Kompas.com - 25/10/2013, 07:56 WIB
Suasana di Pasar Blok G, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (11/9/2013), masih tampak sepi. Pedagang di pasar itu meminta kepada pemerintah untuk menyediakan eskalator untuk memudahkan pengunjung mengunjungi setiap lantai pasar. KOMPAS.com/UMMI HADYAH SALEHSuasana di Pasar Blok G, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (11/9/2013), masih tampak sepi. Pedagang di pasar itu meminta kepada pemerintah untuk menyediakan eskalator untuk memudahkan pengunjung mengunjungi setiap lantai pasar.
EditorAna Shofiana Syatiri

 


JAKARTA, KOMPAS.com —
 Sebagian pedagang lama di Pasar Blok G Tanah Abang meminta kepastian berdagang. Para pedagang merasa diintimidasi pihak-pihak tertentu agar tidak menempati lapak mereka. Pedagang meminta jaminan keamanan agar bisa berjualan di pasar tersebut.

Pada Kamis (24/10), belasan pedagang tersebut mendatangi Balaikota Jakarta. "Kami ingin menyampaikan persoalan yang terjadi. Harapan kami tidak ada lagi intimidasi kepada kami. Sebab, tindakan seperti ini jelas bertentangan dengan program yang dijalankan Gubernur DKI Jakarta," kata Hasan Basri, pedagang di kios nomor 057 lantai 1 Pasar Blok G Tanah Abang saat berada di Balaikota Jakarta.

Menurut Hasan, pihak pengelola pasar berniat membatalkan hak menempati kios. Hasan meminta ada penyelesaian yang baik antara pengelola dan pedagang. Berkali-kali perundingan digelar. Perundingan terakhir digelar pada Kamis pagi.

"Memang sudah ada kesepakatan sementara ini. Kami ingin ada kepastian kenyamanan dan keamanan berdagang. Jangan sampai ada lagi intimidasi kepada kami," kata Hasan.

Desmawita, pedagang di kios nomor 056 lantai 1 Pasar Blok G mengaku pernah mengalami intimidasi sebanyak beberapa kali. Desmawita meminta dialog yang sehat dengan pengelola pasar karena cara itu lebih manusiawi.

"Pemaksaan dan ancaman bukan solusi. Pedagang akan senang jika kondisi pasar aman dan nyaman," kata Desmawita.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pembiaran kios

Kepala Humas PD Pasar Jaya Agus Lamun mengatakan, persoalan tersebut terjadi karena ada pembiaran kios. PD Pasar Jaya telah melayangkan surat peringatan pertama, kedua, dan ketiga kepada para pedagang yang tidak memanfaatkan kios untuk kegiatan perdagangan. Surat peringatan ini dilayangkan beberapa waktu lalu sebelum dilakukan pengundian kios untuk para pedagang kaki lima di kawasan Tanah Abang.

"Setelah memberi surat peringatan, kami juga melayangkan surat pembatalan hak dan menyegel kios atau lapak. Namun, tidak ada keberatan dari pengguna kios atau lapak itu. Kalau mereka mengurus kios sebelum pengundian untuk PKL, pasti akan kami prioritaskan. Baru setelah Pasar Blok G diperbaiki Pak Jokowi, muncul protes ini," kata Agus.

Kios dan lapak mereka juga dalam keadaan tertutup dan tidak digunakan untuk aktivitas jual beli. "Ada sebagian pedagang yang menaruh beberapa barang dagangan di kios atau lapak mereka. Namun, mereka tidak berjualan lagi," ucapnya.

Dia mengatakan, para pedagang yang mendapatkan surat peringatan ini juga sudah lama tidak membayar berbagai biaya yang menjadi kewajiban pedagang. Apabila ada pedagang yang bisa menunjukkan bukti pembayaran atas sejumlah biaya yang menjadi kewajiban mereka, pihaknya siap memverifikasi. (ART/NDY)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pemkot Jakpus Temukan Sumur Resapan Perkantoran Tak Berfungsi

Pemkot Jakpus Temukan Sumur Resapan Perkantoran Tak Berfungsi

Megapolitan
Pemprov DKI Raih Penghargaan Keterbukaan Informasi Publik 4 Kali Berturut-Turut

Pemprov DKI Raih Penghargaan Keterbukaan Informasi Publik 4 Kali Berturut-Turut

Megapolitan
Pengunjung Pasar Anyar dan Pasar Poris Diimbau Pakai PeduliLindungi

Pengunjung Pasar Anyar dan Pasar Poris Diimbau Pakai PeduliLindungi

Megapolitan
Hasil Olah TKP, Kecepatan Bus Transjakarta Saat Tabrakan di Cawang 55,4 Km Per Jam

Hasil Olah TKP, Kecepatan Bus Transjakarta Saat Tabrakan di Cawang 55,4 Km Per Jam

Megapolitan
Ini Nomor Kontak Darurat bagi Warga yang Terkena Bencana di Kota Tangerang

Ini Nomor Kontak Darurat bagi Warga yang Terkena Bencana di Kota Tangerang

Megapolitan
Pemkot Bekasi Klaim Capaian Vaksin Covid-19 Dosis Pertama Capai 71,85 Persen

Pemkot Bekasi Klaim Capaian Vaksin Covid-19 Dosis Pertama Capai 71,85 Persen

Megapolitan
Dimulai di Era Ahok, Kini Anies Lanjutkan Kerja Sama dengan NTT untuk Pengadaan Daging Sapi

Dimulai di Era Ahok, Kini Anies Lanjutkan Kerja Sama dengan NTT untuk Pengadaan Daging Sapi

Megapolitan
Jasad Seorang Pria Ditemukan di Bak Mobil Pikap, Awalnya Dikira Sedang Tiduran

Jasad Seorang Pria Ditemukan di Bak Mobil Pikap, Awalnya Dikira Sedang Tiduran

Megapolitan
1,8 Juta Warga Belum Divaksin, Pemprov DKI Jakarta Gencarkan Vaksinasi Malam Hari

1,8 Juta Warga Belum Divaksin, Pemprov DKI Jakarta Gencarkan Vaksinasi Malam Hari

Megapolitan
Update 6 Korban Kecelakaan Transjakarta yang Dirawat di RSUD Budhi Asih, 2 Orang Boleh Pulang

Update 6 Korban Kecelakaan Transjakarta yang Dirawat di RSUD Budhi Asih, 2 Orang Boleh Pulang

Megapolitan
Pelaku Masturbasi di Jok Motor Milik Perempuan Diperiksa Kejiwaannya

Pelaku Masturbasi di Jok Motor Milik Perempuan Diperiksa Kejiwaannya

Megapolitan
Update Covid-19 di Jakarta, Tak Ada Lagi RT Zona Merah dan DKI Catat Nol Kematian

Update Covid-19 di Jakarta, Tak Ada Lagi RT Zona Merah dan DKI Catat Nol Kematian

Megapolitan
Pencemaran Parasetamol di Teluk Jakarta, Dinkes DKI Sebut Belum Tentu dari Konsumsi Obat

Pencemaran Parasetamol di Teluk Jakarta, Dinkes DKI Sebut Belum Tentu dari Konsumsi Obat

Megapolitan
Cerita Korban Kecelakaan Transjakarta: Duduk di Belakang Terpental ke Tengah hingga Bunyi Dentuman

Cerita Korban Kecelakaan Transjakarta: Duduk di Belakang Terpental ke Tengah hingga Bunyi Dentuman

Megapolitan
Berubah Pakai Data Dukcapil, Depok Akan Kurangi Target Vaksinasi Covid-19

Berubah Pakai Data Dukcapil, Depok Akan Kurangi Target Vaksinasi Covid-19

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.