Mereka Menjaring "Ranjau" Ibu Kota

Kompas.com - 07/01/2014, 07:34 WIB
Seorang pengendara tengah memeriksa kendaraannya yang terkena ranjau paku di depan Istana Negara, Jakarta, Selasa (9/4/2013). KOMPAS.com/Sandro GatraSeorang pengendara tengah memeriksa kendaraannya yang terkena ranjau paku di depan Istana Negara, Jakarta, Selasa (9/4/2013).
EditorAna Shofiana Syatiri

JAKARTA, KOMPAS.com —Mauzi (47), pekerja toko di kawasan Roxy, Jakarta, pekan lalu harus mengganti ban dalam sepeda motornya karena tertusuk paku. Paku 2 cm menggemboskan ban motornya ketika ia melintas tak jauh dari lapak tambal ban di sisi jalan. Mauzi hanyalah salah satu dari sekian banyak pengendara yang jadi korban ranjau-ranjau tajam itu.

Untunglah, di tengah arus hidup individualistis, sekelompok orang terpanggil untuk menyapu ranjau tersebut. Mereka adalah warga yang bekerja sukarela mengumpulkan paku yang diduga ditebar oleh kelompok tertentu dengan tujuan meraup keuntungan. Mereka tergabung dalam Sapu Bersih Ranjau (Saber) dan Semut Orange Community (SOC).

Saber, misalnya, dua tahun terakhir rata-rata mengumpulkan 2,74 kilogram paku per hari. Adapun SOC telah mengumpulkan 650 kilogram paku sejak Juni 2012.

Anehnya, umumnya paku yang ditebar di jalanan itu dikumpulkan dari ruas jalan yang sama, termasuk di sekitar kawasan Istana Negara. Ruas paling rawan adalah Jalan Veteran, Merdeka Utara, Merdeka Barat, Jalan Majapahit, Harmoni, Jalan Hasyim Ashari, Roxy, dan Cideng. Ruas lain yang juga rawan tebaran ranjau paku adalah Jalan Gatot Subroto dan persimpangan Semanggi, Galur, hingga terowongan Senen.

Paku beragam bentuk dan ukuran panjang 2 cm hingga 5 cm itu diduga ditebar pada pagi atau sore hari. Biasanya paku ukuran kecil ditebar lebih kurang 700 meter dari lokasi tambal ban. Semakin dekat, panjang paku yang ditebar semakin panjang.

”Supaya anginnya segera habis,” kata Abdul Rohim, anggota Komunitas Saber.

Ketua Semut Orange Community Johan P Tuilan, Senin (6/1/2014), mengatakan, pengendara tidak hanya dirugikan karena ban bocor, tetapi juga berakibat kecelakaan lalu lintas.

Menurut Abdul Rohim, jika terkena roda depan, sepeda motor bisa oleng dan menyebabkan pengendara terjatuh. ”Kalau di belakang ada kendaraan lain, tentu sangat fatal,” kata Abdul.

Pada 27 Desember 2013, para relawan itu memergoki Ali Usman atau Bejo yang diduga menjadi penebar paku. Pria itu ditangkap tak jauh dari Stasiun Gambir, Jakarta Pusat.

Berdasarkan keterangan yang dihimpun, Bejo adalah otak ranjau paku di kawasan Roxy. Dia memiliki tiga lapak tambal ban di kawasan itu. ”Sekarang Jalan Hasyim Ashari relatif aman dari ranjau meski belum steril,” ujarnya.

Rata-rata setiap hari ada 50 sepeda motor terkena jebakan itu. Korban pun kerap terpaksa merogoh kocek hingga Rp 50.000 untuk mengganti roda dalam yang robek. Menurut Abdul Rohim, hal itu sangat menguntungkan tukang tambal ban yang hanya mengeluarkan Rp 10.000 untuk modal ban dalam.

Halaman:
Menangkan Samsung A71 dan Voucher Belanja. Ikuti Kuis Hoaks / Fakta dan kumpulkan poinnya. *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Maling Motor di Ciputat Tewas Setelah Dikeroyok Warga

Maling Motor di Ciputat Tewas Setelah Dikeroyok Warga

Megapolitan
Ombudsman Buka Kemungkinan Periksa Anies dan Pratikno soal Dugaan Maladministrasi Formula E di Monas

Ombudsman Buka Kemungkinan Periksa Anies dan Pratikno soal Dugaan Maladministrasi Formula E di Monas

Megapolitan
Dipergoki Saat Beraksi, Maling Motor di Ciputat Babak Belur Dihakimi Warga

Dipergoki Saat Beraksi, Maling Motor di Ciputat Babak Belur Dihakimi Warga

Megapolitan
Pengelola Incar Guru Non-PNS untuk Isi Rusun DP Rp 0 Klapa Village

Pengelola Incar Guru Non-PNS untuk Isi Rusun DP Rp 0 Klapa Village

Megapolitan
Dari 780, Baru 90 Unit di Rusun DP Rp 0 Klapa Village yang Sudah Dihuni

Dari 780, Baru 90 Unit di Rusun DP Rp 0 Klapa Village yang Sudah Dihuni

Megapolitan
Buntut Larangan Arab Saudi, Kerugian Penyelenggara Umrah Diperkirakan Capai Rp 2,5 Triliun

Buntut Larangan Arab Saudi, Kerugian Penyelenggara Umrah Diperkirakan Capai Rp 2,5 Triliun

Megapolitan
Pemkot Bekasi Butuh 500 Pompa untuk Tangani Banjir

Pemkot Bekasi Butuh 500 Pompa untuk Tangani Banjir

Megapolitan
Anies Minta Dinkes DKI Sediakan Alat Lengkap untuk Hadapi Corona

Anies Minta Dinkes DKI Sediakan Alat Lengkap untuk Hadapi Corona

Megapolitan
Keluarkan Instruksi, Anies Minta Sosialisasi Corona Disebar ke Sekolah hingga Tempat Wisata

Keluarkan Instruksi, Anies Minta Sosialisasi Corona Disebar ke Sekolah hingga Tempat Wisata

Megapolitan
Anies Keluarkan Ingub Waspada Corona untuk Jajaran Pemprov dan Masyarakat

Anies Keluarkan Ingub Waspada Corona untuk Jajaran Pemprov dan Masyarakat

Megapolitan
Akibat Banjir, 495 Jalan di Jakarta Rusan dan 3.290 Titik Berlubang

Akibat Banjir, 495 Jalan di Jakarta Rusan dan 3.290 Titik Berlubang

Megapolitan
Viral Penumpang Tag Kursi KRL, PT KCI Ingatkan Pentingnya Etika dan Toleransi di Kereta

Viral Penumpang Tag Kursi KRL, PT KCI Ingatkan Pentingnya Etika dan Toleransi di Kereta

Megapolitan
Mahasiswi UI Dilecehkan di Lingkungan Kampus, Ini Respons Rektor Ari Kuncoro

Mahasiswi UI Dilecehkan di Lingkungan Kampus, Ini Respons Rektor Ari Kuncoro

Megapolitan
Jasad Bayi yang Ditemukan di Kali Tambora Diduga Korban Tenggelam

Jasad Bayi yang Ditemukan di Kali Tambora Diduga Korban Tenggelam

Megapolitan
Cegah Banjir Lagi, Mesin Pompa di Underpass Tol JORR Kalimalang Akan Ditambah

Cegah Banjir Lagi, Mesin Pompa di Underpass Tol JORR Kalimalang Akan Ditambah

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X