Kompas.com - 07/08/2013, 08:00 WIB
Tumpukan limbah di rumah pemotongan hewan (RPH) Blok G Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat (19/7/2013). Limbah ini diambil oleh mobil pikap setiap tiga minggu sekali dan dibuang di Cakung, Jakarta Timur. KOMPAS.com/ESTU SURYOWATITumpukan limbah di rumah pemotongan hewan (RPH) Blok G Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat (19/7/2013). Limbah ini diambil oleh mobil pikap setiap tiga minggu sekali dan dibuang di Cakung, Jakarta Timur.
|
EditorAna Shofiana Syatiri

JAKARTA, KOMPAS.com — Keberadaan rumah jagal kambing di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, ternyata sudah merepotkan sejak zaman Belanda. Polusinya sudah menjadi masalah untuk warga sekitar.

Menurut budayawan Betawi, Ridwan Saidi, pada tahun 1918, ada rumah jagal milik Menir Haas di Gang Kenari. Karena baunya, rumah jagal tersebut ditutup, kemudian diganti oleh Thamrin sebagai gedung pertemuan.

Kala itu, Pemerintah Hindia Belanda, lanjut Ridwan, merasa iba dengan orang-orang pribumi akibat aktivitas jagal Menir Haas. Padahal, Menir Haas adalah salah seorang ahli daging. Daging kualitas super, daging haas, mengacu pada nama si ahli daging itu.

"Sebelum (pasar kambing) Tanah Abang (pada 1930), sudah ada ketentuan itu (tidak boleh ada polusi karena jagal)," jelasnya saat dijumpai di rumahnya, di Bintaro, Jakarta, Selasa (6/8/2013).

Keberadaan pasar kambing di Tanah Abang mulai ramai setelah 1930. Pada saat itu, orang-orang Betawi sangat taat dengan adatnya. Bagi keluarga berada, anak laki-laki yang berumur 10 tahun diberi sepasang kambing, jantan-betina, untuk dipelihara. Beranjak dewasa, anak-anak yang mulai bosan atau memiliki kesenangan lain boleh menyembelih kambing-kambing itu.

Selain dibelikan kambing, anak laki-laki tadi juga dipasangi anting sebelah. Zaman sekarang serupa dengan anak-anak punk.

Sejak awal abad ke-19, Tanah Abang terkenal dengan pusat perdagangan chita (tekstil). Orang-orang yang punya hajat pun berbondong-bondong membeli rupa-rupa perlengkapan upacara di sana.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Karena banyaknya kambing di Tanah Abang (pasca 1930), orang-orang pun melengkapi belanjaan mereka dengan belanja kambing. Ridwan memastikan kambing-kambing itu bukan kekhasan Tanah Abang.

Seperti pada umumnya pasar, ada perdagangan hewan. Sebut saja Pasar Senen yang ramai dengan perdagangan ayam dan burung, Pasar Jumat dengan perdagangan kambing benggala, serta Pasar Rabu yang tenar dengan pusat perdagangan kelinci.

Keberadaan pasar tersebut lambat laun habis. Ada yang karena proyek pembangunan seperti di Pasar Senen, tetapi umumnya karena tidak ada konsumen (permintaan) seperti Pasar Rabu dan Pasar Jumat.

"Dulu banyak pasar hewan (itu) yang lenyap. Ya, harus terima perubahan, masa kita nangis?" ujarnya.

Lebih lanjut ia menegaskan, keberadaan pasar hewan pun sudah berisiko bagi lingkungan, apalagi rumah jagal. Oleh karenanya, soal jagal di Tanah Abang, Ridwan melihat mudahnya, pemerintah provinsi tinggal menimbang. Berapa banyak orang yang terlibat dalam bisnis jagal? Berapa banyak orang yang terlibat dalam perdagangan kaki lima, yang mau masuk ke Blok G Tanah Abang. "Kita harus adil, bukan artinya mencabut hak orang mencari rezeki," kata dia.

Dia menyatakan, warga Tanah Abang yang berkepentingan dengan rumah jagal juga harus bersikap dan berpikir realistis. "Dari dulu polusi memang harus dijaga, (jagal) memang harus di luar kota," ujar Ridwan.



Video Rekomendasi

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pasien di Rumah Lawan Covid-19 Melonjak hingga 225 Orang, Kini Tersisa 75 Tempat Tidur

Pasien di Rumah Lawan Covid-19 Melonjak hingga 225 Orang, Kini Tersisa 75 Tempat Tidur

Megapolitan
UPDATE 14 Juni: 396 Pasien Covid-19 Dirawat di Tangsel

UPDATE 14 Juni: 396 Pasien Covid-19 Dirawat di Tangsel

Megapolitan
UPDATE 14 Juni: Kasus Aktif Covid-19 di Jakarta Capai 19.096 Pasien

UPDATE 14 Juni: Kasus Aktif Covid-19 di Jakarta Capai 19.096 Pasien

Megapolitan
Dinkes DKI: Tiga Varian Baru Virus Corona Ditemukan di Jakarta

Dinkes DKI: Tiga Varian Baru Virus Corona Ditemukan di Jakarta

Megapolitan
Pebulu Tangkis Markis Kido Tiba di RS Omni Alam Sutera dalam Kondisi Henti Napas

Pebulu Tangkis Markis Kido Tiba di RS Omni Alam Sutera dalam Kondisi Henti Napas

Megapolitan
Pertemuan Forkopimda Se-DKI Bahas Persiapan Bertemu Presiden Selasa Pagi

Pertemuan Forkopimda Se-DKI Bahas Persiapan Bertemu Presiden Selasa Pagi

Megapolitan
Sidang Rizieq Shihab Kasus Tes Usap RS Ummi Dilanjut Kamis Mendatang dengan Agenda Duplik

Sidang Rizieq Shihab Kasus Tes Usap RS Ummi Dilanjut Kamis Mendatang dengan Agenda Duplik

Megapolitan
Terkendala Zonasi, Anak Berkebutuhan Khusus Kesulitan Masuk Sekolah Impian

Terkendala Zonasi, Anak Berkebutuhan Khusus Kesulitan Masuk Sekolah Impian

Megapolitan
Terjadi Lagi, Truk Tabrak Warung di Ciputat karena Tak Kuat Tanjak Jalan Layang Tol

Terjadi Lagi, Truk Tabrak Warung di Ciputat karena Tak Kuat Tanjak Jalan Layang Tol

Megapolitan
Rumah Dinas Lurah Batu Ampar Jaktim Kebakaran, Api Diduga dari Puntung Rokok

Rumah Dinas Lurah Batu Ampar Jaktim Kebakaran, Api Diduga dari Puntung Rokok

Megapolitan
Gara-gara Sopir Adukan Pungli di Tanjung Priok ke Jokowi, Truk Dilempar Batu

Gara-gara Sopir Adukan Pungli di Tanjung Priok ke Jokowi, Truk Dilempar Batu

Megapolitan
Eks Dirut Garuda Ari Askhara Divonis 1 Tahun Penjara dan Denda Rp 300 Juta, Kejari Pikir-pikir Ajukan Banding

Eks Dirut Garuda Ari Askhara Divonis 1 Tahun Penjara dan Denda Rp 300 Juta, Kejari Pikir-pikir Ajukan Banding

Megapolitan
Hari Ini, 116 Warga di Atas Usia 18 Tahun Disuntik Vaksin Covid-19 di Palmerah

Hari Ini, 116 Warga di Atas Usia 18 Tahun Disuntik Vaksin Covid-19 di Palmerah

Megapolitan
Video Viral Pungli Pakai Kantong Kresek di Pelabuhan Tanjung Priok, Polisi Sebut Kejadian Lama

Video Viral Pungli Pakai Kantong Kresek di Pelabuhan Tanjung Priok, Polisi Sebut Kejadian Lama

Megapolitan
Viral Video Kaca Truk Dirusak, Polisi Sebut Pelakunya Bukan Oknum Pungli

Viral Video Kaca Truk Dirusak, Polisi Sebut Pelakunya Bukan Oknum Pungli

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X