Kompas.com - 21/10/2013, 14:58 WIB
|
EditorAna Shofiana Syatiri
JAKARTA, KOMPAS.com — Pengakuan IP sebagai pembunuh seorang pengamen di kolong jembatan Cipulir, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu, tak begitu saja dipercaya. Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto mengatakan, keterangan IP berbeda dengan hasil rekonstruksi.

Rikwanto menjelaskan, IP memberikan keterangan bahwa kasus pembunuhan tersebut terjadi pada pukul 23.45. Padahal, dari hasil rekonstruksi yang sudah dilakukan oleh polisi, peristiwa itu terjadi pada pukul 10.00.

"Keterangan IP sangat kontradiktif dengan penyidik yang sudah melakukan olah tempat kejadian perkara dan rekonstruksi kejadian," ujarnya di Mapolda Metro Jaya, Senin (21/10/2013).

Selain itu, IP menyebut salah satu temannya, BR, terluka di jarinya saat kejadian pembunuhan itu. Lalu, BR dibawa ke Rumah Sakit Aminah sekitar pukul 00.00 untuk diberikan pengobatan. Ketika berobat, mereka kekurangan uang untuk membayar biaya pengobatan BR, lalu mereka membayarkan dengan menggunakan sebuah telepon genggam.

"Ketika kami cek ke sana (RS Aminah), memang ada yang datang ke sana pada pukul 00.27 atas nama Khaerudin bin Hamjali, karena terluka bacokan di Kebayoran," kata Rikwanto.

Meski IP mengaku melakukan pembunuhan, dia tidak ditahan oleh polisi. Polisi tidak bisa menahan seseorang hanya berdasarkan pengakuan, dan belum adanya petunjuk dan bukti yang mengarah kepada IP.

"Kita sudah jelas melakukan rekonstruksi, kita tahu siapa yang terlibat, siapa yang menjadi eksekutor, dan siapa yang mempunyai senjata tajamnya," jelas Rikwanto.

Menurut keterangan, IP ditangkap setelah dijebak oleh keluarga AS (18). AS merupakan salah satu orang yang ditetapkan polisi sebagai tersangka dalam pembunuhan tersebut. Penjebakan IP diawali dari perkenalannya dengan seorang wanita berinisal I di situs jejaring sosial. I kemudian mengajak bertemu IP di Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan, Jumat (18/10/2013) malam.

Saat itulah keluarga AS meringkus IP dan membawanya ke Mapolda Metro Jaya. IP mengaku melakukan perbuatan tersebut karena janji CB dan BR memberinya bagian hasil penjualan sepeda motor Yamaha Mio Soul milik korban. IP pun menuruti dan mendapat bagian Rp 300.000 dari dua rekannya.

Pengadilan Negeri Jaksel menjatuhkan vonis bersalah kepada empat pengamen pada Selasa (1/10/2013). Keempat pengamen tersebut adalah FP dijatuhi 4 tahun hukuman penjara, BF dihukum 3 tahun, F dihukum 3,5 tahun, dan AP dikenakan hukuman 3 tahun penjara. Majelis hakim menilai mereka terbukti melakukan pidana sesuai dakwaan primer Pasal 338 jo Pasal 55 Ayat 1 KUHP.

Keluarga AS mengklaim, mereka yang ditangkap polisi merupakan korban salah tangkap. Enam pengamen yang ditangkap itu justru menolong korban yang sekarat. Tersangka juga memberikan minum dan makan kepada korban, sebelum melaporkan kejadian itu kepada seorang satpam. Satpam tersebut kemudian melapor ke polisi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Alarm Covid-19 di Jakarta Kembali Berbunyi, Ini puluhan RT yang Jadi Zona Merah...

Alarm Covid-19 di Jakarta Kembali Berbunyi, Ini puluhan RT yang Jadi Zona Merah...

Megapolitan
Ironi Warga Tanah Abang, Tinggal di Pusat Jakarta tetapi Kesulitan Dapat Air Bersih

Ironi Warga Tanah Abang, Tinggal di Pusat Jakarta tetapi Kesulitan Dapat Air Bersih

Megapolitan
Saat Cinta Buat Gelap Mata, Petugas PPSU Tendang dan Tabrak Pacar di Bangka karena Cemburu

Saat Cinta Buat Gelap Mata, Petugas PPSU Tendang dan Tabrak Pacar di Bangka karena Cemburu

Megapolitan
Buruh 'Long March' dari Gedung Sate Bandung ke Jakarta untuk Demo di DPR, Tuntut UU Cipta Kerja Dicabut

Buruh "Long March" dari Gedung Sate Bandung ke Jakarta untuk Demo di DPR, Tuntut UU Cipta Kerja Dicabut

Megapolitan
Wagub DKI Sebut Perpindahan IKN Bantu Kurangi Potensi Jakarta Tenggelam

Wagub DKI Sebut Perpindahan IKN Bantu Kurangi Potensi Jakarta Tenggelam

Megapolitan
Ini Alasan Santri yang Aniaya Teman hingga Tewas Dipenjara meski Masih Anak-anak

Ini Alasan Santri yang Aniaya Teman hingga Tewas Dipenjara meski Masih Anak-anak

Megapolitan
UPDATE 9 Agustus 2022: Bertambah 236 Kasus Covid-19, Pasien Dirawat di Tangerang Kini 2.032

UPDATE 9 Agustus 2022: Bertambah 236 Kasus Covid-19, Pasien Dirawat di Tangerang Kini 2.032

Megapolitan
UPDATE 9 Agustus 2022: Bertambah 350 Kasus Covid-19, Pasien Dirawat di Tangsel Kini 826

UPDATE 9 Agustus 2022: Bertambah 350 Kasus Covid-19, Pasien Dirawat di Tangsel Kini 826

Megapolitan
Nasib Santri yang Aniaya Teman hingga Tewas di Ponpes Tangerang, Kini Ditahan di Sel Anak

Nasib Santri yang Aniaya Teman hingga Tewas di Ponpes Tangerang, Kini Ditahan di Sel Anak

Megapolitan
Anies Tak Pakai Masker Saat Hadiri Lomba, Anggota Dewan: Masyarakat Butuh Teladan di Tengah Peningkatan Kasus Covid-19

Anies Tak Pakai Masker Saat Hadiri Lomba, Anggota Dewan: Masyarakat Butuh Teladan di Tengah Peningkatan Kasus Covid-19

Megapolitan
Ribuan Buruh Akan Demo di Depan Gedung DPR Hari Rabu Ini, Tuntut Pencabutan UU Cipta Kerja

Ribuan Buruh Akan Demo di Depan Gedung DPR Hari Rabu Ini, Tuntut Pencabutan UU Cipta Kerja

Megapolitan
Prakiraan Cuaca BMKG: Jaksel dan Jaktim Berpotensi Hujan Petir Disertai Angin Kencang Siang hingga Sore

Prakiraan Cuaca BMKG: Jaksel dan Jaktim Berpotensi Hujan Petir Disertai Angin Kencang Siang hingga Sore

Megapolitan
Ada Demo Buruh di Depan Gedung DPR Hari Ini, Polisi Alihkan Arus Lalu Lintas di Kawasan Senayan

Ada Demo Buruh di Depan Gedung DPR Hari Ini, Polisi Alihkan Arus Lalu Lintas di Kawasan Senayan

Megapolitan
Tak Bisa Dianggap Remeh, Polusi Udara di Jabodetabek Tingkatkan Risiko Kematian Dini

Tak Bisa Dianggap Remeh, Polusi Udara di Jabodetabek Tingkatkan Risiko Kematian Dini

Megapolitan
[POPULER JABODETABEK] 28 RT di Jakarta Zona Merah Covid-19 | Lokasi Vaksin Booster di Jabodetabek

[POPULER JABODETABEK] 28 RT di Jakarta Zona Merah Covid-19 | Lokasi Vaksin Booster di Jabodetabek

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.