tindakan Rasial Masih Aktif Mengajar

Oknum Guru SMA di Jaktim yang Lakukan Tindakan Rasial Masih Aktif Mengajar

Megapolitan
Mantan Polisi dan Direktur Perusahaan Terlibat Penyelundupan Senjata Api

Mantan Polisi dan Direktur Perusahaan Terlibat Penyelundupan Senjata Api

Megapolitan
Seorang Wanita Bawa Bensin ke Balai Kota DKI, Diduga Hendak Bakar Gedung

Seorang Wanita Bawa Bensin ke Balai Kota DKI, Diduga Hendak Bakar Gedung

Megapolitan
Fahrurrozi Ishaq, Gubernur Tandingan Era Ahok, Wafat karena Covid-19

Fahrurrozi Ishaq, Gubernur Tandingan Era Ahok, Wafat karena Covid-19

Megapolitan
Akun Instagram Kecamatan Rawalumbu Diretas, Foto Profil Diganti Gambar Adegan Hubungan Intim

Akun Instagram Kecamatan Rawalumbu Diretas, Foto Profil Diganti Gambar Adegan Hubungan Intim

Megapolitan
Massa BEM SI Akan Kembali Demo Tolak UU Cipta Kerja Hari Ini

Massa BEM SI Akan Kembali Demo Tolak UU Cipta Kerja Hari Ini

Megapolitan
Kramat Raya 106, Rumah Kos Bersejarah Saksi Bisu Sumpah Pemuda

Kramat Raya 106, Rumah Kos Bersejarah Saksi Bisu Sumpah Pemuda

Megapolitan
Tempat Tidur Isolasi di RS Rujukan Covid-19 di Jakarta Tersisa 41 Persen dan Ruang ICU 39 Persen

Tempat Tidur Isolasi di RS Rujukan Covid-19 di Jakarta Tersisa 41 Persen dan Ruang ICU 39 Persen

Megapolitan
[POPULER JABODETABEK] Imbauan SARA Guru SMA Negeri di Jakarta | Viral Mobil Terobos Palang dan Tak Bayar Tol di Bekasi

[POPULER JABODETABEK] Imbauan SARA Guru SMA Negeri di Jakarta | Viral Mobil Terobos Palang dan Tak Bayar Tol di Bekasi

Megapolitan
Antisipasi Demo Tolak UU Cipta Kerja, Ini Rute Pengalihan Arus Lalu Lintas di Jakarta

Antisipasi Demo Tolak UU Cipta Kerja, Ini Rute Pengalihan Arus Lalu Lintas di Jakarta

Megapolitan
Pemprov DKI Akan Ikut Keputusan Pemerintah Pusat Tak Naikkan UMP 2021

Pemprov DKI Akan Ikut Keputusan Pemerintah Pusat Tak Naikkan UMP 2021

Megapolitan
Mesin Pompa Dikerahkan Atasi Genangan Air di Jalan Raya Jambore

Mesin Pompa Dikerahkan Atasi Genangan Air di Jalan Raya Jambore

Megapolitan
Kasus Baru Covid-19 di Depok Bertambah 84 Orang Kemarin

Kasus Baru Covid-19 di Depok Bertambah 84 Orang Kemarin

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X