TANGERANG SELATAN, KOMPAS.com
Selama dua bulan terakhir, hampir tidak ada aktivitas pembangunan di Kota Tangerang Selatan. Proyek fisik mandek sepanjang Januari-Februari 2014, di antaranya perbaikan dan pembangunan jalan. Proyek perluasan tempat pembuangan akhir sampah pun setali tiga uang.

”Pembangunan terkendala karena hingga saat ini APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) belum bisa dicairkan. Kami masih menunggu persetujuan atas APBD dari Provinsi Banten,” ujar Wali Kota Tangerang Selatan (Tangsel) Airin Rachmi Diany di sela-sela rapat pimpinan rutin, Rabu (19/2/2014).

Airin mengelak mengaitkan situasi ini dengan penangkapan suaminya, Tubagus Chaeri Wardana, oleh Komisi Pemberantasan Korupsi dua bulan lalu.

Menurut Airin, situsi ini lebih karena besaran APBD Tangsel tahun 2014 yang mencapai Rp 2,6 triliun baru disetujui DPRD awal Februari lalu. Kondisi itu berimbas pada aneka proyek pembangunan fisik kota tersebut.

Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Tangsel Retno Prawati mengatakan, perbaikan jalan rusak di Jalan Ciater, yang menjadi proyek lanjutan dari tahun 2013 ke tahun 2014, hingga kini belum dikerjakan.

”Perbaikan jalan rusak di ruas tersebut masih terkendala anggaran karena dana belum bisa dicairkan. Setelah mendapat persetujuan dari provinsi, perbaikan jalan langsung dikerjakan,” kata Retno.

Jalan rusak

Salah satu ruas jalan yang parah adalah Jalan RE Martadinata. Tak jauh dari perempatan Gaplek, Pamulang, jalan yang menghubungkan Pamulang, Tangsel, dengan Parung, Bogor, itu tidak hanya sempit, tetapi juga terkepulas di sebagian besar aspalnya.

Kondisi itu tidak hanya dikeluhkan pengendara sepeda motor dan mobil. Sejumlah sopir bus antarkota antarprovinsi yang memanfaatkan Terminal Pondok Cabe juga mengeluhkan kondisi tersebut yang kerap menghambat kelancaran perjalanan mereka.

Trotoar di samping jalan itu pun rusak parah. Bahkan, sebagian penutup trotoar itu runtuh sehingga tidak dapat dilalui pejalan kaki. Setiap kali hujan deras turun, air dari parit di bawah trotoar itu meluber ke jalan dan menyebabkan lapisan aspal terkelupas.

Selain jalan utama, sejumlah titik, seperti ruas Jalan H Maung yang merupakan jalan lingkungan, juga dalam kondisi memprihatinkan. Ujung Jalan H Maung yang bertemu dengan ruas Jalan Otista tidak hanya terkelupas di bagian aspal. Fondasi jalan itu pun mulai tergerus. Tidak adanya sistem drainase yang baik menyebabkan ruas tersebut kerap tergenang ketika hujan.