Kuasa Hukum Benget Akan Adukan Hakim ke KY

Kompas.com - 04/10/2013, 09:49 WIB
Sidang vonis Benget Situmorang, pemutilasi istri yang jasadnya dibuang di tol Cikampek, kembali ditunda, Senin (30/9/2013). Benget mengaku sakit sesak napas dan paru-paru sehingga tidak bisa menjalani sidang hari ini. KOMPAS.COM/RATIH WINANTI RAHAYUSidang vonis Benget Situmorang, pemutilasi istri yang jasadnya dibuang di tol Cikampek, kembali ditunda, Senin (30/9/2013). Benget mengaku sakit sesak napas dan paru-paru sehingga tidak bisa menjalani sidang hari ini.
EditorLaksono Hari Wiwoho

JAKARTA, KOMPAS.com - Kuasa hukum Benget Situmorang, terdakwa pembunuhan dan mutilasi istrinya, akan tetap mengadukan hakim dalam persidangan itu ke Komisi Yudisial. Hakim dianggap melakukan pelanggaran karena tak memberikan kesempatan Benget berobat hingga pedagang minuman itu meninggal dunia di tahanan.

"Kami tetap akan melaporkan hakim ke Komisi Yudisial. Rencananya kami ajukan surat hari ini," kata kuasa hukum Benget, Edward Sihombing, Jumat (4/10/2013).

Edward menilai, ada proses yang tidak benar selama persidangan berjalan. Benget diketahui mengalami sakit selama di tahanan, tetapi hakim tak memberi kesempatan kepadanya untuk berobat. Benget bahkan dipaksa hadir ke persidangan dalam kondisi sakit. Edward juga membuka kemungkinan melaporkan jaksa ke polisi. Laporan ini terkait dugaan kelalaian yang menyebabkan kliennya meninggal dunia.

"Jaksa kami anggap telah menelantarkan Benget yang seharusnya dalam pengawasannya, sehingga Benget meninggal dunia," tuturnya.


Sebelumnya, Ketua Majelis Hakim Pandu Budiono yang memimpin sidang dengan terdakwa Benget menyatakan kasus mutilasi yang dilakukan Benget gugur demi hukum. "Kami mendapatkan surat dari Karutan Cipinang berisi keterangan bahwa Benget telah meninggal dunia karena sakit," kata Pandu saat membuka sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Cakung, Kamis (3/10/2013).

Atas dasar surat itu, majelis kemudian bermusyawarah untuk menentukan nasib perjalanan proses hukum terhadap Benget. Majelis hakim akhirnya menyatakan perkara tersebut gugur dan proses hukum terhadap Benget dinyatakan selesai sesuai Pasal 77 KUHP.

Benget Situmorang alias Impus didakwa atas pembunuhan dan mutilasi terhadap istrinya, Darna Sri Astuti, di rumah mereka, Jalan Bungur Raya RT 11/06 Nomor 11, Kampung Rambutan, Ciracas, Jakarta Timur, Minggu (3/3/2013). Dua hari kemudian, Selasa (5/3/2013) pagi, potongan tubuh korban ditemukan di jalan Tol Cikampek arah Bekasi. Potongan tubuh itu disebar mulai dari Km 0+200 hingga kilometer 3+800. Polisi membekuk Benget di rumahnya, sehari setelah potongan tubuh korban ditemukan, Rabu (6/3/2013) malam.

Setelah dua kali sidang pembacaan vonis tertunda karena Benget sakit, sidang pembacaan vonis Benget digugurkan oleh hakim pada Kamis kemarin. Benget dikenakan pasal 340 KUHP Jo 338 KUHP juncto 351 KUHP dan dituntut hukuman mati. Sebelum vonis, Benget meninggal dunia di Rumah Tahanan (Rutan) Cipinang, Jakarta Timur, Senin (30/9/2013) malam. Menurut Kepala RSU Pengayoman dr Danial Rasyid, Benget meninggal dunia karena sakit Tuberculosis (TBC) yang dideritanya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Remaja yang Diduga Diperkosa Oknum PNS Papua Minta Perlindungan LPSK

Remaja yang Diduga Diperkosa Oknum PNS Papua Minta Perlindungan LPSK

Megapolitan
50 Kg Ganja di Dalam Bus di Tangerang Milik Dua Napi

50 Kg Ganja di Dalam Bus di Tangerang Milik Dua Napi

Megapolitan
Riset Sebut Ciliwung Masuk Sungai Terkotor di Dunia, Ini Komentar Pemprov DKI

Riset Sebut Ciliwung Masuk Sungai Terkotor di Dunia, Ini Komentar Pemprov DKI

Megapolitan
Anggota Komisi E DPRD Dorong Kasus Robohnya Atap SMKN 24 Jaktim Dibawa ke Jalur Hukum

Anggota Komisi E DPRD Dorong Kasus Robohnya Atap SMKN 24 Jaktim Dibawa ke Jalur Hukum

Megapolitan
Diduga Korsleting Listrik, Rumah Dua Lantai di Duren Sawit Terbakar

Diduga Korsleting Listrik, Rumah Dua Lantai di Duren Sawit Terbakar

Megapolitan
Ini Efek jika Sembarangan Mengkonsumsi Psikotropika Trihexyphenidyl

Ini Efek jika Sembarangan Mengkonsumsi Psikotropika Trihexyphenidyl

Megapolitan
PT INKA Siapkan Tenaga Ahli untuk Kaji Pembangunan Jalur Trem di Bogor

PT INKA Siapkan Tenaga Ahli untuk Kaji Pembangunan Jalur Trem di Bogor

Megapolitan
Pemprov DKI Klaim Ciptakan 111.000 Wirausaha, Baru 13.000 yang Punya Izin

Pemprov DKI Klaim Ciptakan 111.000 Wirausaha, Baru 13.000 yang Punya Izin

Megapolitan
Pemprov DKI Optimistis Akan Lampaui Target Terciptanya 200.000 Wirausaha Baru

Pemprov DKI Optimistis Akan Lampaui Target Terciptanya 200.000 Wirausaha Baru

Megapolitan
Kerap Masuk ke Permukiman, Kawanan Monyet Liar Resahkan Warga Bogor

Kerap Masuk ke Permukiman, Kawanan Monyet Liar Resahkan Warga Bogor

Megapolitan
Polisi Tangkap Pemalsu KTP PSK di Bawah Umur

Polisi Tangkap Pemalsu KTP PSK di Bawah Umur

Megapolitan
4 Pelajar Ditangkap, Diduga Keroyok Korban hingga Tewas Saat Tawuran

4 Pelajar Ditangkap, Diduga Keroyok Korban hingga Tewas Saat Tawuran

Megapolitan
BK DPRD Depok Akan Beri Seragam agar Anggota Dewan Disiplin

BK DPRD Depok Akan Beri Seragam agar Anggota Dewan Disiplin

Megapolitan
Tanpa Pelampung dan Tak Pandai Berenang, Fitra Tenggelam Usai Tolong Teman

Tanpa Pelampung dan Tak Pandai Berenang, Fitra Tenggelam Usai Tolong Teman

Megapolitan
Tawuran Pelajar di Kebayoran Baru, Sejumlah Pelajar Dibawa Polisi

Tawuran Pelajar di Kebayoran Baru, Sejumlah Pelajar Dibawa Polisi

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X