Kompas.com - 17/10/2013, 08:13 WIB
Surya Hakim digiring polisi untuk diperlihatkan saat rilis di Polda Metro Jaya, Jakarta Pusat, Rabu (16/10/2013). Polisi telah menangkap dua orang tersangka pembunuh Holly Angela Ayu, Surya Hakim dan Abdul Latif, sedangkan satu pelaku tewas sedangkan dua lagi masih buron. Polisi juga memeriksa suami Holly yang juga auditor BPK,Gatot Supiartono. TRIBUNNEWS/HERUDIN Surya Hakim digiring polisi untuk diperlihatkan saat rilis di Polda Metro Jaya, Jakarta Pusat, Rabu (16/10/2013). Polisi telah menangkap dua orang tersangka pembunuh Holly Angela Ayu, Surya Hakim dan Abdul Latif, sedangkan satu pelaku tewas sedangkan dua lagi masih buron. Polisi juga memeriksa suami Holly yang juga auditor BPK,Gatot Supiartono.
EditorAna Shofiana Syatiri

 


JAKARTA, KOMPAS.com —
Kriminolog Universitas Indonesia Erlangga Masdiana mengatakan, pembunuhan Holly jelas kejahatan yang dilakukan secara tidak profesional.

"Pelaku salah satunya adalah sopir seseorang yang diduga punya hubungan personal dengan Holly. Pelaku lebih dari satu orang yang menyebabkan banyak saksi meskipun itu saksi pelaku. Kemudian, kematian Holly juga tidak cepat, banyak unsur penganiayaan. Dugaannya, pelaku tidak tahu cara cepat membunuh korban," kata Erlangga, di Jakarta, Rabu (16/10/2013).

Hal senada diungkapkan psikolog forensik Reza Indragiri Amriel.

"Sejak awal, saya menduga, kasus ini adalah penganiayaan yang menjadi collateral damage. Namun, begitu ada info pelaku yang tertangkap menyiapkan peti mati, saya berpendapat ini adalah pembunuhan berencana dengan menggunakan pembunuh bayaran," kata Reza.

Akan tetapi, menurut Reza, pembunuhan tersebut tidak efektif dan efisien. Misi pembunuhan yang bertujuan menghindari hukum ternyata justru menebarkan banyak bukti yang bisa menjerat pelaku.

Barang bukti yang dikumpulkan polisi, di antaranya batang besi penuh darah, jejak kaki, dan handuk yang dibiarkan tergelantung di pagar besi, sampai fakta bahwa pembunuh menyewa tempat di menara yang sama dengan Holly, menunjukkan cara kerja yang tidak profesional. Terlebih dugaan bahwa salah satu dari empat pembunuh, yaitu Elrisky Yudhistira (34), terjatuh dan tewas saat mencoba melarikan diri dari unit apartemen Holly.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menurut Reza, dalam kasus-kasus yang menggunakan pembunuh bayaran, motif terbanyak yang ditemukan adalah untuk mengakhiri relasi. Relasi yang dimaksud bisa saja sebuah skandal yang terancam terbongkar, kehamilan di luar nikah, dan banyak lagi. Erlangga juga menyinggung adanya faktor kecemburuan yang terselip dalam relasi intens antardua manusia.

"Faktor kecemburuan jelas mungkin terjadi. Apakah pasangan mendua atau lainnya. Di sisi lain, kemungkinan korban adalah orang yang banyak tahu tentang pelaku atau otak pembunuhan terencana. Informasi yang dimilikinya itu bisa amat berbahaya bagi korban," kata Erlangga.

Berdasarkan analisis Reza dan Erlangga, kasus kematian Holly diyakini hanya terkait konflik antara korban dan pelaku atau otak pembunuhan terencana. Reza malah tegas mengatakan kasus Holly sama sekali tidak menyangkut isu besar, seperti terkait kasus korupsi simulator SIM yang melibatkan mantan pejabat di Mabes Polri. Atau terkait dugaan G, yang diduga suami Holly dan dituding sebagai otak kematian Holly, merupakan auditor BPK yang menangani kasus simulator SIM tersebut.

Erlangga menduga ketidakprofesionalan pelaku, termasuk otak perencana pembunuhan, tidak terkait dengan latar belakang G yang berpendidikan dan memiliki jabatan penting.

Menurut dia, rencana pembunuhan Holly dilatarbelakangi kepanikan sehingga pelaku tak berpikir jernih. (NEL)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Salah Satu Korban Penembakan di Exit Tol Bintaro Meninggal Dunia

Salah Satu Korban Penembakan di Exit Tol Bintaro Meninggal Dunia

Megapolitan
Capaian Vaksinasi Dosis Kedua di DKI Jakarta 100,5 Persen

Capaian Vaksinasi Dosis Kedua di DKI Jakarta 100,5 Persen

Megapolitan
UPDATE 28 November: DKI Jakarta Tambah 51 Kasus Covid-19

UPDATE 28 November: DKI Jakarta Tambah 51 Kasus Covid-19

Megapolitan
Tarif TransPakuan Berlaku Mulai Januari 2022

Tarif TransPakuan Berlaku Mulai Januari 2022

Megapolitan
Pelaku Mutilasi di Bekasi Buang Jasad Korban di Lokasi Terpisah untuk Hilangkan Jejak

Pelaku Mutilasi di Bekasi Buang Jasad Korban di Lokasi Terpisah untuk Hilangkan Jejak

Megapolitan
Tersangka Mutilasi di Bekasi Ajak Korban Pesta Narkoba Sebelum Membunuh

Tersangka Mutilasi di Bekasi Ajak Korban Pesta Narkoba Sebelum Membunuh

Megapolitan
Komisi D Dorong Pemprov DKI Prioritaskan Uji Emisi Kendaraan Umum

Komisi D Dorong Pemprov DKI Prioritaskan Uji Emisi Kendaraan Umum

Megapolitan
Motif Pelaku Mutilasi di Bekasi, Sakit Hati Istri Dihina dan Dicabuli Korban

Motif Pelaku Mutilasi di Bekasi, Sakit Hati Istri Dihina dan Dicabuli Korban

Megapolitan
Pengusaha Mal Sebut PPKM Level 3 Nataru Akan Membuat Tingkat Kunjungan Terkoreksi

Pengusaha Mal Sebut PPKM Level 3 Nataru Akan Membuat Tingkat Kunjungan Terkoreksi

Megapolitan
PPKM Level 3 Saat Nataru Dinilai Tidak Akan Efektif Menahan Covid-19

PPKM Level 3 Saat Nataru Dinilai Tidak Akan Efektif Menahan Covid-19

Megapolitan
Mercy Lawan Arah di Tol JORR dan Tabrak Dua Mobil, Sopir Berencana Ganti Rugi

Mercy Lawan Arah di Tol JORR dan Tabrak Dua Mobil, Sopir Berencana Ganti Rugi

Megapolitan
Polisi Tangkap 2 Pelaku Mutilasi di Kedungwaringin Bekasi, Satu Masih Buron

Polisi Tangkap 2 Pelaku Mutilasi di Kedungwaringin Bekasi, Satu Masih Buron

Megapolitan
Polisi Agendakan Pemeriksaan Sopir Mercy Lawan Arah di Tol JORR dan Tabrak Dua Mobil

Polisi Agendakan Pemeriksaan Sopir Mercy Lawan Arah di Tol JORR dan Tabrak Dua Mobil

Megapolitan
Sopir Mercy Lawan Arah di Tol JORR Diduga Pikun, Polisi: Keluarganya Bilang Begitu

Sopir Mercy Lawan Arah di Tol JORR Diduga Pikun, Polisi: Keluarganya Bilang Begitu

Megapolitan
Cegah Bentrokan, Polisi Bakal Tertibkan Atribut Ormas di Tangerang

Cegah Bentrokan, Polisi Bakal Tertibkan Atribut Ormas di Tangerang

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.