Kompas.com - 09/09/2013, 15:21 WIB
Pedagang tempe merupakan salah satu korban dari naiknya harga kedelai dari imbas kenaikan harga dollar. Namun pedagang tempe tidak bisa berhenti begitu saja berdagang, mereka tetap berdagang dengan berbagai cara dalam menyiasati agar omset tetap stabil, Jakarta, Rabu (4/9/2013). KOMPAS.COM/SONYA SUSWANTIPedagang tempe merupakan salah satu korban dari naiknya harga kedelai dari imbas kenaikan harga dollar. Namun pedagang tempe tidak bisa berhenti begitu saja berdagang, mereka tetap berdagang dengan berbagai cara dalam menyiasati agar omset tetap stabil, Jakarta, Rabu (4/9/2013).
|
EditorEko Hendrawan Sofyan


JAKARTA, KOMPAS.com - Karena harga kacang kedelai tak kunjung menurun, para perajin tahu tempe melakukan aksi mogok produksi selama tiga hari. Akibat berhentinya kegiatan produksi tersebut, para perajin mengaku merugi hampir Rp 10 juta.

Sekretaris Bidang Usaha Primer Koperasi Pengrajin Tempe Tahu (Primkopti) Jakarta Pusat, Slamet Riyadi, menuturkan, kerugian dialami perajin karena mogok ini. Akan tetapi mereka rela melakukannya demi mendesak pemerintah agar segera menstabilkan harga kacang kedelai yang saat ini sudah menyentuh angka Rp 9.700 per kilogramnya.

"Rugi jelas lah rugi. Karena kita tidak ada pemasukan, malah pengeluran yang banyak, untuk gaji karyawan," katanya ketika ditemui di Pasar Gondangdia, Senin (9/9/2013).

Slamet mengatakan, dalam sehari, industri rumahan pembuatan tahu tempe di Kelurahan Kampung Rawa Selatan RT 10 RW 04 Kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat ini dapat memproduksi 80 kilogram tempe dan 220 kilogram tahu.

"Kerugiannya hampir Rp 10 juta. Dalam sehari bisa dapat omzet Rp 2,7 juta. Labanya Rp 400.000 sampai Rp 500.000," terangnya.

Walau tidak memproduksi selama tiga hari, tetapi Slamet harus tetap membiayai biaya keseharian para karyawannya yang berjumlah enam orang.

Saat ini, sementara Slamet berjualan makanan lainnya, seperti sosis, bakso dan nugget. "Produksi sih memang tidak ada, tapi kita kan harus ngasih uang makan untuk karyawan," ucap Slamet.

Saat masih memproduksi, Slamet menjual tempe dengan harga Rp 5.000 per potongnya, sedangkan tahu ia jual seharga Rp 500 per buah.

Slamet mengatakan harga kacang kedelai sudah naik sekitar tujuh hari setelah Lebaran, yang tadinya Rp 7.200 kini terus merangkak naik menjadi Rp 9.700 per kilogramnya.

Slamet membeli kacang kedelai untuk memenuhi kebutuhan produksi usahanya melalui sebuah agen yang berada di Cikarang. Dalam sekali transaksi, Slamet bisa membeli 10 ton kacang kedelai yang cukup untuk memenuhi produksi usaha tahu tempe selama dua minggu.

Slamet mengaku dengan melambungnya harga kacang kedelai, usaha yang sudah dirintisnya sejak tahun 1990 ini mengalami penurunan omzet sebesar 40 persen. Jumlah produksinya juga terpaksa diturunkan sekitar 20 sampai 30 persen, karena daya beli masyarakat yang terus menurun.

Para perajin tahu tempe melakukan aksi mogok produksi yang akan dilakukannya selama tiga hari, sejak hari Senin (9/9/2013) sampi Rabu (11/9/2013). Mereka melakukan aksi ini karena tak kunjung menurunnya harga kacang kedelai.  



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Catat, Ini Jadwal Terbaru KRL Selama Masa Larangan Mudik 6-17 Mei

Catat, Ini Jadwal Terbaru KRL Selama Masa Larangan Mudik 6-17 Mei

Megapolitan
Sidang Kasus Kerumunan di Petamburan dan Megamendung, Saksi Ahli yang Dibawa Rizieq Shihab Akan Diperiksa

Sidang Kasus Kerumunan di Petamburan dan Megamendung, Saksi Ahli yang Dibawa Rizieq Shihab Akan Diperiksa

Megapolitan
Mudik Resmi Dilarang, Ingat Ada 31 Lokasi Check Point dan Pos Penyekatan di Jabodetabek!

Mudik Resmi Dilarang, Ingat Ada 31 Lokasi Check Point dan Pos Penyekatan di Jabodetabek!

Megapolitan
Kronologi Ditilangnya Pengemudi Pajero 'Jenderal' Kekaisaran Sunda Nusantara, Awalnya karena Pelat Palsu

Kronologi Ditilangnya Pengemudi Pajero "Jenderal" Kekaisaran Sunda Nusantara, Awalnya karena Pelat Palsu

Megapolitan
Konflik Jemaah Dilarang Bermasker di Masjid Bekasi, Pemuda Arogan Jadi 'Duta Masker'

Konflik Jemaah Dilarang Bermasker di Masjid Bekasi, Pemuda Arogan Jadi "Duta Masker"

Megapolitan
Seputar SIKM Jakarta, dari Cara Daftar hingga Syarat Dokumen

Seputar SIKM Jakarta, dari Cara Daftar hingga Syarat Dokumen

Megapolitan
[POPULER JABODETABEK] Dokumen Wajib Penumpang Pesawat di Masa Larangan Mudik | Sidang Rizieq

[POPULER JABODETABEK] Dokumen Wajib Penumpang Pesawat di Masa Larangan Mudik | Sidang Rizieq

Megapolitan
Puing Longsoran Sumbat Kali, Ratusan Rumah di Jagakarsa Kebanjiran

Puing Longsoran Sumbat Kali, Ratusan Rumah di Jagakarsa Kebanjiran

Megapolitan
Update 5 Mei: Pasien Covid-19 Depok Berkurang Jadi 1.531 Orang

Update 5 Mei: Pasien Covid-19 Depok Berkurang Jadi 1.531 Orang

Megapolitan
Update 5 Mei: Kota Bekasi Catat 163 Kasus Baru Covid-19

Update 5 Mei: Kota Bekasi Catat 163 Kasus Baru Covid-19

Megapolitan
Pondasi Terkikis, Bagian Belakang Rumah di Jagakarsa Longsor dan Timpa Bangunan Warga

Pondasi Terkikis, Bagian Belakang Rumah di Jagakarsa Longsor dan Timpa Bangunan Warga

Megapolitan
Larangan Mudik, Pendapatan Penyedia Jasa Penukaran Uang Anjlok

Larangan Mudik, Pendapatan Penyedia Jasa Penukaran Uang Anjlok

Megapolitan
Prakiraan Cuaca BMKG: Sebagian Jabodetabek Hujan Hari Ini

Prakiraan Cuaca BMKG: Sebagian Jabodetabek Hujan Hari Ini

Megapolitan
Pengunjung Dibatasi, Pedagang Pasar Tanah Abang Mengaku Alami Penurunan Omzet

Pengunjung Dibatasi, Pedagang Pasar Tanah Abang Mengaku Alami Penurunan Omzet

Megapolitan
Pria yang Mengaku Jenderal Kekaisaran Sunda Nusantara Gunakan Pelat Mobil Palsu, Apa Sanksinya?

Pria yang Mengaku Jenderal Kekaisaran Sunda Nusantara Gunakan Pelat Mobil Palsu, Apa Sanksinya?

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X