Kompas.com - 25/09/2013, 08:04 WIB
|
EditorAna Shofiana Syatiri

JAKARTA, KOMPAS.com — Wali Kota Jakarta Pusat Saefullah sempat dijagokan menjadi sekretaris daerah (sekda) DKI Jakarta karena dianggap sukses membereskan kawasan Tanah Abang. Namun, Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menganggap Saefullah masih terlalu muda.

"Memangnya Pak Saefullah jadi sekda? Masih muda dia, mana bisa (jadi sekda) masih muda," kata Basuki di Balaikota Jakarta, Selasa (24/9/2013).

Berdasarkan komitmen Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo dengan Basuki, mereka menginginkan PNS berusia 56 tahun untuk pensiun, termasuk untuk posisi jabatan sekda.

Berdasarkan data Badan Kepegawaian Daerah (BKD) DKI, Saefullah lahir pada 11 Februari 1964, dan kini berusia 49 tahun. Selain menjadi Wali Kota Jakarta Pusat, kini ia merangkap sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Asisten Pemerintahan, menggantikan posisi Sylviana Murni yang dipromosikan menjadi Deputi Pariwisata dan Kebudayaan DKI.

Menurut Basuki, penunjukan Saefullah menjadi Plt Asisten Pemerintahan merupakan pilihan Sylviana, bukanlah pilihan Jokowi. "Nanti semuanya bertahap, kita lagi cari asisten pemerintahan baru kok," kata Basuki.

Proses panjang menuju kursi sekda DKI

Pasca-pengunduran Fadjar Panjaitan sejak April lalu dari kursi PNS nomor satu di Ibu Kota, jabatan sekda hingga kini masih kosong. Untuk sementara, posisi itu dipegang oleh Plt Sekda DKI Wiriyatmoko yang juga menjabat sebagai asisten pembangunan DKI.

Di dalam UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, Pasal 122 mengatur Gubernur Provinsi mencalonkan tiga nama untuk sekda dan diusulkan melalui Kementerian Dalam Negeri. UU tersebut memiliki petunjuk teknis, yaitu Permendagri Nomor 5 Tahun 2005 tentang pedoman penilaian calon sekda provinsi dan kabupaten/kota serta pejabat struktural eselon II.

Setelah Mendagri menerima tiga nama dari Gubernur DKI, Mendagri akan berkirim surat ke Presiden. Berkas nama-nama calon sekda itu juga akan diteruskan kepada Jaksa Agung, Kapolri, Badan Intelejen Negara (BIN), dan Menkopolhukam.

Para penegak hukum itu akan melihat rekam jejak hukum dan kelaikan calon sekda. Kemudian, hasilnya disampaikan kepada penentu akhir, yakni Wakil Presiden RI Boediono.

Untuk dapat menjadi seorang sekda, PNS harus berpangkat dari golongan IV-d dan IV-c. Sebelum diangkat, ia telah menjabat di eselon II. Saat ini, jumlah PNS yang memiliki pangkat golongan IV D di DKI Jakarta berjumlah 10 orang.

Di dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 44 Tahun 2011 tentang Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil, perpanjangan masa kerja eselon I dapat dilakukan selama dua tahun. Sebanyak sembilan nama pejabat DKI yang menjadi calon sekda telah ditugaskan Jokowi di dalam surat tugas Nomor 716/082.62.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jumlah Penumpang Transjakarta, LRT, dan MRT Diklaim Naik Setelah Switch Over Stasiun Manggarai

Jumlah Penumpang Transjakarta, LRT, dan MRT Diklaim Naik Setelah Switch Over Stasiun Manggarai

Megapolitan
Alasan 3 Holywings Ditutup, Pemkab Tangerang: Ada yang Minta Bupati Cepat Menindak

Alasan 3 Holywings Ditutup, Pemkab Tangerang: Ada yang Minta Bupati Cepat Menindak

Megapolitan
Polisi Periksa Manajemen Bar di Jaksel yang Buat Promosi dengan Konten Prostitusi

Polisi Periksa Manajemen Bar di Jaksel yang Buat Promosi dengan Konten Prostitusi

Megapolitan
Rumah Kontrakan di Pulogebang Terbakar Gara-gara Obat Nyamuk yang Dibakar Anak Kecil, lalu Ditinggal Bermain

Rumah Kontrakan di Pulogebang Terbakar Gara-gara Obat Nyamuk yang Dibakar Anak Kecil, lalu Ditinggal Bermain

Megapolitan
Pencabutan Izin Holywings di Tangerang Akan Diurus Secepatnya, Pemkab: Sekarang Kita Tutup Dulu

Pencabutan Izin Holywings di Tangerang Akan Diurus Secepatnya, Pemkab: Sekarang Kita Tutup Dulu

Megapolitan
Kunjungi Kota Tua di Masa Libur Sekolah, Pelajar: Kemarin Ujiannya Susah Banget, jadi Mau 'Healing'...

Kunjungi Kota Tua di Masa Libur Sekolah, Pelajar: Kemarin Ujiannya Susah Banget, jadi Mau "Healing"...

Megapolitan
Jatuh dan Tertabrak Kendaraan Saat Menyalip, Seorang Pengendara Motor Tewas di Tempat di Bekasi

Jatuh dan Tertabrak Kendaraan Saat Menyalip, Seorang Pengendara Motor Tewas di Tempat di Bekasi

Megapolitan
Tingkat Keterisian RS Rujukan Covid-19 Sudah 12 Persen, Wagub DKI: Tetap Gunakan Masker

Tingkat Keterisian RS Rujukan Covid-19 Sudah 12 Persen, Wagub DKI: Tetap Gunakan Masker

Megapolitan
Polisi: Pembunuh Perempuan di Kamar Kos Serpong Jual Ponsel Korban Rp 30.000 untuk Beli Makan

Polisi: Pembunuh Perempuan di Kamar Kos Serpong Jual Ponsel Korban Rp 30.000 untuk Beli Makan

Megapolitan
Layanan Publik Terintegrasi, Warga Jakarta Pusat Tak Perlu Khawatir Ubah Data Dokumen Imbas Pergantian Nama Jalan

Layanan Publik Terintegrasi, Warga Jakarta Pusat Tak Perlu Khawatir Ubah Data Dokumen Imbas Pergantian Nama Jalan

Megapolitan
Ini Motif di Balik Aksi 'Bullying' di Lapangan Sempur Bogor yang Viral di Medsos

Ini Motif di Balik Aksi "Bullying" di Lapangan Sempur Bogor yang Viral di Medsos

Megapolitan
BOR RS Covid-19 di Jakarta Capai 12 Persen

BOR RS Covid-19 di Jakarta Capai 12 Persen

Megapolitan
Anggota Dewan Sentil Manajemen Holywings soal Promo Miras Bernada SARA: 'Bapak Sehat Jasmani Rohani?'

Anggota Dewan Sentil Manajemen Holywings soal Promo Miras Bernada SARA: "Bapak Sehat Jasmani Rohani?"

Megapolitan
Polisi Tangkap Satu Terduga Pembunuh Pria Dalam Karung di Kali Pesanggrahan

Polisi Tangkap Satu Terduga Pembunuh Pria Dalam Karung di Kali Pesanggrahan

Megapolitan
Nonton Bareng 'Keluarga Cemara 2', Bioskop Inklusif Ajak Industri Film Ramah Disabilitas

Nonton Bareng "Keluarga Cemara 2", Bioskop Inklusif Ajak Industri Film Ramah Disabilitas

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.