JAKARTA, KOMPAS.com
 — Tak mudah mengungkap pembunuhan yang menimpa desainer tempat bermain, Feby Lorita (33). Pelakunya, Asido Parlindungan Simangunsong alias Edo (22), diringkus polisi pada Minggu (2/2/2014). Ia sebelumnya kerap memberikan keterangan berbeda. Namun, berkat alat
global positioning system (GPS) yang terpasang di mobil Nissan March F 1356 KA, tempat ditemukannya jasad Feby, dapat ditemukan tempat terjadinya pembunuhan.

Kepala Polres Jakarta Timur Komisaris Besar Mulyadi Kaharni, Senin (3/2/2014), mengungkapkan, berkat GPS yang terpasang di mobil tempat jasad korban ditemukan, penyidik dapat menelusuri tindakan yang dilakukan terhadap Feby selama hampir sepekan.

Dari penelusuran itu terungkap, Feby dibunuh pada Rabu, 22 Januari. Pembunuhan itu terjadi enam hari sebelum jasad Feby ditemukan di Nissan March yang diparkir di Jalan Pondok Kopi Raya, samping Tempat Pemakaman Umum Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Selasa, 28 Januari. Sesuai keterangan warga, mobil itu diparkir di samping TPU Pondok Kelapa sejak Sabtu, 25 Januari, pukul 04.00.


Kunci terungkapnya pembunuhan ini, lanjut Mulyadi, diperoleh dari petugas keamanan di Apartemen Cibubur Comfort, tempat tinggal Feby, yakni berinisial Sl. Dari Sl diperoleh keterangan, pada Sabtu, 25 Januari, dini hari pula, Sl menyaksikan Edo yang juga tinggal di Apartemen Cibubur Comfort membawa aki mobil berwarna putih. ”Pada hari itu pula, Edo berpamitan kepada Sl keluar dari apartemen untuk pergi ke luar kota,” kata Mulyadi.

Sebelumnya, nama Feby diperoleh dari identitas kepemilikan mobil Nissan March. Dari mobil itu pula, penyidik menelusuri keberadaan Feby yang diketahui sempat berpindah tempat tinggal hingga tiga kali, yakni dari Perumahan Kota Wisata ke apartemen di kawasan Cibubur, dan terakhir pindah ke Apartemen Cibubur Comfort.

Dari penelusuran penyidik, aki warna putih yang dibawa Edo itu merupakan jenis aki yang identik dengan aki yang digunakan di mobil Nissan March. Sementara aki di mobil tempat jasad Feby ditemukan hilang.

”Setelah diperiksa, aki itu dibawa Edo untuk mengganti aki Daihatsu Xenia milik kakaknya,” kata Mulyadi.

Dari petunjuk itu, penyidik dapat membuka tabir pembunuhan yang dilakukan Edo yang dikenal sebagai pengangguran oleh penghuni di Apartemen Cibubur Comfort. Di apartemen itu, Edo tinggal bersama kekasihnya.

Seorang penghuni apartemen, Dedi (25), mengatakan, sejak Feby masuk apartemen tiga bulan sebelum pembunuhan, Edo terpancing untuk menaklukkan Feby. Tantangan itu dipenuhi Edo beberapa hari kemudian. Sebagai buktinya, Edo berdiri di balkon unit tempat tinggal Feby. ”Saat itu, saya hanya bilang, menang Edo,” kata Dedi.

Sejak berkenalan dengan Edo, Feby kerap menyewakan mobilnya kepada kerabat Edo.

Hingga Selasa, 21 Januari, sehari sebelum pembunuhan, Edo dan Feby berjalan bersama dengan menumpangi mobil Nissan March milik Feby itu. Di Cawang, Edo mengaku mengutarakan cintanya kepada Feby. Namun, Edo malah mendapat makian dari Feby yang kemudian memancing amarahnya. Edo memukul dan menonjok Feby sehingga satu gigi Feby patah.

Edo pun merayu Feby agar tak melaporkan kejadian itu ke polisi. Agar Feby menuruti kemauannya, Edo mengajak Feby jalan-jalan hingga ke daerah Puncak, Bogor. Karena sudah larut malam, Edo membawa Feby menginap di rumah kakaknya di daerah Bojong Gede.

Di rumah kakaknya itu, Edo menghabisi nyawa Feby lantaran Feby ingin ke kamar mandi untuk buang air kecil. Edo menduga, Feby akan melarikan diri. Ia mengejar Feby sehingga terjadi pertengkaran di antara keduanya. Puncaknya, Edo mencekik Feby dan menusuk leher ibu satu anak itu dengan pisau dapur.

Jasad Feby kemudian disimpan di bagasi Nissan March. Tiga hari lamanya, Edo menyimpan jasad Feby di dalam mobil itu sambil mencari tempat sepi untuk meninggalkan mobil itu. Hingga akhirnya, mobil itu ditinggalkan di samping TPU Pondok Kelapa dengan bantuan Daniel (28), saudara Edo. (MDN)