KBN Cakung, Tenang tetapi Menghanyutkan

Kompas.com - 09/09/2013, 09:01 WIB
KOMPAS/AGUS SUSANTO Buruh garmen berunjuk rasa di depan pintu masuk utama Kawasan Berikat Nusantara (KBN) di Jalan Cakung Cilincing, Jakarta Utara, Kamis (19/1/2012). Mereka menuntut agar upah minimum sektoral provinsi (UMSP) dikoreksi dari lima persen menjadi 20 persen di atas UMSP yang sudah ditetapkan.
Direksi PT Kawasan Berikat Nusantara sempat bingung dengan datanya sendiri. Tahun ini, ada delapan investor memutuskan kontraknya dengan KBN, sementara empat investor lain mengurangi luasan usaha diikuti pengurangan jumlah pekerja. Akibatnya, sesuai laporan direksi KBN, ada 20.000 pekerja yang kehilangan lapangan kerja.

Pada rentang waktu yang sama, direksi KBN mencatat ada lima investor baru masuk dan delapan perusahaan menambah sewa lahannya. Direktur Operasi PT KBN Sudiro Agung bertanya-tanya, lalu memanggil Kepala Bagian Pemasaran PT KBN Henry Mauritz untuk menjelaskan data itu. Henry menyatakan KBN masih tetap diminati investor walau situasi ekonomi cenderung memburuk.

”Mereka masih memilih berinvestasi di sini karena ada sejumlah kemudahan. Selain akses, kami juga menyediakan layanan terpadu di satu kawasan,” kata Henry, Jumat (6/9), di Cakung, Jakarta Utara.

Apakah demikian yang sesungguhnya terjadi? Dilihat sepintas, informasi dari direksi PT KBN tidak ada salahnya. Aktivitas buruh masih hidup saat Kompas mengunjungi KBN, Jumat lalu. Pengusaha makanan di kawasan itu mengaku tidak mengalami dampak serius karena krisis ekonomi. Begitu pun dengan dampak kenaikan upah minimum Provinsi DKI Jakarta tahun 2013 menjadi Rp 2,2 juta per bulan.

Ketua Human Resources Development (HRD) KBN Cakung Bambang Haryanto mengistilahkan situasi saat ini seperti air tenang, tetapi menghanyutkan. Ada persoalan besar yang bisa terjadi pada satu tahun mendatang jika tidak diantisipasi mulai saat ini. Informasi yang disampaikan direksi KBN tidak sepenuhnya salah, tetapi ada persoalan yang terjadi di lapangan yang belum mendapat penjelasan.


”Kelihatannya masih tenang, tetapi sebenarnya bisa menjadi mengkhawatirkan. Di lapangan, kami belum melihat tanda-tanda penambahan investor dan perluasan usaha seperti data
direksi KBN,” kata Bambang.

Tidak diperpanjang

KBN yang hampir semua investornya bergerak pada industri garmen memiliki karakter sendiri. Saat ini, mereka tak bisa berkutik pada situasi karena terikat kontrak bisnis satu sampai dua tahun lalu. Pengusaha garmen yang umumnya investor asing itu memilih tak memperpanjang kontrak kerja para buruh. Catatan forum komunikasi HRD KBN Cakung, fenomena ini terjadi sejak Maret 2013.

”Data sementara kami, sudah ada 30.000 buruh yang tidak kami perpanjang kontraknya. Cara ini kami lakukan untuk mengurangi beban usaha karena dampak kenaikan upah,” kata Bambang.

Langkah tersebut, menurut dia, cukup efektif membantu pengusaha karena tidak dapat menaikkan nilai produknya sebab harus mengacu pada kontrak bisnis sebelumnya.

Mengapa tidak memutuskan hengkang ke tempat lain? Menurut Bambang, langkah itu untuk sementara belum bisa dilakukan dengan cepat. Selain terikat kontrak bisnis, mereka juga masih harus menyelesaikan produksi sesuai dengan kontrak. Pemindahan investasi ke tempat lain paling tidak membutuhkan waktu 12 bulan.

Waktu ini diperlukan untuk menyelesaikan nilai kontrak, survei tempat baru, dan pengurusan administrasi di KBN. ”Kami terus memantau situasi yang berkembang. Saya kira dampak serius akan terjadi satu tahun lagi,” kata Bambang.

Pada saat situasi investasi di Cakung diliputi kegalauan, muncul tempat-tempat baru yang menjadi pesaing Indonesia. Beberapa negara menawarkan tempat investasi dengan sarana yang tidak jauh berbeda, yakni Myanmar dan Kamboja. ”Kenaikan upah di sana tidak secepat di Jakarta. Ini yang perlu dipikirkan juga,” katanya.

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


EditorLaksono Hari Wiwoho
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X