Kompas.com - 01/10/2013, 21:11 WIB
Petugas Suku Dinas Perhubungan Jakarta Timur mencabut pentil ban mobil yang diparkir di depan Pasar Pramuka, Jakarta Timur, Selasa (24/9/2013). Penertiban dilakukan untuk mengurangi kemacetan akibat banyaknya mobil yang parkir di bahu jalan. KOMPAS.com/RATIH WINANTI RAHAYUPetugas Suku Dinas Perhubungan Jakarta Timur mencabut pentil ban mobil yang diparkir di depan Pasar Pramuka, Jakarta Timur, Selasa (24/9/2013). Penertiban dilakukan untuk mengurangi kemacetan akibat banyaknya mobil yang parkir di bahu jalan.
EditorLaksono Hari Wiwoho

JAKARTA, KOMPAS.com — Mengatasi persoalan Jakarta harus dengan cara berbeda. Begitu pun menertibkan parkir liar yang merebak di mana-mana. Imbauan berkali-kali ibarat berteriak di tengah padang pasir, seperti tidak ada yang mendengarkan.

Sepekan terakhir, penertiban parkir liar di Ibu Kota dilakukan dengan pencabutan pentil ban. Razia barang kecil ini diharapkan berdampak besar, yaitu terurainya kemacetan di jalan-jalan utama. Tujuan razia lebih jauh mendorong orang tertib parkir di tempat resmi, syukur-syukur pengguna kendaraan pribadi mulai melirik angkutan umum untuk mobilitas di Ibu Kota. Ini cukup menarik di tengah merebaknya polemik kehadiran mobil murah.

”Mana pentilmu?” tanya Sunardi Sinaga kepada anak buahnya sebelum operasi penertiban parkir liar berlangsung. Pasukan pencabut pentil menunjukkan senjatanya satu per satu. Tidak lama kemudian, mereka bergerak ke kawasan padat lalu lintas di pusat kota. Tim bergerak cepat, mencabut pentil ban sepeda motor dan mobil. Kurang dari tiga menit, pentil bagian dalam ban kendaraan lepas dari tempatnya.

Reaksi pemilik mobil beragam. Ada yang marah, pasrah, dan kemudian kelimpungan mencari solusi. Perjalanan pengguna kendaraan untuk sementara terganggu karena sepeda motor atau mobil mereka tidak bisa dijalankan.

Program pencabutan pentil secara agresif berlangsung di lima wilayah Kota Jakarta. Untuk sementara, program ini menjadi momok warga Ibu Kota, seperti yang dirasakan Nugraha (27), seorang karyawan swasta.

Dia menghindari parkir sembarangan daripada menjadi korban pencabutan pentil. Menurut dia, pencabutan pentil itu cukup merepotkan walaupun harga pentil tidak seberapa. Meski pentil bisa diambil di kantor suku dinas perhubungan terdekat, pengguna kendaraan yang pentilnya dicabut memilih beli dan meminta pertolongan tukang tambal ban. Persoalannya, sampai kapan mereka bertahan meminta pertolongan tukang tambal ban?

Nugraha memilih naik angkutan umum jika pergi ke tempat yang lahan parkirnya terbatas. Cara lain yang juga ia tempuh adalah menumpang teman yang membawa kendaraan. ”Kalau tempatnya dekat, saya pilih jalan kaki saja daripada bawa kendaraan,” ucap pria yang tinggal di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, itu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kecemasan Nugraha bisa dimaklumi. Siapa pun bisa keder jika terkena razia pencabutan pentil. Petugas menempelkan stiker bertuliskan ”Pentil Kendaraan Anda Dicabut”. Dalam stiker yang sama disertai ancaman hukuman pidana paling lama tiga bulan atau denda maksimal Rp 5 juta.

Latar belakang

Walaupun menebar rasa cemas, pencabutan pentil belum mendapat perlawanan serius. Mereka yang memprotes kemudian menyerah karena tahu posisinya salah, menempati badan jalan kendaraan.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Wanita Hamil di Cikarang Ditemukan Tewas Bersimbah Darah dengan Sejumlah Luka Tusuk

Wanita Hamil di Cikarang Ditemukan Tewas Bersimbah Darah dengan Sejumlah Luka Tusuk

Megapolitan
SMPN 280 Jakarta Dilanda Kebakaran, Awalnya Muncul Percikan Api dari Kabel Komputer

SMPN 280 Jakarta Dilanda Kebakaran, Awalnya Muncul Percikan Api dari Kabel Komputer

Megapolitan
Main di Tepi Kali Angke Tangsel, Bocah 9 Tahun Terpeleset lalu Hanyut

Main di Tepi Kali Angke Tangsel, Bocah 9 Tahun Terpeleset lalu Hanyut

Megapolitan
Polisi: Ganjil Genap di Tempat Wisata untuk Motor Bersifat Situasional, Diterapkan jika Pengunjung Melonjak

Polisi: Ganjil Genap di Tempat Wisata untuk Motor Bersifat Situasional, Diterapkan jika Pengunjung Melonjak

Megapolitan
UPDATE 23 Oktober: Ada 116 Kasus Baru Covid-19 di Jakarta, 2 Pasien Meninggal

UPDATE 23 Oktober: Ada 116 Kasus Baru Covid-19 di Jakarta, 2 Pasien Meninggal

Megapolitan
Ancol Sediakan Kantong Parkir untuk Pengunjung dengan Pelat Kendaraan Tak Sesuai Ganjil Genap

Ancol Sediakan Kantong Parkir untuk Pengunjung dengan Pelat Kendaraan Tak Sesuai Ganjil Genap

Megapolitan
Anak di Bawah 12 Tahun Boleh Masuk Ancol, Jumlah Pengunjung Meningkat

Anak di Bawah 12 Tahun Boleh Masuk Ancol, Jumlah Pengunjung Meningkat

Megapolitan
Tak Sejalan dengan Dishub DKI, Polisi Tetapkan Motor Kena Aturan Ganjil Genap di Tempat Wisata

Tak Sejalan dengan Dishub DKI, Polisi Tetapkan Motor Kena Aturan Ganjil Genap di Tempat Wisata

Megapolitan
Boleh Masuk Ancol, Anak-anak Asyik Bermain Pasir dan Berlarian di Kawasan Pantai

Boleh Masuk Ancol, Anak-anak Asyik Bermain Pasir dan Berlarian di Kawasan Pantai

Megapolitan
Pemkot Belum Setor Naskah Akademik, Perda Kota Religius Depok Terancam Ditunda Pembahasannya

Pemkot Belum Setor Naskah Akademik, Perda Kota Religius Depok Terancam Ditunda Pembahasannya

Megapolitan
Taman Margasatwa Ragunan Kembali Dibuka, Pengunjung Capai 4.901 Orang

Taman Margasatwa Ragunan Kembali Dibuka, Pengunjung Capai 4.901 Orang

Megapolitan
Tak Sesuai Aturan Dishub, Motor Juga Kena Ganjil Genap di Kawasan Ancol

Tak Sesuai Aturan Dishub, Motor Juga Kena Ganjil Genap di Kawasan Ancol

Megapolitan
Satpol PP Gerebek Rumah Kos dan Hotel di Tangerang, 4 Perempuan dan 4 Pasangan Bukan Suami Terjaring Razia

Satpol PP Gerebek Rumah Kos dan Hotel di Tangerang, 4 Perempuan dan 4 Pasangan Bukan Suami Terjaring Razia

Megapolitan
Naskah Akademik Tak Kunjung Disetor ke DPRD, Pemkot Depok Sembunyi-sembunyi soal Perda Kota Religius?

Naskah Akademik Tak Kunjung Disetor ke DPRD, Pemkot Depok Sembunyi-sembunyi soal Perda Kota Religius?

Megapolitan
Keceriaan dan Senyum Lebar Pedagang Kelinci Sambut Wisata Ragunan Dibuka Lagi...

Keceriaan dan Senyum Lebar Pedagang Kelinci Sambut Wisata Ragunan Dibuka Lagi...

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.