Kompas.com - 11/11/2013, 09:53 WIB
Pengguna sepeda motor tersendat di samping trotoar yang dipasangi tiang besi dan kawat baja di Jalan Raya Bekasi, Cakung, Jakarta Timur, Senin (16/4/2012). Tiang besi dan kawat baja dipasang untuk menutup jalan ke trotoar yang sering dipakai pengguna sepeda motor saat macet. KOMPAS / AGUS SUSANTOPengguna sepeda motor tersendat di samping trotoar yang dipasangi tiang besi dan kawat baja di Jalan Raya Bekasi, Cakung, Jakarta Timur, Senin (16/4/2012). Tiang besi dan kawat baja dipasang untuk menutup jalan ke trotoar yang sering dipakai pengguna sepeda motor saat macet.
EditorAna Shofiana Syatiri

RSA Indonesia mencatat, pelanggaran aturan lalu lintas jalan yang masih tinggi pararel dengan tingginya kecelakaan. Tahun 2011, tiap hari ada 16.100-an pelanggaran yang menyebabkan 300-an kasus kecelakaan. Angka serupa terjadi tahun 2012. Tercatat sekitar 15.800 pelanggaran per hari dan jumlah kecelakaan 320 kasus.

”Banyak pengendara sepeda motor yang menganggap keselamatan di jalan itu nomor kesekian. Yang penting cepat sampai, mobilitas mudah, dan murah,” kata Bayu, pengendara
sepeda motor yang tergabung dalam Publishing Motor Community (Pubmomm), di sela-sela acara RSA Indonesia di Jakarta.

Dia berpendapat, penegakan hukum di jalan masih kurang sehingga pelanggaran banyak terjadi. ”Idealnya sih, ada kesadaran dari setiap pengguna jalan agar tidak melakukan pelanggaran,” ucapnya.

Edo Rusyanto, Ketua Umum RSA Indonesia, mengatakan, sebagian besar korban kecelakaan lalu lintas ini adalah orang dengan usia produktif. Karena itu, korban kecelakaan tidak sekadar angka statistik saja, tetapi memiliki rentetan persoalan sosial ekonomi yang mengikutinya.

”Akibat kecelakaan, mereka tidak bisa bekerja. Sementara, banyak korban kecelakaan yang merupakan tulang punggung ekonomi keluarga,” kata Edo.

Keselamatan berkendara bisa diraih dengan berbagai cara. Salah satunya, melakukan kampanye untuk mencegah semakin banyak korban jatuh di jalan raya. Sisi ini, menurut Edo, belum banyak disentuh oleh instansi resmi.

”Di Jakarta, kecelakaan dipicu perilaku yang tidak tertib karena orang cenderung berkejaran dengan waktu untuk cepat sampai di tujuan. Karenanya, mereka banyak melanggar aturan,” kata Edo. ()

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Bekas Lokasi Parkir Liar di Flyover Arif Rahman Hakim Depok Akan Dibangun Sarana Olahraga

Bekas Lokasi Parkir Liar di Flyover Arif Rahman Hakim Depok Akan Dibangun Sarana Olahraga

Megapolitan
Tracing Covid-19 Rendah, Pemkot Tangerang Minta Hal Ini ke Kemenkes

Tracing Covid-19 Rendah, Pemkot Tangerang Minta Hal Ini ke Kemenkes

Megapolitan
Unjuk Rasa Lagi di Balai Kota, Buruh Minta Anies Naikkan UMP Jakarta 5 Persen

Unjuk Rasa Lagi di Balai Kota, Buruh Minta Anies Naikkan UMP Jakarta 5 Persen

Megapolitan
KSPI Minta Anies Revisi UMP Jakarta 2022 Paling Lambat Malam Ini

KSPI Minta Anies Revisi UMP Jakarta 2022 Paling Lambat Malam Ini

Megapolitan
Pemprov DKI Tunggu Jawaban Kemenaker soal Usulan Kenaikan UMP Jakarta 2022

Pemprov DKI Tunggu Jawaban Kemenaker soal Usulan Kenaikan UMP Jakarta 2022

Megapolitan
Sudah Pulang dari RS, Polisi yang Dianiaya Anggota Pemuda Pancasila Lakukan Rawat Jalan

Sudah Pulang dari RS, Polisi yang Dianiaya Anggota Pemuda Pancasila Lakukan Rawat Jalan

Megapolitan
Kota Tangerang Kembali Terapkan PPKM Level 2, Wali Kota Arief Ungkap Penyebabnya

Kota Tangerang Kembali Terapkan PPKM Level 2, Wali Kota Arief Ungkap Penyebabnya

Megapolitan
Pihak Terduga Pelaku Pelecehan Seksual di KPI Protes Temuan Komnas HAM

Pihak Terduga Pelaku Pelecehan Seksual di KPI Protes Temuan Komnas HAM

Megapolitan
Ancaman Varian Covid-19 Omicron, Wagub DKI: Sangat Bergantung Disiplin Masyarakat

Ancaman Varian Covid-19 Omicron, Wagub DKI: Sangat Bergantung Disiplin Masyarakat

Megapolitan
Protes UMP Jakarta 2022, Serikat Buruh Kembali Unjuk Rasa di Balai Kota DKI

Protes UMP Jakarta 2022, Serikat Buruh Kembali Unjuk Rasa di Balai Kota DKI

Megapolitan
Tutup Sumur Resapan di Lebak Bulus Ambles, Warga Sebut Banyak Pemotor Hampir Celaka

Tutup Sumur Resapan di Lebak Bulus Ambles, Warga Sebut Banyak Pemotor Hampir Celaka

Megapolitan
Hasil Pemeriksaan Dokter, Sopir Mercy yang Lawan Arah di Tol JORR Memang Idap Demensia

Hasil Pemeriksaan Dokter, Sopir Mercy yang Lawan Arah di Tol JORR Memang Idap Demensia

Megapolitan
Jakarta PPKM Level 2, Wagub DKI: Peringatan bagi Kita Semua untuk Hati-hati

Jakarta PPKM Level 2, Wagub DKI: Peringatan bagi Kita Semua untuk Hati-hati

Megapolitan
Kebakaran Ruko di Pademangan, Diduga akibat Korsleting pada AC

Kebakaran Ruko di Pademangan, Diduga akibat Korsleting pada AC

Megapolitan
Bakal Sediakan Arena Balap, Kapolda Metro: Pembalap Liar Akan Saya Fasilitasi, Bukan Dimusuhi

Bakal Sediakan Arena Balap, Kapolda Metro: Pembalap Liar Akan Saya Fasilitasi, Bukan Dimusuhi

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.