Jalan Jakarta Baru Dipelihara Saat Sudah Rusak

Kompas.com - 28/01/2014, 14:42 WIB
Pekerja menambal lubang besar di Jalan Puri Lingkar Luar, Puri Kembangan, Jakarta Barat, Senin (27/1). Lubang besar di jalan yang rusak itu untuk sementara ditutup dengan paving block agar kendaraan bisa melintas. KOMPAS/LASTI KURNIAPekerja menambal lubang besar di Jalan Puri Lingkar Luar, Puri Kembangan, Jakarta Barat, Senin (27/1). Lubang besar di jalan yang rusak itu untuk sementara ditutup dengan paving block agar kendaraan bisa melintas.
|
EditorAna Shofiana Syatiri

JAKARTA, KOMPAS.com — Pakar konstruksi jalan Universitas Indonesia (UI), Heddy R Agah, mengungkapkan, sedianya jalan di Jakarta memiliki usia ketahanan 10-15 tahun. Usia selama itu dapat dipertahankan apabila Pemprov DKI Jakarta, dalam hal ini Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta, memelihara jalan secara rutin.

"Sayangnya, pemeliharaan jalan di Jakarta baru dilakukan kalau sudah benar-benar rusak," kata Heddy, kepada wartawan, Jakarta, Selasa (28/1/2014).

Perawatan dan pemeliharaan itu dapat membuat usia jalan bertambah beberapa tahun. Banyaknya jalan berlubang dan rusak di hampir seluruh ruas Ibu Kota disebabkan banjir yang merendam selama kurang lebih dua minggu.

Heddy menjelaskan, cepatnya jalan di Jakarta mengalami kerusakan pascabanjir disebabkan ada spesifikasi bahan dasar dan teknis kerja yang belum terpenuhi dengan baik, seperti pemilihan campuran bahan dasar, pemadatan, dan penyediaan rongga di dalam lapisan jalan.

Untuk ruas jalan, harus dipastikan kepadatannya benar-benar mantap sehingga ketika kendaraan bermotor melintasi ruas jalan secara terus-menerus, jalan tidak mudah terkelupas.

Agar usia jalan tahan lama, lebih baik Pemprov DKI Jakarta membeton jalan kemudian dilapisi kembali dengan menggunakan aspal dan hotmix. Di dalam konstruksi bahan hotmix dan aspal, kata dia, juga perlu dibuat semacam rongga sekitar 3 persen.

Tujuannya, ketika musim panas, campuran batu kerikil dan hotmix memuai dan mengalami kepadatan. Bila rongga tidak dibuat, itu akan menyebabkan gelombang kecil di permukaan jalan. Hal tersebut yang mempermudah pengikisan permukaan jalan.

"Jalan mudah rusak kalau terendam air lebih dari 4 jam walaupun tingginya cuma 5 cm. Kalau terendam cukup lama akan mempercepat usia jalan," kata Heddy.

Selama ini, ketinggian genangan air di Jakarta mencapai 50 cm. Apabila genangan setinggi itu, air akan mudah meresap ke dalam konstruksi jalan dan membuat usia jalan tidak tahan lama.

Maka dari itu, Heddy menjelaskan, penyebab rendahnya kualitas jalan Jakarta dibandingkan negara lain ialah jalan di Jakarta tidak menggunakan spesifikasi konstruksi yang memadai dan cara pengonstruksian yang kurang sempurna.

"Tidak bisa digeneralisasi penyebab jalan rusak ini. Perlu dilihat satu per satu ruas jalannya," ujar dia.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jelang Pilkada 2020, Rumah Lawan Covid-19 Mulai Data Pasien Ber-KTP Tangsel

Jelang Pilkada 2020, Rumah Lawan Covid-19 Mulai Data Pasien Ber-KTP Tangsel

Megapolitan
Blok Makam Khusus Jenazah Covid-19 Muslim di di TPU Pondok Ranggon Penuh, Berikut Alternatifnya

Blok Makam Khusus Jenazah Covid-19 Muslim di di TPU Pondok Ranggon Penuh, Berikut Alternatifnya

Megapolitan
Saat Reuni 212, Rizieq Shihab Minta Maaf Telah Timbulkan Kerumunan

Saat Reuni 212, Rizieq Shihab Minta Maaf Telah Timbulkan Kerumunan

Megapolitan
Ridwan Kamil: Situ di Depok Jarang Termanfaatkan Maksimal

Ridwan Kamil: Situ di Depok Jarang Termanfaatkan Maksimal

Megapolitan
Pemilik Rumah di Kamar, Pencuri Nekat Ambil 2 Ponsel di Pejaten Barat

Pemilik Rumah di Kamar, Pencuri Nekat Ambil 2 Ponsel di Pejaten Barat

Megapolitan
Serang Lawan dengan Air Keras dan Celurit, Empat Pemuda Geng Garjok di Kedoya Ditangkap

Serang Lawan dengan Air Keras dan Celurit, Empat Pemuda Geng Garjok di Kedoya Ditangkap

Megapolitan
Ini Rekayasa Lalu Lintas Selama Uji Coba Underpass Senen Extension

Ini Rekayasa Lalu Lintas Selama Uji Coba Underpass Senen Extension

Megapolitan
Bayi Meninggal Saat Dibawa Mengemis di Kota Bekasi, Dinsos: Ibunya ODGJ

Bayi Meninggal Saat Dibawa Mengemis di Kota Bekasi, Dinsos: Ibunya ODGJ

Megapolitan
TPU Pondok Ranggon Hampir Penuh, Sudah 4.550 Jenazah Covid-19 Dimakamkan Selama Pandemi

TPU Pondok Ranggon Hampir Penuh, Sudah 4.550 Jenazah Covid-19 Dimakamkan Selama Pandemi

Megapolitan
Anggota DPRD DKI Jakarta Ngotot Naik Gaji di Masa Pandemi, Warga: Luar Biasa Ya

Anggota DPRD DKI Jakarta Ngotot Naik Gaji di Masa Pandemi, Warga: Luar Biasa Ya

Megapolitan
Antisipasi Banjir, 5 Lokasi Pengungsian Disiapkan di Karet Tengsin

Antisipasi Banjir, 5 Lokasi Pengungsian Disiapkan di Karet Tengsin

Megapolitan
Foto Viral Surat Hasil Swab Rizieq Positif Covid-19, MER-C Bantah Mengeluarkan

Foto Viral Surat Hasil Swab Rizieq Positif Covid-19, MER-C Bantah Mengeluarkan

Megapolitan
Diusulkan Naik, Ini Bedanya Besaran Gaji Anggota DPRD DKI Tahun 2020 dengan 2021

Diusulkan Naik, Ini Bedanya Besaran Gaji Anggota DPRD DKI Tahun 2020 dengan 2021

Megapolitan
Isolasi Mandiri di Rumah Dinas, Anies Ajak Warga Terapkan Protokol Kesehatan

Isolasi Mandiri di Rumah Dinas, Anies Ajak Warga Terapkan Protokol Kesehatan

Megapolitan
Cerita Anies Jalani Isolasi: Semua Harus Mandiri, Termasuk Live Instagram..

Cerita Anies Jalani Isolasi: Semua Harus Mandiri, Termasuk Live Instagram..

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X