Kompas.com - 20/02/2014, 17:00 WIB
Puluhan warga Kampung Pulo menengok rumah susun Komarudin yang rencananya akan menjadi tempat relokasi mereka. Rabu (12/2/2014). Kompas.com/Robertus BelarminusPuluhan warga Kampung Pulo menengok rumah susun Komarudin yang rencananya akan menjadi tempat relokasi mereka. Rabu (12/2/2014).
|
EditorLaksono Hari Wiwoho


JAKARTA, KOMPAS.com
- Warga Kampung Pulo yang terdampak program normalisasi Sungai Ciliwung menolak menempati Rumah Susun Sederhana Sewa Komarudin di Cakung, Jakarta Timur. Mereka menginginkan ada kepastian mengenai ganti rugi rumah mereka sebelum direlokasi ke rusun.

Camat Jatinegara Syofian Taher mengatakan, sebanyak 91 warga Kampung Pulo sudah mendaftar untuk direlokasi pindah ke Rusunawa Komarudin. Hanya 62 orang warga yang terverifikasi memiliki rumah di Kampung Pulo. Dari jumlah tersebut, hampir separuhnya menolak pindah ke rusun.

"Yang menolak kurang lebih 50 persen, tapi jumlah pastinya saya belum jelas. Mereka menolak karena merasa menunggu kepastian ganti rugi berapa," kata Syofian kepada Kompas.com, Kamis (20/2/2014).

Selain itu, warga lebih suka jika dipindahkan ke Rusun Cipinang Besar Selatan, bukan Rusun Komarudin. Warga beralasan Rusun Komarudin terlalu jauh dari tempat tinggal sekarang.

Syofian menyebutkan, warga yang telah setuju untuk pindah ke Rusun Komarudin juga menanti kejelasan soal ganti rugi. Syofian tidak dapat berkomentar soal ganti rugi karena hal itu merupakan kewenangan Panitia Pembebasan Tanah (P2T).

Secara terpisah, Kepala Unit Pengelola Rusun DKI Wilayah III Jefyodya Julian menyatakan, warga Kampung Pulo tidak mungkin direlokasi ke Rusun Cibesel. Rusun tersebut sudah diperuntukan bagi warga Taman Burung, Pluit, Jakarta Utara. Sekarang ini sudah ada undian bagi warga Taman Burung untuk menempati rusun tersebut.

Ia menyebutkan, awalnya rusun itu memang diplot untuk relokasi warga Kampung Pulo. Namun, karena warga tidak kunjung bersedia direlokasi, rusun tersebut akhirnya menjadi jatah warga Taman Burung yang sudah mau pindah.

"Setelah banjir, mereka baru mau. Jadi tetap di Komarudin, datanya lagi diklarifikasi pihak kecamatan, jadi warga silakan masuk," ujarnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kebakaran Hanguskan 26 Rumah di Tambora, Diduga akibat Korsleting

Kebakaran Hanguskan 26 Rumah di Tambora, Diduga akibat Korsleting

Megapolitan
UPDATE 25 Januari: Kasus Baru Covid-19 di Jakarta Tembus 2.190, 9 Pasien Meninggal

UPDATE 25 Januari: Kasus Baru Covid-19 di Jakarta Tembus 2.190, 9 Pasien Meninggal

Megapolitan
Dukcapil Akan Layani Perbaikan Dokumen Kependudukan bagi Warga Terdampak Banjir di Tegal Alur

Dukcapil Akan Layani Perbaikan Dokumen Kependudukan bagi Warga Terdampak Banjir di Tegal Alur

Megapolitan
Butuh Uang Usai Kena PHK, Pria di Ciputat Jual Kulkas Ibunya lalu Dilaporkan ke Polisi, Kini Jadi Terdakwa

Butuh Uang Usai Kena PHK, Pria di Ciputat Jual Kulkas Ibunya lalu Dilaporkan ke Polisi, Kini Jadi Terdakwa

Megapolitan
Pemkot Siapkan 60 RPTRA di Jakarta Selatan sebagai Sentra Vaksinasi 'Booster'

Pemkot Siapkan 60 RPTRA di Jakarta Selatan sebagai Sentra Vaksinasi "Booster"

Megapolitan
Disdamkar: 146 kebakaran terjadi di Kabupaten Bekasi sepanjang 2021

Disdamkar: 146 kebakaran terjadi di Kabupaten Bekasi sepanjang 2021

Megapolitan
Polisi Kejar Pemasok Sabu yang Diedarkan di Kawasan Kepulauan Seribu

Polisi Kejar Pemasok Sabu yang Diedarkan di Kawasan Kepulauan Seribu

Megapolitan
Advokat yang Memaki Ibu Korban Kekerasan Seksual di Depok Dinilai Langgar Kode Etik

Advokat yang Memaki Ibu Korban Kekerasan Seksual di Depok Dinilai Langgar Kode Etik

Megapolitan
Kronologi Pembongkaran Trotoar di Cilandak, Pemkot Jaksel Sebut PNS Tak Terlibat

Kronologi Pembongkaran Trotoar di Cilandak, Pemkot Jaksel Sebut PNS Tak Terlibat

Megapolitan
Pihak Keluarga Belum Terima Pemberitahuan Perkembangan Penyidikan Kakek Tewas Dikeroyok di Cakung

Pihak Keluarga Belum Terima Pemberitahuan Perkembangan Penyidikan Kakek Tewas Dikeroyok di Cakung

Megapolitan
Gudang di Tambora Kebakaran, Petugas Damkar Masih Berjibaku Padamkan Api

Gudang di Tambora Kebakaran, Petugas Damkar Masih Berjibaku Padamkan Api

Megapolitan
Sidang Kebakaran Lapas Tangerang, Kuasa Hukum Terdakwa Belum Tentu Hadirkan Saksi Meringankan

Sidang Kebakaran Lapas Tangerang, Kuasa Hukum Terdakwa Belum Tentu Hadirkan Saksi Meringankan

Megapolitan
Kans Kemenangan Anies Baswedan Dinilai Lebih Tinggi di Pilkada DKI Dibandingkan Pilpres

Kans Kemenangan Anies Baswedan Dinilai Lebih Tinggi di Pilkada DKI Dibandingkan Pilpres

Megapolitan
4 Terdakwa Kasus Kebakaran Lapas Tangerang Tak Ajukan Eksepsi, Ini Alasannya

4 Terdakwa Kasus Kebakaran Lapas Tangerang Tak Ajukan Eksepsi, Ini Alasannya

Megapolitan
Tak Kunjung Dibuatkan JPO, Warga Cilenggang Protes Bentangkan Spanduk

Tak Kunjung Dibuatkan JPO, Warga Cilenggang Protes Bentangkan Spanduk

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.