JAKARTA, KOMPAS.com
— Terbang malam di atas pukul 24.00 menjadi alternatif penyelesaian jangka pendek kepadatan penerbangan di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta. Cara ini bisa ditempuh asal bandara tujuan mempersiapkan diri dan mau mengkreasi pasar.

Para pelaku bisnis penerbangan yang dimintai pendapat soal ini, di Jakarta, pekan lalu dan Selasa (19/11/2013), sepakat, terbang malam bisa dilakukan. Namun, hal itu bergantung pada kesiapan bandara tujuan.

Direktur Umum Lion Air Edward Sirait mengatakan, Lion Air dan Batik Air mempunyai pengalaman terbang tengah malam, yaitu untuk rute Jakarta dengan tujuan Indonesia timur. Misalnya Batik Air yang terbang ke Ambon, berangkat dari Jakarta pukul 00.30 sampai di Ambon pukul 06.00. Dengan menggunakan jadwal tengah malam tersebut, Batik Air memanfaatkan ruang waktu yang kosong di Bandara Soekarno-Hatta.

”Tidak mudah membuka jadwal tengah malam. Namun, setelah dijalani, ternyata sambutan pasar sangat baik,” ujar Edward.

Menurut Edward, sebenarnya maskapai siap menggunakan rentang waktu yang lowong di Bandara Soekarno-Hatta, tetapi hal itu bergantung pada bandara tujuan. Jika bandara tujuan ternyata tidak siap menerima kedatangan pesawat karena sudah tutup, maskapai tidak bisa membuka jadwal itu.

Direktur Operasi Indonesia AirAsia Capt Imron Siregar juga mengatakan hal yang sama. Operasional terbang malam hanya dapat dilakukan ketika bandara lain juga melakukan hal serupa.

Menurut Imron, bandara di Indonesia yang sudah 100 persen mampu melayani penerbangan malam baru Soekarno-Hatta dan Ngurah Rai di Denpasar, Bali.

”Pilot AirAsia ada yang pernah mau mendarat di sebuah bandara menjelang pukul 06.00, ternyata petugas menara tidak menjawab permintaan pilot. Jadi, jelas banyak hal harus dipersiapkan dahulu sebelum 100 persen dapat terbang malam,” ujar dia.

Senior Manager Corporate Communication Sriwijaya Air Agus Soedjono juga mengakui ada kendala bagi maskapai untuk terbang malam.

”Masalahnya, ada bandara domestik yang belum dilengkapi dengan fasilitas operasi malam hari, salah satunya instrumen pendaratan,” katanya. Instrumen itu merupakan perangkat navigasi pendaratan yang memudahkan pilot saat malam atau cuara buruk.