PKL Kota Tua: Ahok! Lu Dipilih Sama Rakyat, Kenapa Ngomong Begini...

Kompas.com - 12/09/2013, 16:34 WIB
Beberapa pedagang berjualan di sekitar kota tua pada Rabu (5/12/2012). Mereka masih diberikan waktu sampai peringatan ketiga untuk mengosongkan kawasan Kota Tua. Alfiyyatur RohmahBeberapa pedagang berjualan di sekitar kota tua pada Rabu (5/12/2012). Mereka masih diberikan waktu sampai peringatan ketiga untuk mengosongkan kawasan Kota Tua.
|
EditorEko Hendrawan Sofyan


JAKARTA, KOMPAS.com —
Sejumlah pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Kota Tua mengaku kecewa dengan ucapan Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama yang dinilai tak punya perasaan. Mereka mengaku tersinggung dengan ucapan Basuki. 

Mereka berdalih, ketika Pilkada DKI lalu, pasangan Jokowi dan Basukilah yang mereka pilih. Kala itu, mereka yakin kedua pasangan calon gubernur dan wakil gubernur ini bakal berpihak kepada warga-warga pinggiran, termasuk warga yang berprofesi sebagai pedagang seperti mereka.

"Ahok, lu dipilih sama rakyat, pedagang banyak yang pilih Anda, pedagang Museum Fatahillah. Kenapa ngomongnya begini! ("Tanah ini bukan tanah nenek moyang lu!)," ujar Tika (25) kesal sambil menunjukkan judul headline di salah satu koran, Kamis (12/9/2013).

Perempuan yang berprofesi sebagai penjual kopi keliling di kawasan Kota Tua itu mengaku kecewa dengan ucapan yang dilontarkan Basuki. "Saya kecewa, ngomongnya enggak masuk akal," ujarnya lagi. 

Tika hanya berharap para pedagang diberi ruang untuk mencari nafkah di kawasan tersebut dan tidak berlaku diskriminatif.

Hal senada juga dilontarkan Iksan (30), seorang pedagang lainnya. Menurutnya, penataan para pedagang di Kota Tua sudah baik, tetapi ia dan teman-temannya berharap bisa diakomodasi tanpa tebang pilih. Ia berharap Pemprov DKI bisa memberi ruang kepada para pedagang yang sudah lama berjualan, tetapi tidak terakomodasi.

"Penataan ya bagus, ditata biar rapi, tapi kan kalau bisa dapat semua. Intinya anak-anak pengin dagang aja," ujar Iksan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sejumlah pedagang mengaku tidak masuk dalam pendataan yang dilakukan pihak terkait. Menurut Endang (30), pedagang lainnya, ada sekitar 700 gerobak yang berjualan di lokasi tersebut, tetapi baru 260 yang terdata. "Yang selayaknya-lah. Semuanya kan sudah didata, bagaimana dengan kami," keluh Endang.

Sebelumnya, Rabu (10/9/2013), menanggapi tuntutan dari sejumlah PKL di kawasan Kota Tua, Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki dengan tegas meminta agar para PKL tidak menuntut macam-macam. Basuki berpendapat PKL-PKL itu telah melanggar aturan, padahal Pemprov DKI telah berusaha memberikan solusi terbaik bagi mereka.

"Makanya, ini sudah saya bilang, ini mesti dibedakan kami mengusahakan untuk kepentingan Anda (PKL). Tapi, bukan berarti semaunya Anda, maunya apa? Ini (Jakarta) bukan tanah nenek moyang lu!" ujar Ahok di Balaikota DKI Jakarta, Rabu (11/9/2013).

Menurut Basuki, Jakarta bukan semata hanya milik PKL. Mereka tidak dapat terus mengajukan tuntutan yang terkesan hanya memikirkan diri sendiri. Sementara di sisi lain masih banyak warga yang juga punya hak yang sama untuk mendapatkan ketertiban jalan dan menikmati fasilitas umum di Jakarta.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

ODHA di Depok Masih Dapat Stigma Negatif

ODHA di Depok Masih Dapat Stigma Negatif

Megapolitan
Pemprov Jakarta Bentuk Tim Khusus Awasi Alat Makan Bahan Melamin Tak Ber-SNI

Pemprov Jakarta Bentuk Tim Khusus Awasi Alat Makan Bahan Melamin Tak Ber-SNI

Megapolitan
Pada Akhir Pekan, Penumpang di Bandara Soekarno-Hatta Capai 90.000 Orang

Pada Akhir Pekan, Penumpang di Bandara Soekarno-Hatta Capai 90.000 Orang

Megapolitan
PPKM Level 2, Regulasi PTM di Jakarta Barat Tidak Berubah

PPKM Level 2, Regulasi PTM di Jakarta Barat Tidak Berubah

Megapolitan
Massa Reuni 212 Bakal Kumpul di Patung Kuda, Ini Respons Wagub DKI

Massa Reuni 212 Bakal Kumpul di Patung Kuda, Ini Respons Wagub DKI

Megapolitan
Selidiki Tewasnya Anggota FBR Joglo, Polisi: Pemeriksaan Saksi Tanpa Bawa Nama Ormas

Selidiki Tewasnya Anggota FBR Joglo, Polisi: Pemeriksaan Saksi Tanpa Bawa Nama Ormas

Megapolitan
Warga Akan Patungan jika Pemkot Tak Segera Ganti Tutup Gorong-gorong di Margonda yang Hilang

Warga Akan Patungan jika Pemkot Tak Segera Ganti Tutup Gorong-gorong di Margonda yang Hilang

Megapolitan
Harga Minyak Goreng di Jakut Tembus Rp 22.000 per Liter, Pedagang: Naik Terus Tiap Minggu

Harga Minyak Goreng di Jakut Tembus Rp 22.000 per Liter, Pedagang: Naik Terus Tiap Minggu

Megapolitan
UPDATE: Tambah 70 Kasus di Jakarta, 462 Pasien Covid-19 Masih Dirawat

UPDATE: Tambah 70 Kasus di Jakarta, 462 Pasien Covid-19 Masih Dirawat

Megapolitan
Respons Sahroni Diminta Mundur sebagai Ketua Pelaksana Formula E Jakarta

Respons Sahroni Diminta Mundur sebagai Ketua Pelaksana Formula E Jakarta

Megapolitan
Besi Penutup Gorong-gorong di Margonda Dicuri, 2 Minggu Belum Diperbaiki

Besi Penutup Gorong-gorong di Margonda Dicuri, 2 Minggu Belum Diperbaiki

Megapolitan
2,5 Juta Warga Jakarta Belum Divaksin Covid-19 Dosis Kedua

2,5 Juta Warga Jakarta Belum Divaksin Covid-19 Dosis Kedua

Megapolitan
BEM UI Pecat Seorang Pengurusnya Terkait Kekerasan Seksual

BEM UI Pecat Seorang Pengurusnya Terkait Kekerasan Seksual

Megapolitan
Kota Bogor Turun ke PPKM Level 2, Kemungkinan karena Klaster PTM Terbatas

Kota Bogor Turun ke PPKM Level 2, Kemungkinan karena Klaster PTM Terbatas

Megapolitan
RSUD Kota Depok Siapkan Tangki Oksigen Kapasitas 10 Ton untuk Antisipasi Gelombang Ketiga Covid-19

RSUD Kota Depok Siapkan Tangki Oksigen Kapasitas 10 Ton untuk Antisipasi Gelombang Ketiga Covid-19

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.