Kompas.com - 09/11/2013, 15:16 WIB
Kendaraan terjebak macet di Jalan Sudirman, Jakarta di dua arah saat jam pulang kerja, Kamis (28/2/2013). Moda transportasi angkutan massal semakin mendesak untuk segera direalisasikan di Jakarta, mengingat kemacetan yang semakin parah. KOMPAS/TOTOK WIJAYANTOKendaraan terjebak macet di Jalan Sudirman, Jakarta di dua arah saat jam pulang kerja, Kamis (28/2/2013). Moda transportasi angkutan massal semakin mendesak untuk segera direalisasikan di Jakarta, mengingat kemacetan yang semakin parah.
|
EditorAna Shofiana Syatiri

JAKARTA, KOMPAS.com - "Jumat, pasti macet kalau jam pulang kerja." Kalimat ini sering diucapkan warga Jakarta menjelang akhir pekan. Mengapa begitu?

Pengamat perkotaan dari Universitas Trisakti Yayat Supriatna sepakat jika Jumat sore menjadi puncak kemacetan di Ibu Kota. Penyebabnya, kata dia, karena pengguna jalan itu sendiri.

Saat Jumat, semua orang berhenti beraktivitas dari pekerjaannya, dan berlomba-lomba segera pulang ke rumah atau sekadar menikmati libur akhir pekan bersama keluarga. Hal ini, sudah membudaya dilakukan warga Jakarta.

"Kan hari Jumat seperti neraka kemecetan, semua pulang hari Jumat. Ini selalu terulang sejak lama dan sudah membudaya di masyarakat," ujar Yayat saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (9/11/2013).

Pada akhir pekan, tutur Yayat, karyawan yang bekerja di Jakarta, namun memiliki rumah atau keluarga di luar Jakarta, pasti akan pulang ke rumahnya pada Jumat. Misalnya, para pekerja yang rumahnya di Bekasi, Bandung atau Bogor.

Belum lagi, jika pada Jumat sore terjadi hujan. Kemacetan akan semakin panjang dan bisa jadi hingga malam hari. Genangan air yang membanjiri jalan membuat pengendara menghindari atau mengemudikan kendaraannya dengan pelan.

"Hujan terimplikasi genangan akibat drainase, itu sisa masa lalu yang sudah terjadi di pusat kota," ucapnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Akibat genangan pula, jalan pun menjadi rusak. Misalnya saja, seperti di kawasan Lenteng Agung dan Tanjung Barat. Sudah jalan rusak, jalannya pun menyempit. Sehingga, tidak heran jika salah satu jalan alternatif menuju Depok itu pasti macet.

"Betapa rusak drainase kota dan daerah pinggiran misalnya di Lenteng Agung dan Tanjung Barat terjadi penyempitan jalan yang juga rusak, itu menjadi stagnan. Begitu terjadi kemacetan, otomatis jalan tersebut macet," tuturnya.

Yayat mengungkapkan, solusi yang paling tepat tidak hanya sistem penambahan transportasi, tetapi sistem penanganan transportasi dan tata ruang. Selain itu, harus ada perubahan pola pergerakan. Perubahan pola pergerakan tidak hanya mengatur MRT, monorel, tetapi perlunya mengubah jam kantor.

"Kita tidak perlu menunggu MRT, monorel, kalau perlu liburnya jangan hari Sabtu dan kalau perlu hari Sabtu masuk kerja sehingga bisa mengurangi pergerakan kemacetan di hari tertentu, bukan di hari Jumat," ucap Yayat.

Adanya rayonisasi penempatan kerja kepada semua masyarakat, menurutnya juga membantu memecahkan kemacetan. Misalnya, karyawan dipekerjakan dengan kantor yang dekat dengan rumahnya. "Jadi pekerja yang tinggal di daerahnya seperti Bogor dan Bekasi, tidak jauh-jauh bekerja di Jakarta," ucapnya.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Holywings Cafe Kembali Digerebek karena Langgar PPKM, Kali ini di Cabang Tebet

Holywings Cafe Kembali Digerebek karena Langgar PPKM, Kali ini di Cabang Tebet

Megapolitan
Puluhan Remaja yang Diduga Hendak Tawuran di Dekat Mal Kalibata Dibubarkan Polisi

Puluhan Remaja yang Diduga Hendak Tawuran di Dekat Mal Kalibata Dibubarkan Polisi

Megapolitan
Koni Kota Bekasi Sebut Perwakilannya Raih 34 Medali di PON XX Papua

Koni Kota Bekasi Sebut Perwakilannya Raih 34 Medali di PON XX Papua

Megapolitan
Wagub Sebut Ada Rencana Ruas Jalan di Jakarta Gunakan Nama Presiden Pertama Turki

Wagub Sebut Ada Rencana Ruas Jalan di Jakarta Gunakan Nama Presiden Pertama Turki

Megapolitan
Buntut Penggerebekan Kantor Pinjol Ilegal di Jakbar, 6 Orang Jadi Tersangka

Buntut Penggerebekan Kantor Pinjol Ilegal di Jakbar, 6 Orang Jadi Tersangka

Megapolitan
Wagub DKI Kembali Pastikan, Lokasi Sirkuit Formula E Diputuskan Bulan Ini

Wagub DKI Kembali Pastikan, Lokasi Sirkuit Formula E Diputuskan Bulan Ini

Megapolitan
Terduga Pelaku Tabrak Lari di Tol Sedyatmo Seorang Sopir Taksi Online

Terduga Pelaku Tabrak Lari di Tol Sedyatmo Seorang Sopir Taksi Online

Megapolitan
Polisi Amankan Terduga Pelaku Tabrak Lari di Tol Sedyatmo

Polisi Amankan Terduga Pelaku Tabrak Lari di Tol Sedyatmo

Megapolitan
7 Orang Terjebak Dalam Lift di Mal di Bekasi pada Sabtu Malam

7 Orang Terjebak Dalam Lift di Mal di Bekasi pada Sabtu Malam

Megapolitan
Jenazah Perempuan Ditemukan Mengambang di Tepi Kali Angke

Jenazah Perempuan Ditemukan Mengambang di Tepi Kali Angke

Megapolitan
Korban Pembacokan pada Kasus Tuduhan Pencurian WiFi Mengaku Pernah Diajak Damai Keluarga Pelaku

Korban Pembacokan pada Kasus Tuduhan Pencurian WiFi Mengaku Pernah Diajak Damai Keluarga Pelaku

Megapolitan
Vaksinasi Covid-19 Anak 12-17 Tahun di Tangsel Baru Capai 24,1 Persen

Vaksinasi Covid-19 Anak 12-17 Tahun di Tangsel Baru Capai 24,1 Persen

Megapolitan
Minggu Siang dan Sore, Beberapa Wilyah di DKI Berpotensi Hujan Disertai Angin Kencang

Minggu Siang dan Sore, Beberapa Wilyah di DKI Berpotensi Hujan Disertai Angin Kencang

Megapolitan
JakPro: FEO Akan Survei Lokasi Sirkuit Formula E Akhir Oktober Ini

JakPro: FEO Akan Survei Lokasi Sirkuit Formula E Akhir Oktober Ini

Megapolitan
Jenazah Pria dengan Luka Ditemukan di Gunung Antang, Jaktim

Jenazah Pria dengan Luka Ditemukan di Gunung Antang, Jaktim

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.