PKL Pasar Gembrong Kembali Jualan di Trotoar

Kompas.com - 11/09/2013, 15:21 WIB
Lapak milik Fiki, seorang pedagang mainan kaki lima Pasar Gembrong, di Jalan Basuki Rahmat, Jakarta Timur, Rabu (21/8/2013). Kompas.com/ Robertus BelarminusLapak milik Fiki, seorang pedagang mainan kaki lima Pasar Gembrong, di Jalan Basuki Rahmat, Jakarta Timur, Rabu (21/8/2013).
EditorAna Shofiana Syatiri

JAKARTA, KOMPAS.com — Penertiban kios dan lapak milik pedagang Pasar Gembrong di Jalan Basuki Rahmat, Cipinang Besar Utara, Cipinang, Jakarta Timur, pada Senin (9/9/2013) lalu, rupanya tidak membuat jera para pedagang. Sehari setelah penggusuran, para pedagang yang berada di sisi pinggir jalan dari arah Duren Sawit menuju Kampung Melayu dan sebaliknya tetap menggelar aneka barang dagangan di atas trotoar.

Pantauan Warta Kota, Selasa (10/9/2013), para pedagang yang masih berjualan di jalur milik pejalan kaki umumnya pemilik kios. Mereka menaruh berbagai mainan di atas trotoar dan menawarkannya kepada setiap orang yang melintas di situ.

Selain pedagang mainan, para pedagang karpet masih terlihat mendirikan lapaknya di atas trotoar. Lapak yang terbuat dari bahan bambu, balok, dan papan itu sebelumnya disembunyikan para pedagang agar tidak diambil petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).

Meski Pasar Gembrong sudah dibongkar, sejumlah pengunjung yang ingin membeli mainan anak-anak dan juga karpet berdatangan ke situ. Mereka memarkirkan kendaraannya di sepanjang pinggir trotoar hingga menutup satu ruas jalur Jalan Basuki Rahmat.


Kendaraan tersebut terparkir bebas tanpa teguran dari petugas. Padahal, sejumlah petugas dinas perhubungan juga terlihat di lokasi. Mereka bukannya mengawasi, melainkan hanya berbincang-bincang sambil duduk-duduk.

Sebanyak 300 orang petugas Satpol PP yang dijanjikan Kepala Satpol PP Jakarta Timur Syahdonan untuk menjaga kawasan tersebut, ternyata cuma janji saja. Kemarin, Warta Kota tidak melihat adanya ratusan personel berseragam biru-biru tua itu berjaga di bekas lokasi penertiban.

Jumlah 300 anggota tersebut dibagi menjadi dua tim. Tim pertama sebanyak 150 petugas menjaga dari pukul 07.00 sampai 13.00, kemudian tim kedua dari pukul 13.00 hingga 18.00.

Tolak relokasi

Glen (34), salah seorang pedagang karpet, mengatakan, dirinya lebih baik berjualan di trotoar Pasar Gembrong karena tidak punya pilihan lain. Menurutnya, relokasi ke Pasar Klender tidak tepat.

"Kalau saya nggak jualan, saya mau kasih makan anak saya apa. Saya butuh pemasukan, ya dengan berjualan. Saya tetap maunya dagang di sini. Saya harap Pemprov DKI bisa merealisasikannya," kata Glen, yang ditemui sedang menggelar lapak karpetnya di atas trotoar tersebut.

Surip (54), tukang parkir Pasar Gembrong, juga senada dengan Glen. "Kalau pas penertiban Senin kemarin, pendapatan saya dari jaga parkir nggak ada sama sekali. Makanya, mumpung nggak ada petugas, saya jadi juru parkir lagi," ucapnya. (suf)

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

SDN Teluk Pucung 1 Bekasi Dibobol Maling

SDN Teluk Pucung 1 Bekasi Dibobol Maling

Megapolitan
Revitalisasi Pasar Anyar Kota Tangerang Terancam Batal

Revitalisasi Pasar Anyar Kota Tangerang Terancam Batal

Megapolitan
Polisi: Klinik Aborsi Ilegal di Paseban Dapat Rahasiakan Identitas Pasien

Polisi: Klinik Aborsi Ilegal di Paseban Dapat Rahasiakan Identitas Pasien

Megapolitan
RH Disebut Sering Aniaya hingga Racuni Kucing-kucing di Bekasi

RH Disebut Sering Aniaya hingga Racuni Kucing-kucing di Bekasi

Megapolitan
Batan: Paparan Radiasi Nuklir di Batan Indah Telah Turun 90 Persen

Batan: Paparan Radiasi Nuklir di Batan Indah Telah Turun 90 Persen

Megapolitan
Sopir Bus Tak Tahu 4 Keranjang Buah Dalam Busnya Berisi Ganja

Sopir Bus Tak Tahu 4 Keranjang Buah Dalam Busnya Berisi Ganja

Megapolitan
Gerebek Pool Truk di Bambu Apus, BNN Temukan Karung Berisi Ganja

Gerebek Pool Truk di Bambu Apus, BNN Temukan Karung Berisi Ganja

Megapolitan
Batan Serahkan Barang Bukti Terkait Temuan Radiasi Nuklir di Batan Indah

Batan Serahkan Barang Bukti Terkait Temuan Radiasi Nuklir di Batan Indah

Megapolitan
Harga Masker Melonjak, Dinkes DKI: Orang Sehat Tak Perlu Pakai

Harga Masker Melonjak, Dinkes DKI: Orang Sehat Tak Perlu Pakai

Megapolitan
Sebelum Rumah Dilempar Batu, Ketua PA 212 Klaim Terima Teror Virtual

Sebelum Rumah Dilempar Batu, Ketua PA 212 Klaim Terima Teror Virtual

Megapolitan
Wanita yang Gugurkan Kandungan di Klinik Paseban Umumnya Berusia di Bawah 24 Tahun

Wanita yang Gugurkan Kandungan di Klinik Paseban Umumnya Berusia di Bawah 24 Tahun

Megapolitan
Satgas Antimafia Bola Jilid III Dalami Dugaan Keterkaitan Judi Online dengan Pengaturan Skor

Satgas Antimafia Bola Jilid III Dalami Dugaan Keterkaitan Judi Online dengan Pengaturan Skor

Megapolitan
DPRD Sepakat Voting Tertutup Wagub DKI, tetapi Proses Pemilihan Bisa Disaksikan Publik

DPRD Sepakat Voting Tertutup Wagub DKI, tetapi Proses Pemilihan Bisa Disaksikan Publik

Megapolitan
Harga Bawang Putih Masih Tinggi, Pemkot Tangerang Mengadu ke Pemprov Banten

Harga Bawang Putih Masih Tinggi, Pemkot Tangerang Mengadu ke Pemprov Banten

Megapolitan
Rumah Dilempar Batu, Ketua PA 212 Curigai Dua Hal Ini

Rumah Dilempar Batu, Ketua PA 212 Curigai Dua Hal Ini

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X