Kompas.com - 19/08/2013, 07:33 WIB
Ilustrasi Penembakan | HANDINING
HandiningIlustrasi Penembakan | HANDINING
Penulis Alsadad Rudi
|
EditorAna Shofiana Syatiri

JAKARTA, KOMPAS.com
- Kasus penembakan pada anggota kepolisian belakangan ini dinilai karena sikap polisi juga. Sudah waktunya, polisi melakukan introspeksi diri.

Hanya dalam waktu sebulan, kasus penembakan polisi terjadi empat kali di tiga tempat terpisah di wilayahTangerang Selatan, Banten. Tiga anggota korps bhayangkara gugur sebagai abdi negara. Mereka adalah Aipda Koes Hendratma dan Bripka Ahmad Maulana yang ditembak di Pondok Aren, Jumat (16/8/2013). Kemudian Aiptu Dwiyatno yang ditembak di Ciputat, Rabu (7/8/2013). Satu lagi Aipda Patah Saktiyono yang ditembak di Pamulang, Sabtu (27/7/2013), namun selamat.

Di luar empat kasus penembakan di wilayah Tangerang Selatan, sebenarnya masih ada beberapa kasus lagi yang memperlihatkan adanya tindakan perlawanan terhadap pihak kepolisian di wilayah hukum Polda Metro Jaya. Di antaranya percobaan perampokan terhadap dua orang polisi, yaitu Brigadir Elvin dan Briptu Ricky di Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (6/8/2013), penembakan rumah AKP Andreas Tulam di Cipete Pinang, Tangerang, Selasa (13/8/2013), dan yang baru saja terjadi tadi malam, Minggu (18/8/2013), pengeroyokan terhadap seorang anggota Polantas di Kanal Banjir Timur, Jakarta Timur.

Ketua Presidium Indonesian Police Watch (IPW) Neta S Pane mengatakan, kasus perlawanan terhadap polisi beserta simbol-simbolnya memang meningkat dalam tiga tahun terakhir. Meski tidak menyebutkan rinciannya, Neta menyebutkan bahwa bentuk perlawanan tersebut antara lain penyerangan terhadap polisi berseragam maupun perusakan terhadap kantor polisi.

"Ada polisi akan menangkap bandar togel, masyarakat setempat bukannya mendukung upaya polisi, justru anggota polisi yang dikeroyok masyarakat," ujarnya saat dihubungi oleh Kompas.com, Sabtu (17/8/2013).

Menurut Neta, kasus-kasus tersebut menunjukan bahwa polisi beserta simbol-simbolnya sudah tidak lagi ditakuti dan kehilangan kewibawaan. Bahkan akibat terkadang dicap tidak serius dalam penyelesaian penanganan kasus kejahatan, polisi cenderung menjadi bahan olok-olok masyarakat.

Pada kasus penembakan di Tangerang Selatan saja, banyak komentar-komentar miring datang dari masyarakat. Mereka menganggap pelaku penembakan bukan kelompok teroris, tetapi penjambret. Masih menurut komentar-komentar tersebut, pelaku penembakan nantinya akan menyerahkan diri saat mereka merasa bersalah.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Komentar-komentar miring itu, kata Neta, bisa jadi mengacu pada penanganan kasus pembunuhan terhadap Franciesca Yofie di Cipedes, Bandung, Jawa Barat. Sisca yang dibunuh secara sadis dengan cara diseret di jalan dan kemudian dibacok kepalanya, pada awalnya diduga dibunuh terencana dengan latar belakang tertentu. Hal itu diperkuat dengan tidak adanya harta benda korban yang hilang.

Namun, akhirnya, Sisca disimpulkan "hanya" dibunuh akibat penjambretan. Hal itu berdasarkan pengakuan kedua "tersangka", yaitu Wawan (39) dan Ade (24). Ade, seorang tersangka yang menyerahkan diri akibat merasa bersalah, mengaku selalu digentayangi arwah Sisca.

"Masyarakat melihat keanehan di balik kasus Sisca, tetapi hanya disikapi sembrono, tidak serius dan tidak mau repot, di mana polisi hanya berpatokan pada pengakuan tersangka yang akhirnya hanya berujung penyidikan yang menyesatkan," ucap Neta.

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.