Metromini dan Kopaja, Menanti Skenario Pilihan...

Kompas.com - 02/09/2013, 07:46 WIB
Puluhan pengemudi Meteomini melakukan aksi unjuk rasa di halaman Balaikota Jakarta, Kamis (1/8/2013). Mereka menuntut Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mencopot Kepala Dinas Perhubungan DKI Udar Pristono dan Kepala Bidang Angkutan Darat Dishub DKI Syafrin Liputo Kompas.com/Kurnia Sari AzizaPuluhan pengemudi Meteomini melakukan aksi unjuk rasa di halaman Balaikota Jakarta, Kamis (1/8/2013). Mereka menuntut Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mencopot Kepala Dinas Perhubungan DKI Udar Pristono dan Kepala Bidang Angkutan Darat Dishub DKI Syafrin Liputo
|
EditorPalupi Annisa Auliani
JAKARTA, KOMPAS.com — Revitalisasi bus ukuran sedang atau lebih dikenal sebagai metromini dan kopaja adalah salah satu janji Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo dan Wakil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama. Apakah dapat terwujud dalam waktu dekat? Fakta yang ada sekarang, beragam persoalan menghadang, meski perwujudan janji itu tetap bukan kemustahilan.

Ketidaksiapan sistem adalah persoalan yang membuat warga Jakarta masih harus bersabar menanti "wajah baru" metromini dan kopaja. Mengharapkan perbaikan datang dari pemilik kedua jenis armada angkutan tersebut sepertinya terlalu berlebihan.

Dari sisi kepengurusan, dua jenis armada bus itu diketahui adalah milik perorangan dengan kepengurusan yang tak tersentral. PT Metro Mini dibelit konflik manajemen yang membuat para pemilik kendaraan tak punya induk dan bergerak sendiri-sendiri. Jangan tanya soal pengawasan operasional karena jawabannya adalah tidak ada.

Maka, tak heran bila kerap dijumpai bus-bus tak laik jalan ada di jalanan. Tak ada spidometer, bangku yang berkarat, kaca pecah ditambal seadanya, knalpot mengepulkan "kabut" hitam pekat, dan sebagainya.


Sopir dan kernet pun tak punya standardisasi sehingga sudah dianggap hal biasa menjumpai sopir ugal-ugalan melajukan kendaraan, berhenti dan menaikturunkan penumpang dengan sembarangan, ataupun melanggar beragam rambu dan peraturan lalu lintas. Korban jiwa dari kecelakaan yang melibatkan bus metromini dan kopaja sudah berjatuhan.

Kondisi ini telah menggerakkan Jokowi memerintahkan Dinas Perhubungan DKI Jakarta untuk menindak bus tak laik jalan. Mulai dari 25 Juli sampai 28 Agustus 2013, 243 bus pun ditindak. Rinciannya, 160 metromini dan 80 kopaja dibuatkan berita acara pemeriksaan, serta 180 metromini dan 27 kopaja dilarang kembali ke jalan.

"Dari jumlah (kendaraan yang ditindak) itu, 52 bus dikeluarkan dengan menandatangani pernyataan akan memperbaiki bus," kata Kepala Bidang Angkutan Darat Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Syafrin Liputo. Jumlah itu terdiri atas 28 unit metromini dan 14 kopaja.

Namun, tanggapan lebih besar datang berupa demonstrasi para awak bus yang terkena penindakan. Sepanjang Jumat (30/8/2013), para sopir dan kernet bus berunjuk rasa di depan kantor Jokowi dan Basuki. Mereka berpendapat, penyitaan bus dalam penindakan itu adalah tindakan sewenang-wenang.

Apa respons Jokowi atas demonstrasi ini? "Kalau busnya bisa diperbaiki, kalau keselamatan penumpang terjamin, silakan keluarkan semua," kata Jokowi.

Menunggu PPD

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

SMK di Depok Diserang Sekelompok Orang, Guru: Sudah Tiga Kali Penyerangan

SMK di Depok Diserang Sekelompok Orang, Guru: Sudah Tiga Kali Penyerangan

Megapolitan
SMK di Depok Dirusak Massa, Polisi Duga Aksi Balas Dendam

SMK di Depok Dirusak Massa, Polisi Duga Aksi Balas Dendam

Megapolitan
Anggota DPRD Yang Bocorkan Rapat Tertutup Akan Dijerat Pasal Kode Etik

Anggota DPRD Yang Bocorkan Rapat Tertutup Akan Dijerat Pasal Kode Etik

Megapolitan
Terduga Teroris di Tambun Merencanakan Bom Bunuh Diri di Lampung

Terduga Teroris di Tambun Merencanakan Bom Bunuh Diri di Lampung

Megapolitan
Pria Ditemukan Membusuk di Kontrakan, Diduga Tewas karena Sakit

Pria Ditemukan Membusuk di Kontrakan, Diduga Tewas karena Sakit

Megapolitan
Djeni Bisa Sewa 3 Mobil Sehari untuk Kemudian Digadai

Djeni Bisa Sewa 3 Mobil Sehari untuk Kemudian Digadai

Megapolitan
9 Terdakwa Sindikat 70 Kg Sabu dan 49.238 Butir Ekstasi Divonis Seumur Hidup

9 Terdakwa Sindikat 70 Kg Sabu dan 49.238 Butir Ekstasi Divonis Seumur Hidup

Megapolitan
Terduga Teroris di Tambun Selatan Terkait dengan Kelompok Abu Zee

Terduga Teroris di Tambun Selatan Terkait dengan Kelompok Abu Zee

Megapolitan
Polisi Kembali Amankan Terduga Teroris di Tambun Selatan, Malam Ini

Polisi Kembali Amankan Terduga Teroris di Tambun Selatan, Malam Ini

Megapolitan
PPD Menegaskan Tak Terkait dengan Korupsi Pengadaan Bus Transjakarta

PPD Menegaskan Tak Terkait dengan Korupsi Pengadaan Bus Transjakarta

Megapolitan
Cemburu Buta, Pemuda Tusuk Teman Pacarnya di Kembangan

Cemburu Buta, Pemuda Tusuk Teman Pacarnya di Kembangan

Megapolitan
Artis Sinetron Vicky Nitinegoro Ditangkap Terkait Kasus Narkoba

Artis Sinetron Vicky Nitinegoro Ditangkap Terkait Kasus Narkoba

Megapolitan
Operator Klaim Bus Transjakarta Zhong Tong Bukan Terbakar, tapi Hanya Kesalahan Mesin

Operator Klaim Bus Transjakarta Zhong Tong Bukan Terbakar, tapi Hanya Kesalahan Mesin

Megapolitan
Operator Jamin Keamanan Bus Transjakarta Merk Zhong Tong

Operator Jamin Keamanan Bus Transjakarta Merk Zhong Tong

Megapolitan
DPRD DKI Akan Rancang Sanksi bagi Anggota yang Langgar Kode Etik

DPRD DKI Akan Rancang Sanksi bagi Anggota yang Langgar Kode Etik

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X