Tersangka Disiksa dan Dipaksa Mengaku Membunuh Pengamen di Cipulir

Kompas.com - 19/10/2013, 14:27 WIB
|
EditorLaksono Hari Wiwoho

JAKARTA, KOMPAS.com — Kuasa hukum enam pengamen yang didakwa membunuh pengamen bernama Dicky Maulana di kolong jembatan Cipulir, Ciledug, Jakarta Selatan, merasa dipaksa mengaku menghabisi korban. Para tersangka itu disiksa untuk mengaku bersalah.

Johanes Gea, kuasa hukum enam orang pengamen diduga salah tangkap mengatakan, kliennya dinyatakan bersalah, dengan cara penyiksaan. Padahal, seorang pengamen bernama IP (18) mengaku bersalah karena terlibat dalam kasus pembunuhan pengamen bernama Dicky (18) di kolong Jembatan Cipulir, Jakarta Selatan.

"Korban salah tangkap dijadikan pesakitan dengan bermodalkan pengakuan yang diperoleh dengan cara penyiksaan," ujar Johanes Gea, kuasa hukum terdakwa, di Gedung LBH Jakarta, Sabtu (19/10/2013) siang.

Ia mengatakan, sejak awal persidangan telah terungkap fakta hukum bahwa para terdakwa bukanlah pelaku yang sebenarnya. Menurutnya, ada saksi kunci yang dapat mengetahui pelaku sebenarnya. Saksi tersebut adalah IP (18), pengamen yang mengaku menikmati uang hasil penjualan sepeda motor korban setelah korban dibunuh oleh Cb dan Br. IP dibawa dan dilaporkan ke Polda Metro Jaya pada Jumat (18/9/2013) oleh keluarga AS, salah satu terdakwa dalam kasus itu.


"Fakta yang terungkap di persidangan tidak dipertimbangkan oleh majelis hakim. Saksi kunci juga telah menyampaikan pelaporannya, tetapi Polda (Metro Jaya) menolak laporan itu dengan alasan kasusnya sedang berjalan," kata Johanes.

IP ditangkap setelah dijebak oleh keluarga AS (18). AS merupakan salah satu orang yang ditetapkan polisi sebagai tersangka dalam pembunuhan tersebut. Penjebakan IP diawali dari perkenalannya dengan seorang wanita berinisal I di situs jejaring sosial. I kemudian mengajak bertemu IP di Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan, Jumat (18/10/2013) malam. Saat itulah keluarga AS meringkus IP dan membawanya ke Mapolda Metro Jaya.

IP mengaku melakukan perbuatan tersebut karena janji Cb dan Br memberinya bagian hasil penjualan sepeda motor Yamaha Mio Soul milik korban. IP pun menuruti dan mendapat bagian Rp 300.000 dari dua rekannya.

IP menuturkan, ia baru mengenal korban pada malam waktu pembunuhan. Namun, dia mengakui sudah mengetahui rencana dua temannya untuk menghabisi korban. Otaknya adalah Cb. Menurut IP, rekannya tak senang kepada korban karena korban sebagai pengamen baru di wilayah mereka telah bertingkah tak sopan.

Baik IP, Cb, dan Br merupakan nama baru yang muncul dalam kasus pembunuhan yang terjadi pada 30 Juni 2013. Dalam kasus tersebut, polisi menyatakan Dicky dibunuh enam orang temannya sesama pengamen, yakni NP (23), FP (16), AS (18), BF (17), F (13), dan APS (14).

Pengadilan Negeri Jaksel menjatuhkan vonis bersalah kepada empat pengamen pada Selasa (1/10/2013). Keempat pengamen tersebut masing-masing FP dijatuhi 4 tahun hukuman penjara, BF dihukum 3 tahun, F dibui 3,5 tahun, dan AP divonis hukuman 3 tahun penjara. Majelis hakim menilai mereka terbukti melakukan pidana sesuai dakwaan primer Pasal 338 jo Pasal 55 Ayat 1 KUHP.

Keluarga AS mengklaim, mereka yang ditangkap polisi merupakan korban salah tangkap. Enam pengamen yang ditangkap itu justru menolong korban yang sekarat. Tersangka juga memberikan minum dan makan kepada korban, sebelum melaporkan kejadian itu kepada seorang satpam. Satpam tersebut kemudian melapor ke polisi.

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

3 Tujuan Jakarta Jadi Tuan Rumah Formula E 2020

3 Tujuan Jakarta Jadi Tuan Rumah Formula E 2020

Megapolitan
Anies: Jakarta Jadi Tuan Rumah Formula E 5 Kali agar Manfaat Infrastruktur Bisa Maksimal

Anies: Jakarta Jadi Tuan Rumah Formula E 5 Kali agar Manfaat Infrastruktur Bisa Maksimal

Megapolitan
BERITA FOTO: Ricuh di Depan Gedung KPK, Lempar Telor Hingga Aksi Bakar Ban

BERITA FOTO: Ricuh di Depan Gedung KPK, Lempar Telor Hingga Aksi Bakar Ban

Megapolitan
Jadi Korban Pecah Kaca Mobil, Rico Ceper Rugi Rp 14 Juta

Jadi Korban Pecah Kaca Mobil, Rico Ceper Rugi Rp 14 Juta

Megapolitan
Sudah Dua Kali Lift di Kantor Wali Kota Jakarta Timur Anjlok

Sudah Dua Kali Lift di Kantor Wali Kota Jakarta Timur Anjlok

Megapolitan
Anies: Formula E Tak Akan Terlalu Ganggu Arus Lalu Lintas

Anies: Formula E Tak Akan Terlalu Ganggu Arus Lalu Lintas

Megapolitan
Tol Jakarta-Tangerang Ramai Lancar Pasca-kecelakaan di KM 13

Tol Jakarta-Tangerang Ramai Lancar Pasca-kecelakaan di KM 13

Megapolitan
Kaca Mobil Rico Ceper Dipecah Maling, Tas Dicuri

Kaca Mobil Rico Ceper Dipecah Maling, Tas Dicuri

Megapolitan
Pertahankan Rumah di Tengah Kompleks Apartemen, Lies Tolak Tawaran Satu Unit hingga Uang Rp 3 M

Pertahankan Rumah di Tengah Kompleks Apartemen, Lies Tolak Tawaran Satu Unit hingga Uang Rp 3 M

Megapolitan
Mengenal Formula E, Ajang Balap Internasional yang Akan Digelar di Jakarta

Mengenal Formula E, Ajang Balap Internasional yang Akan Digelar di Jakarta

Megapolitan
Polisi Amankan Dua Orang dalam Kericuhan Demo di Depan Gedung KPK

Polisi Amankan Dua Orang dalam Kericuhan Demo di Depan Gedung KPK

Megapolitan
Aksi Tabur Bunga Warnai Unjuk Rasa Mahasiswa Bogor Tolak Pengesahan RUU KPK

Aksi Tabur Bunga Warnai Unjuk Rasa Mahasiswa Bogor Tolak Pengesahan RUU KPK

Megapolitan
Punya Rumah di Tengah Apartemen, Lies Harus Beli Air hingga Bayar Karcis Masuk

Punya Rumah di Tengah Apartemen, Lies Harus Beli Air hingga Bayar Karcis Masuk

Megapolitan
MRT Jakarta Ingin Pakai Energi Terbarukan untuk Fase Selanjutnya

MRT Jakarta Ingin Pakai Energi Terbarukan untuk Fase Selanjutnya

Megapolitan
Berkas Perkara Kasus Pengibaran Bendera Bintang Kejora Dilimpahkan ke Kejati DKI

Berkas Perkara Kasus Pengibaran Bendera Bintang Kejora Dilimpahkan ke Kejati DKI

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X