Kompas.com - 27/11/2013, 12:36 WIB
Menkokesra Agung Laksono dan Menkes Nafsiah Mboi, Jumat (22/2/2013), melakukan kunjungan ke Rumah Sakit Umum Daerah Budhi Asih. KOMPAS.com/FABIAN JANUARIUS KUWADOMenkokesra Agung Laksono dan Menkes Nafsiah Mboi, Jumat (22/2/2013), melakukan kunjungan ke Rumah Sakit Umum Daerah Budhi Asih.
|
EditorAna Shofiana Syatiri

JAKARTA, KOMPAS.com — Aksi solidaritas "Stop Kriminalisasi Dokter" juga dilakukan sebagian dokter dari Rumah Sakit Umum Daerah Budhi Asih, Jalan Dewi Sartika, Jakarta Timur. Rumah sakit tersebut tidak melayani pasien rawat jalan, tetapi hanya menerima pasien gawat darurat.

Hal ini membuat Sani (32), warga Cipinang Muara, membatalkan untuk mengecek kandungan istrinya, Tuti (32). Kasir menyarankan pasangan suami istri itu agar kembali lagi pada Kamis (28/11/2013).

"Tadi datang ke kasir, katanya besok baru ada (pelayanan). Saya datang mau check up, memeriksa kehamilan istri. Saya dapat surat rujukan dari Puskesmas Cipinang Muara, suruh ngecek di sini," kata Sani kepada Kompas.com, di RS Budhi Asih, Rabu (27/11/2013) siang.

Sani mengatakan, ia hendak mengecek kandungan istrinya yang sudah berusia 6 bulan jalan 7 bulan. Dengan keadaan tersebut, ia mengaku memakluminya.

"Enggak masalah, kan cuma satu hari tanggal 27 ini. Habis dokternya demo, mau dikatakan apa. Mereka perlu mengeluarkan pendapat," ujar Sani.

Sani mengaku telah mengetahui para dokter akan berdemo pada hari ini. Namun, dia tidak menyangka layanan rumah sakit itu berdampak. Meski begitu, dia memakluminya.

"Yang penting istilahnya kalau ada pasien gawat darurat langsung ditangani. Kita kan enggak darurat banget. Cuma periksa kehamilan," katanya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kepala Humas RSUD Budhi Asih Dr Monang Sirait, MARS mengatakan bahwa memang pemeriksaan kehamilan yang termasuk dalam pasien rawat jalan belum dapat dilakukan pada hari ini. Namun, untuk pasien gawat darurat tetap berjalan.

"Untuk rawat jalan memang semua poli, kecuali yang gawat darurat," kata Monang pada saat ditemui di kantornya.

Monang melanjutkan, ada 20 dokter spesialis dan umum yang bekerja di sana ikut dalam aksi solidaritas menuju Mahkamah Agung pada pukul 09.00 tadi. Total, ada 50 dokter yang bekerja di rumah sakit itu ikut dalam aksi solidaritas tersebut.

"Sebelum mereka berangkat, sejak pagi sudah mengerjakan tugas pasiennya dan melakukan pemeriksaan terhadap semua yang rawat inap. Di UGD juga kita stand by lima orang," ujar Monang.

Terhitung hari ini, kata dia, ada lebih kurang 200 pasien yang dirawat di rumah sakit berkapasitas 326 tempat tidur itu. Dari informasi Kementerian Kesehatan, lanjutnya, aksi solidaritas tersebut tidak berlangsung lama. Ia menjamin pelayanan gawat darurat di RSUD Budhi Asih tetap berjalanan. Sebab, para perawat di rumah sakit itu juga disiapkan untuk melayani pasien.

"Masyarakat yang berobat juga sudah tahu dari media seperti televisi dan koran. Jadi banyak yang enggak datang hari ini. Terlebih pasien yang memang biasa datang di sini. Dan, besok juga sudah berjalan seperti biasa kembali," jelas Monang.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Hindari Masa Kedaluwarsa, Pemkot Bekasi Segera Gunakan 433.000 Dosis Vaksin Covid-19 yang Tersisa

Hindari Masa Kedaluwarsa, Pemkot Bekasi Segera Gunakan 433.000 Dosis Vaksin Covid-19 yang Tersisa

Megapolitan
Ini Penjelasan Anies Soal Penyebab Molornya Proyek ITF

Ini Penjelasan Anies Soal Penyebab Molornya Proyek ITF

Megapolitan
Kantor Pinjol Ilegal di Cengkareng Sudah Jaring 5.700 Nasabah dari 17 Aplikasi

Kantor Pinjol Ilegal di Cengkareng Sudah Jaring 5.700 Nasabah dari 17 Aplikasi

Megapolitan
Bongkar Jaringan Peredaran Ganja Jakarta-Jawa Barat, Polisi Ungkap Modus Klasik

Bongkar Jaringan Peredaran Ganja Jakarta-Jawa Barat, Polisi Ungkap Modus Klasik

Megapolitan
DKI Jakarta PPKM Level 2, Anak di Bawah Usia 12 Tahun Belum Boleh Masuk Ancol

DKI Jakarta PPKM Level 2, Anak di Bawah Usia 12 Tahun Belum Boleh Masuk Ancol

Megapolitan
PPKM Jakarta Turun Level 2, Ini Aturan Masuk Tempat Wisata

PPKM Jakarta Turun Level 2, Ini Aturan Masuk Tempat Wisata

Megapolitan
Kasus Penipuan Rekrutmen PNS oleh Anak Penyanyi ND Naik ke Tingkat Penyidikan

Kasus Penipuan Rekrutmen PNS oleh Anak Penyanyi ND Naik ke Tingkat Penyidikan

Megapolitan
Tangsel PPKM Level 2, Sejumlah Aturan Pembatasan Kegiatan Disesuaikan

Tangsel PPKM Level 2, Sejumlah Aturan Pembatasan Kegiatan Disesuaikan

Megapolitan
Jakarta PPKM Level 2, Anies: Kita Ingin Kondisi Ini Bisa Terjaga Terus

Jakarta PPKM Level 2, Anies: Kita Ingin Kondisi Ini Bisa Terjaga Terus

Megapolitan
Polisi Tangkap Tiga Pengedar, Barang Bukti 15 Kilogram Ganja Diamankan

Polisi Tangkap Tiga Pengedar, Barang Bukti 15 Kilogram Ganja Diamankan

Megapolitan
Pemkot Bekasi Telah Salurkan 173.340 Dosis Vaksin Covid-19 ke 5 Kabupaten di Jabar

Pemkot Bekasi Telah Salurkan 173.340 Dosis Vaksin Covid-19 ke 5 Kabupaten di Jabar

Megapolitan
Jakarta PPKM Level 2, Tempat Permainan Anak di Blok M Plaza Mulai Beroperasi

Jakarta PPKM Level 2, Tempat Permainan Anak di Blok M Plaza Mulai Beroperasi

Megapolitan
Paksa Periksa Handphone Orang Saat Bertugas, Aipda Ambarita Diperiksa Propam

Paksa Periksa Handphone Orang Saat Bertugas, Aipda Ambarita Diperiksa Propam

Megapolitan
Hendak Berbelanja, Remaja 14 Tahun Malah Disekap dan Dilecehkan Penjaga Warung di Pamulang

Hendak Berbelanja, Remaja 14 Tahun Malah Disekap dan Dilecehkan Penjaga Warung di Pamulang

Megapolitan
Namanya Viral karena Periksa Paksa Ponsel Warga, Aipda Ambarita Dimutasi

Namanya Viral karena Periksa Paksa Ponsel Warga, Aipda Ambarita Dimutasi

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.